22 September 2005

DAHAN YANG PATAH

Image hosted by Photobucket.com

Apel Chelan sudah amat terkenal, tidak saja di Amerika tapi juga di seluruh dunia. Apel Chelan terkenal manis dan segar. Tapi ternyata nasib para petani apel Chelan tidak semanis dan sesegar produksinya. Jumlah petani apel di Chelan sejak 20 tahun lalu terus merosot. Bandingkan saja, di tahun 80-an masih ada sekitar 700 petani di sekitar danau Chelan, tapi awal tahun 2000 tinggal 130-an petani yang masih bertahan. Alasannya bermacam-macam, mulai dari pajak lahan yang terus meningkat, harga apel yang fluktuatif, pupuk dan obat obatan dan persaingan dengan apel dari luar negeri.

Persaingan membuat kehidupan semakin berat bagi petani. Ape lapel dari Negara seperti Chili, China dan korea membanjiri pasar amerika. Apel impor itu punya beberapa keunggulan; selain harganya murah, apel apel itu juga ada sepanjang musim. Hal itu membuat harga apel menjadi murah. Dengan biaya produksi yang mahal; terutama honor pekerja, biaya pupuk dan transportasi yang lebih tinggi di Amerika, membuat para petani Chelan sulit bersaing. Bandingkan saja untuk bekerja seharian, pekerja amerika dibayar antara 60 – 80 dollar; sedangkan di China mungkin hanya 10 – 30 dollar. Padahal untuk memanen lahan seluas 100 acre dibutuhkan paling sedikit 15 pekerja.

Untuk menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran, para petani dipaksa melakukan pendekatan industri pada tanamannya. Semakin banyak pupuk dan pestisida, semakin mengandalkan mesin, mengurangi pekerja, membutuhkan tanah semakin luas. Petani juga terpaksa melakukan penyimpanan berbulan bulan, untuk mempertahankan apel tetap ada setiap waktu. Dan mereka lalu terjebak pada siklus industriitu.

10 tahun lalu, petani berlahan 5 acre bangkrut. Lima tahun kemudian para petani dengan tanah dibawah 20 acre gulung tikar. Sekarang petani dengan tanah 100 acre mulai terengah engah. Petani kecil yang dekat dengan tetangganya mulai menghilang digantikan perusahaan raksasa yang tak peduli pada masyarakat sekitar. Bukan Cuma petani yang menghilang, suasana daerah pedesaan Amerika juga ikut lenyap. Keakraban, budaya dan kebiasaan urban Amerika musnah.

Belum lagi hilangnya kebiasaan lama membuat selai dan pai apel yang tahan lama. Karena diimpor dari luar negeri dengan iklim berbeda, apel ada sepanjang tahun. Harganya jadi lebih murah, dan masyarakat tidak lagi menghargai apel setiap musimnya. Ini membuat perusahaan raksasa terus memproduksi apel secara besar-besaran dan menyimpannya diruangan khusus yang membuat apel tahan beberapa bulan.

Image hosted by Photobucket.com

Guy Evans adalah anak petani apel tradisional. Setelah ayahnya menerima surat tunggakan hutang dari bank, Guy sadar ada yang tidak beres. Lulusan MIT ini kemudian mulai membuat sebuah film documenter tentang para petani apel di chelan. Ia menemukan para petani kecil mati matian bertahan hidup, bersaing dengan perusahaan bermodal raksasa. Dan satu persatu mereka bangkrut.

Tapi dalam perjalanan ia menemukan sesuatu yang lain. Ternyata ada beberapa petani yang bias bertahan. Pendekatan baru dalam pertanian yang mungkin bisa menyelamatkan nasib petani di seluruh Amerika. Beberapa petani kecil membuka took buah disisi ladangnya. Disana mereka menjual buah buah segar -hanya yang segar- dari ladangnya. Tentunya buah buahan yang tersedia sangat tergantung musim. Para petani itu juga menjual hasil olahan buah segar yang dapat bertahan lama – seperti selai apel, asinan, dan manisan buah- selain itu juga olahan khas untuk dimakan segera –seperti pai apel dan roti-. Petani petani itu membentuk ikatan dengan tetangga-tetangga dan pembelinya. Dengan komitmen selalu menyediakan yang segar dan khas, mereka menjaga konsumennya tidak lari, walaupun harus membayar sedikit mahal. Dengan cara itu mereka menjaga kelangsungan hidup pertanian dan pekerja-pekerja didalamnya.

Kegiatan ini “memberi wajah” pada setiap buah yang dibeli. Setiap butir berharga karena berarti juga memberi makan tetangga dan kerabat mereka. (mereka hidup di kota kecil yang relative saling mengenal) pendekatan ini juga meningkatkan kontak social dan komunikasi masyarakat. Membuat warga lebih dekat, saling berkunjung, bertukar resep pai, dan selalu makan buah segar. Dengan kata lain, membuat kultur dan budaya terus berkembang.

Dengan pertanian sderhana seperti itu, petani bias menjaga jarak tanam sehingga kesuburan lahan tetap terjaga, mereka juga bias hidup walau dengan lahan tak terlalu besar. Dan lahan mereka akan menghidupilebih banyak pekerja…


Guy memutuskan untuk mendukung dan mempromosikan pendekatan itu. Dua tahun Guy dan Jamie howell temannya memulai “Broken Limbs”, dokumentasi yang mempopulerkan pendekatan pertanian jenis baru. Mati matian Guy berjuang mengenalkan “sustainable farming” pada masyarakat. Dimulai dari tetangga-tetangganya, dengan pendekatan dari pintu ke pintu; Menyebarkan selebaran, dating ke pesta-pesta kebun, berbicara dalam arisan tetangga, dan lainnya. Dukungan pun mengalir, hingga mereka mampu menyelesaikan proyek dokumentasi “Broken Limbs” itu.

Dengan bantuan beberapa relawan, Guy juga mencoba membuat kurikulum yang memperkenalkan “sustainable farming” pada masyarakat. Melalui pendidikan –Guy sudah melakukan presentasi di beberapa dewan sekolah-, melalui tindakan nyata, dan melalui jalur legislative - guy mencoba mengumpulkan masyarakat yang peduli dan mendesak agar dibuat undang-undang untuk pertanian jenis baru ini-. Sampai saat ini sudah hamper seribu tanda tangan diperoleh. Cukup baikuntuk masyarakat kota kecil.

Ini pekerjaan nyaris mustahil. Bisnis apel menyumbang cukup besar bagi Negara. Di Negara seperti Amerika kepentingan ekonomi sangat kuat, dibela kalangan politisi. Para pengusaha besarlah yang membiayai kampanye mereka. Tapi Guy tak menyerah, dan Guy tidak hanya bicara. Ia tidak melanjutkan mengejar cita-cita sesuai jurusannya, tehnik elektro. Guy memutuskan tinggal di rumah keluarga mereka, membuka usaha toko buah buahan kecil dan melaksanakan sendiri “sustainable farm” yang diyakininya. Ia percaya konsep ini mampu menyelamatkan kehidupan ayahnya, petani petani di Amerika, dan secara keseluruhan menyelamatkan budaya pedesaan Amerika.

Image hosted by Photobucket.com

Ini kisah satu orang yang mulai dengan niat baik, dan mulai menginspirasi masyarakat sekitarnya. Satu orang ternyata bisa membuat perubahan…

No comments:

Post a Comment