Adakah Tuhan di facebook? Kemarin saya menulis doa saya di status, apakah Tuhan mendengar atau membacanya? Atau mungkin jejaring ini sudah jadi zona bebas Tuhan, dimana semua orang berhak bicara, memaki, berbohong, menyakiti, menghina, bercanda, tanpa harus tsayat pada Tuhan....
Katanya Tuhan Maha Besar, tapi kenapa kita tak juga takut melakukan kesalahan yang di sengaja? Apakah karena kita percaya bahwa Tuhan juga maha pemaaf, maha pengampun, maha pengasih dan penyayang pada umatnya atau karena terlanjur sombong dengan kemampuan dan kekuasaan di dunia ini?
Katanya Tuhan maha mengetahui, tapi kok ada hamba yang berani korupsi, berani menipu, bahkan membohongi para calon haji yang menuju rumah MU. Kenapa hamba-hamba Tuhan bahkan tak berusaha menutupi perbuatan tercelanya.
Atau negara ini sudah jadi zona bebas Tuhan?
Saya cari dimana-mana tapi tak ada plang penanda, ini Zona Bebas Tuhan....
Katanya Tuhan ada di mana-mana, tapi saya tak melihatnya dalam perilaku manusia. Tidak ada esensi ketuhanan di jalan raya, saat motor-motor menyalip hingga trotoar menzalimi pejalan kaki. Tak terlihat Tuhan saat mobil-mobil membunyikan klakson, saling mendahului pindah ke jalur yang salah, sewenang-wenang pada pengguna jalan yang lain. Ataukah jalan raya juga sudah jadi zona bebas Tuhan?
Tak terlihat Tuhan di gedung-gedung tinggi yang mencegah duafa masuk dengan tangan tengadah, hanya ‘uang’ berdasi dan bermobil yang boleh mendekat. Padahal katanya Tuhan ada pada setiap tingkah laku orang-orang beriman...
Katanya Tuhan dekat dari kita, bahkan lebih dekat dari pembuluh nadi di leher.
Tapi Tuhan tak terdengar saat pelacuran terjadi di jejaring pertemanan, atau saat Tak jua teraba saat kita belanja gila-gilaan, sementara di trotoar banyak orang yang meminta sedekah. Dan mereka sungguh-sungguh meminta...
Tuhan juga tak terasa saat mahluk-mahluk fana ini menyombongkan diri, memaki-maki, merendahkan sesamanya. Seolah-olah jadi yang paling benar, yang paling bersih, yang paling tinggi nilainya di mata MU.
Kataya Tuhan dekat, Besar dan ada dimana-mana... tapi kenapa Tuhan tak terdengar, tak terlihat dan tak terasa... ataukah kita yang tak mampu lagi bersentuhan dengan NYA, karena hati ini sudah terlalu tercemar? Jangan-jangan memang kita yang menutup mata, telinga dan hati kita dari Tuhan...
Padahal tak pernah kulihat penanda, Zona Bebas Tuhan...
Jadi apakah di Jejaring ini ada Tuhan?
Semoga ada, karena akan kusampaikan juga doa melalui jejaring ini.
Ya Allah, tolong hambamu yang rendah ini...
Jangan jauhkan saya darimu, bukalah semua indra agar dapat mendekati MU dan memaknai segala isyarat MU.
Saya tetap akan percaya, KAU ada dimana-mana, maka biarkanlah kusampaikan segenap dosaya melalui semua media yang mampu saya gunakan.
Saya sangat yakin, KAU lebih dekat dari pembuluh nadiku, maka maafkan saya jika kuucapkan pujian pada MU hanya lirih-lirih saja.
Saya percaya bahwa hanya KAU lah yang Maha Besar, maka ampunilah segala alpa hamba, maafkan segala dosa hamba, dan sampaikan lah hamba pada MU..
Saya percaya, bahwa bahkan di jejaring ini Tuhan masih mengawasi kita.
Wednesday, January 27, 2010
Catatan Cinta Pengembara
Sekarang pun sekali lagi saya dalam perjalanan. Sepertinya memang saya ditakdirkan untuk menjadi pejalan, atau malah pengembara. Saya sepertinya dipaksa untuk terus bergerak.
Bukannya tak suka, saya malah selalu merindukan perjalanan. Hanya saja beranjak dewasa saya juga belajar; ada bedanya mengejar keinginan dan mencari kebutuhan. Saya belajar mengurangi kesenangan saya untuk hal-hal lain yang lebih penting. Tapi memang saya tidak bisa membohongi diri, perjalanan selalu menjadi sesuatu yang saya nantikan.
Saat ini saya sedang berada jauh dari rumah. Bahkan di pulau yang berbeda. Perjalanan kali ini tergolong nyaman dibanding beberapa perjalanan sebelumnya, apalagi saya ditemani beberapa orang yang saya sukai, teman-teman saya. Kami tengah mengerjakan project terkait dengan kuliner alias makan-makan, pokoknya mantap sekali... sayangnya, saya merasa ada yang kurang pada diri saya. Saya merasa sendirian.
Saya jadi rindu ada di rumah.
Jangan salah!
Saya tidak rindu untuk kembali ke kesibukan yang melenakan. Saya tidak rindu naik di kereta berjejal-jejal, mengeraskan hati saya saat melihat pemuda tak mau memberi duduk ibu hamil, menyurutkan semangat saya menyaksikan anak-anak dipaksa mengemis. Saya tidak rindu itu semua. Saya tidak rindu pada kota hujan dengan sejuta angkot. Kemacetan dan keriuhannya. Tidak, saya tidak keberatan kembali, tapi pasti tidak merindukannya.
Saya benar-benar tidak rindu pada dengan kemacetan brutal.dan tekanan kerja yang mendorong ke garis batas antara kelelahan dan kewarasan saya. Saya juga tidak rindu perjalanan pulang balik antara rumah dan kantor yang mencapai 4 jam sehari.
Bayangkan, satu per enam bagian hidup saya dihabiskan di perjalanan. Bayangkan berharganya waktu itu. Kalau umur saya masih 30 tahun, maka berarti 5 tahun hidup saya telah terbuang percuma di perjalanan.
5 tahun yang bisa saya gunakan membangun kerajaan bisnis atau reputasi sebagai seorang jurnalis. Atau sekedar bercanda dengan anak-anak saya. Waktu yang tak akan mampu saya raih kembali.
Saya mungkin memang terlahir untuk terus melangkah dalam perjalanan, tapi rasanya itu sudah keterlaluan. Saya tak rindu itu semua. Buat saya, Bogor, Makassar atau hanyalah tempat. Hanyalah persinggahan yang harus dilalui di suatu saat, di suatu waktu.
Saya terlahir sebagai pejalan, tempat dan waktu bukan halangan untuk saya. Saya tahu saya bisa hidup diantara preman, tukang becak, pelacur dan penjahat kelas teri. Saya tahu saya bisa menyesuaikan diri dengan para pemikir, pelajar dan profesor. Saya bisa bertahan dikalangan grupies, selebritis dan artis.
Tempat kotor atau penuh kekurangan, Tempat mewah dan letakkan saya dimana saja, saya pasti bertahan. Sebab saya pejalan, atau mungkin pengembara. Dan seperti semua pengembara saya hanya merindukan satu tempat untuk pulang. Saya hanya rindu pulang ke rumah..
Saya rindu bermain dengan Radit dan Icha, rindu dengar teriakan Mama mereka saat para jagoan kecil itu mengacak-acak rumah. Rindu tidur disebelah mereka di malam hari. Saya rindu berada di rumah.
Mama, Radit, Icha, kalianlah rumah yang saya cari.
Tak peduli dimanapun kalian berada, itulah rumah saya.
Bukannya tak suka, saya malah selalu merindukan perjalanan. Hanya saja beranjak dewasa saya juga belajar; ada bedanya mengejar keinginan dan mencari kebutuhan. Saya belajar mengurangi kesenangan saya untuk hal-hal lain yang lebih penting. Tapi memang saya tidak bisa membohongi diri, perjalanan selalu menjadi sesuatu yang saya nantikan.
Saat ini saya sedang berada jauh dari rumah. Bahkan di pulau yang berbeda. Perjalanan kali ini tergolong nyaman dibanding beberapa perjalanan sebelumnya, apalagi saya ditemani beberapa orang yang saya sukai, teman-teman saya. Kami tengah mengerjakan project terkait dengan kuliner alias makan-makan, pokoknya mantap sekali... sayangnya, saya merasa ada yang kurang pada diri saya. Saya merasa sendirian.
Saya jadi rindu ada di rumah.
Jangan salah!
Saya tidak rindu untuk kembali ke kesibukan yang melenakan. Saya tidak rindu naik di kereta berjejal-jejal, mengeraskan hati saya saat melihat pemuda tak mau memberi duduk ibu hamil, menyurutkan semangat saya menyaksikan anak-anak dipaksa mengemis. Saya tidak rindu itu semua. Saya tidak rindu pada kota hujan dengan sejuta angkot. Kemacetan dan keriuhannya. Tidak, saya tidak keberatan kembali, tapi pasti tidak merindukannya.
Saya benar-benar tidak rindu pada dengan kemacetan brutal.dan tekanan kerja yang mendorong ke garis batas antara kelelahan dan kewarasan saya. Saya juga tidak rindu perjalanan pulang balik antara rumah dan kantor yang mencapai 4 jam sehari.
Bayangkan, satu per enam bagian hidup saya dihabiskan di perjalanan. Bayangkan berharganya waktu itu. Kalau umur saya masih 30 tahun, maka berarti 5 tahun hidup saya telah terbuang percuma di perjalanan.
5 tahun yang bisa saya gunakan membangun kerajaan bisnis atau reputasi sebagai seorang jurnalis. Atau sekedar bercanda dengan anak-anak saya. Waktu yang tak akan mampu saya raih kembali.
Saya mungkin memang terlahir untuk terus melangkah dalam perjalanan, tapi rasanya itu sudah keterlaluan. Saya tak rindu itu semua. Buat saya, Bogor, Makassar atau hanyalah tempat. Hanyalah persinggahan yang harus dilalui di suatu saat, di suatu waktu.
Saya terlahir sebagai pejalan, tempat dan waktu bukan halangan untuk saya. Saya tahu saya bisa hidup diantara preman, tukang becak, pelacur dan penjahat kelas teri. Saya tahu saya bisa menyesuaikan diri dengan para pemikir, pelajar dan profesor. Saya bisa bertahan dikalangan grupies, selebritis dan artis.
Tempat kotor atau penuh kekurangan, Tempat mewah dan letakkan saya dimana saja, saya pasti bertahan. Sebab saya pejalan, atau mungkin pengembara. Dan seperti semua pengembara saya hanya merindukan satu tempat untuk pulang. Saya hanya rindu pulang ke rumah..
Saya rindu bermain dengan Radit dan Icha, rindu dengar teriakan Mama mereka saat para jagoan kecil itu mengacak-acak rumah. Rindu tidur disebelah mereka di malam hari. Saya rindu berada di rumah.
Mama, Radit, Icha, kalianlah rumah yang saya cari.
Tak peduli dimanapun kalian berada, itulah rumah saya.
Friday, January 15, 2010
Wednesday, December 23, 2009
Jangan Pernah Mencuri (sedikit) di Indonesia
ditulis 20 November 2009.
Miris rasanya membaca kompas hari ini. Seorang nenek berusia 55 tahun asal Ajibarang, Jawa Tengah, di vonis 1,5 bulan penjara karena dituduh mencuri 3 butir buah Kakao senilai Rp. 2.100,- Nenek bernama Minah itu mengaku mengambil Kakao hanya untuk ditanam kembali di tempatnya, tapi perusahaan PT. RNA yang memiliki perkebunan memutuskan untuk emnuntutnya ke pengadilan. Hakim memutuskan Minah bersalah.
Saya jadi ingat seorang teman saya yang berkata, Jangan pernah mencuri di Indonesia. Hasilnya tak sebanding dengan resikonya. Katanya lagi, lebih baik menggarong atau merampok saja. Hasilnya besar dan resikonya malah lebih kecil. Saat itu saya hanya tersenyum mendengar bualannya, itu cuma omong kosong saja.
Entah kenapa setelah membaca cerita Munah saya jadi teringat lagi kata-kata itu.
Dengan sedikit usaha saya malah berhasil menemukan beberapa cerita lain, tentang pencuri kecil yang tertangkap dan dihukum cukup berat.
Semuanya mencuri barang tak seberapa, untuk kebutuhan hidupnya, dan diancam hukuman yang lumayan berat. Berikut beberapa kasus diantaranya;
Tabriji (47) warga Desa Mancaya Kampung Gardu Kisalam Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) serang Rabu (11/11) dihukum selama tujuh bulan penjara, karena terbukti mencuri dua ekor bebek milik tetangganya. Rencananya ia akan menjual bebek itu untuk membiayai anaknya sekolah. (serang pos)
M Amin, 26, dan Umar bin Mustafa, 24, divonis 10 bulan penjara oleh majelis hakim yang diketuai Viviana Sitanggang. Keduanya terbukti mencuri jaring milik Rojali, warga Desa Pauh, Moro pada April 2009 lalu. Mereka mencuri jaring yang ditebar dilaut oleh Rojali dengan cara memotong ikatannya. Kedua tersangka disidang di Pengadilan Negeri Tanjungbalai Karimun. (batam pos)
Aguswandi dituding Mencuri listrik dari jaringan listrik yang terpasang di koridor lantai 7 Apartemen ITC Roxy Mas, untuk mengisi baterai telepon selular miliknya. Agus dituduh melakukan tindak pidana pasal 363 ayat 1 butir 3 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara. Padahal Aguswandi adalah penghuni di apartement itu. (viva news)
Kalau anda menganggap hukuman atau ancaman hukuman mereka berat, anda sedikit keliru. Sebenarnya untuk ukuran Indonesia, hukuman bagi pencuri-pencuri kecil itu sudah ringan. Beberapa tahun lalu seorang maling sandal akan dipukuli sampai setengah mampus, maling ayam pun bisa dibakar hidup-hidup.Bahkan hanya sekedar bertato bisa ditembak mati...
Kenyataannya memang hukuman untuk maling kecil di Indonesia sangat berat.
Contohnya sang nenek Minah. Kalau dihitung dari kerugiannya, (3 butir Kakao dihargai Rp. 2.100,-) rasanya sedih mendengar seorang nenek berusia 55 tahun harus menjalani kehidupan di penjara selama 1,5 bulan.
Sayangnya hukum memang tak bermata – seperti dilambangkan dewi keadilan yang selalu digambarkan sebagai sosok wanita cantik dengan mata tertutup, pedang terhunus ditangannya dan timbangan ditangan lainnya. - Yah, hukum tak bermata, makanya jangan mencuri di Indonesia, karena Indonesia adalah negara hukum.
Sayangnya, hukum yang tak bermata hanya berlaku bagi pencuri-pencuri kecil. Kalau anda mencuri barang senilai ratusan ribu dan terungkap, kemungkinan besar anda bisa menginap berminggu-minggu di tahanan sebelum dihukum berbulan-bulan, tapi kalau anda mencuri uang senilai ratusan milyar, kemungkinan besar anda tidak akan pernah ditahan atau kalau memang hampir ditahan cukup mengaku sakit maka anda bisa berleha-leha di kamar rumah sakit mewah bak hotel.
Coba mencuri jemuran, kalau anda ketahuan bisa babak belur dan dihukum lebih dari sebulan. Lain lagi kalau anda mencuri uang nasabah dari bank asing yang mendanai banyak pejabat, paling apes anda akan ‘diasingkan’ ke Singapura dan dipaksa tinggal di hotel bintang lima.
Hukum memang tak bermata, tapi kalau anda memiliki sesuatu untuk diletakkan di timbangan kosong sang dewi keadilan, mungkin timbangan itu bisa bergoyang juga. (apa memang itu fungsi timbangan di tangan sang dewi ya? Sejak lama saya bingung kenapa timbangan itu dibiarkan kosong..)
Kelihatannya teman saya punya pemahaman yang hebat tentang Indonesia saat dia bilang jangan pernah mencuri di Indonesia, tapi kelihatannya nasehat itu harus di modifikasi, supaya sesuai dengan jaman sekarang. Nasehat itu seharusnya berbunyi: “Jangan pernah Mencuri (sedikit) di Indonesia.”
Miris rasanya membaca kompas hari ini. Seorang nenek berusia 55 tahun asal Ajibarang, Jawa Tengah, di vonis 1,5 bulan penjara karena dituduh mencuri 3 butir buah Kakao senilai Rp. 2.100,- Nenek bernama Minah itu mengaku mengambil Kakao hanya untuk ditanam kembali di tempatnya, tapi perusahaan PT. RNA yang memiliki perkebunan memutuskan untuk emnuntutnya ke pengadilan. Hakim memutuskan Minah bersalah.
Saya jadi ingat seorang teman saya yang berkata, Jangan pernah mencuri di Indonesia. Hasilnya tak sebanding dengan resikonya. Katanya lagi, lebih baik menggarong atau merampok saja. Hasilnya besar dan resikonya malah lebih kecil. Saat itu saya hanya tersenyum mendengar bualannya, itu cuma omong kosong saja.
Entah kenapa setelah membaca cerita Munah saya jadi teringat lagi kata-kata itu.
Dengan sedikit usaha saya malah berhasil menemukan beberapa cerita lain, tentang pencuri kecil yang tertangkap dan dihukum cukup berat.
Semuanya mencuri barang tak seberapa, untuk kebutuhan hidupnya, dan diancam hukuman yang lumayan berat. Berikut beberapa kasus diantaranya;
Tabriji (47) warga Desa Mancaya Kampung Gardu Kisalam Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) serang Rabu (11/11) dihukum selama tujuh bulan penjara, karena terbukti mencuri dua ekor bebek milik tetangganya. Rencananya ia akan menjual bebek itu untuk membiayai anaknya sekolah. (serang pos)
M Amin, 26, dan Umar bin Mustafa, 24, divonis 10 bulan penjara oleh majelis hakim yang diketuai Viviana Sitanggang. Keduanya terbukti mencuri jaring milik Rojali, warga Desa Pauh, Moro pada April 2009 lalu. Mereka mencuri jaring yang ditebar dilaut oleh Rojali dengan cara memotong ikatannya. Kedua tersangka disidang di Pengadilan Negeri Tanjungbalai Karimun. (batam pos)
Aguswandi dituding Mencuri listrik dari jaringan listrik yang terpasang di koridor lantai 7 Apartemen ITC Roxy Mas, untuk mengisi baterai telepon selular miliknya. Agus dituduh melakukan tindak pidana pasal 363 ayat 1 butir 3 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara. Padahal Aguswandi adalah penghuni di apartement itu. (viva news)
Kalau anda menganggap hukuman atau ancaman hukuman mereka berat, anda sedikit keliru. Sebenarnya untuk ukuran Indonesia, hukuman bagi pencuri-pencuri kecil itu sudah ringan. Beberapa tahun lalu seorang maling sandal akan dipukuli sampai setengah mampus, maling ayam pun bisa dibakar hidup-hidup.Bahkan hanya sekedar bertato bisa ditembak mati...
Kenyataannya memang hukuman untuk maling kecil di Indonesia sangat berat.
Contohnya sang nenek Minah. Kalau dihitung dari kerugiannya, (3 butir Kakao dihargai Rp. 2.100,-) rasanya sedih mendengar seorang nenek berusia 55 tahun harus menjalani kehidupan di penjara selama 1,5 bulan.
Sayangnya hukum memang tak bermata – seperti dilambangkan dewi keadilan yang selalu digambarkan sebagai sosok wanita cantik dengan mata tertutup, pedang terhunus ditangannya dan timbangan ditangan lainnya. - Yah, hukum tak bermata, makanya jangan mencuri di Indonesia, karena Indonesia adalah negara hukum.
Sayangnya, hukum yang tak bermata hanya berlaku bagi pencuri-pencuri kecil. Kalau anda mencuri barang senilai ratusan ribu dan terungkap, kemungkinan besar anda bisa menginap berminggu-minggu di tahanan sebelum dihukum berbulan-bulan, tapi kalau anda mencuri uang senilai ratusan milyar, kemungkinan besar anda tidak akan pernah ditahan atau kalau memang hampir ditahan cukup mengaku sakit maka anda bisa berleha-leha di kamar rumah sakit mewah bak hotel.
Coba mencuri jemuran, kalau anda ketahuan bisa babak belur dan dihukum lebih dari sebulan. Lain lagi kalau anda mencuri uang nasabah dari bank asing yang mendanai banyak pejabat, paling apes anda akan ‘diasingkan’ ke Singapura dan dipaksa tinggal di hotel bintang lima.
Hukum memang tak bermata, tapi kalau anda memiliki sesuatu untuk diletakkan di timbangan kosong sang dewi keadilan, mungkin timbangan itu bisa bergoyang juga. (apa memang itu fungsi timbangan di tangan sang dewi ya? Sejak lama saya bingung kenapa timbangan itu dibiarkan kosong..)
Kelihatannya teman saya punya pemahaman yang hebat tentang Indonesia saat dia bilang jangan pernah mencuri di Indonesia, tapi kelihatannya nasehat itu harus di modifikasi, supaya sesuai dengan jaman sekarang. Nasehat itu seharusnya berbunyi: “Jangan pernah Mencuri (sedikit) di Indonesia.”
Bapak
Memandangi anakku -Raditya- tidur, rasanya seperti mundur melewati pusaran waktu. hampir 30 tahun lalu, saya ada di tempat Raditya. mencoba tidur dengan perasaan gundah dan cemas. Bapak juga memeluk saya seperti saya memeluk Raditya. Bapak juga menunggui saya sampai tertidur.
Memandangi anakku, Raditya tertidur banyak sekali pikiran mengalir di kepala saya. berdenyut-denyut sampai terasa nyaris menyakitkan. Saya bertanya-tanya dalam hati, bisakah saya memberikan lingkungan yang cukup baik untuk perkembangannya? bisakah saya menyediakan semua kebutuhannya sampai dia mandiri? bisakah saya menemaninya sampai dewasa? mampukah saya melindunginya dari bahaya dan duka? Apakah kelak saya mampu membuat dia bangga saat dewasa?
Air mata saya menetes saat itu. Mendadak terlintas juga pertanyaan itu, apa kira-kira yang Bapak pikirkan ketika mengawasi saya tidur dulu? Apakah pikiran saya sama yang dipikirkannya dulu?
Bapak bukan orang sembarangan di mata saya. Meskipun saya tidak cukup lama bersamanya, Bapak telah meninggalkan kenangan yang mendalam. Banyak hal yang aku ingat tentang bapak, kebanyakan menyenangkan. Saya ingat, Bapak sering mengajak saya bermain catur, meski tak pernah sekalipun membiarkan saya menang -itu membuat saya tak pernah mudah menyerah. Bapak juga mengajari saya bermain kartu gaple sampai bridge. Pelajaran itu terbukti banyak berguna untuk saya bertahan hidup di dunia saya.
Saya juga ingat bagaimanapun lelahnya Bapak, sepertinya selalu sempat bermain bersama anak-anaknya. entah karambol, bersepeda atau sekedar menonton sepakbola bersama-sama, seperti yang dilakukan di malam Bapak meninggal.
Bapak juga tak pernah kelelahan mendengarkan cerita tentang hari-hari sekolah saya.
Entah bagaimana Bapak melakukannya. Sejak saya berusia 4 tahun, Ibu meninggal dunia karena sakit. Sejak itu praktis Bapak sendirian membesarkan ke empat anaknya. Bapak cuma pegawai negeri, jadi saya bayangkan pasti beliau harus pontang panting cari tambahan. Apalagi Bapak punya keinginan semua anaknya jadi sarjana.
- Alhamdulillah 4 anakmu sudah jadi sarjana, pak... Bapak tidak gagal. Bapak sudah jadi pemenang dan membuat saya bangga.-
Pasti sulit sekali mengatur waktu saat itu. Bekerja dan sekaligus mengurusi anak. toh, Bapak berhasil mendidik dan menyiapkan saya untuk berfungsi di dunia nyata seperti sekarang ini.
Entah bagaimana Bapak melakukannya. Padahal Bapak sendirian. Saat ini mengasuh dua anak dibantu seorang istri tercinta saja saya masih kerepotan. Saya masih tak yakin bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anakku.
Maaf kalau dulu saya sering melawan Bapak, sering menyusahkan dan membuat sedih.
Saya hanya belum mengerti keinginan Bapak. Maafkan saya Bapak.
Terima kasih atas jerih payah Bapak pada kami.
kalau saya bisa tumbuh dewasa dan meniru setengah saja kebaikan mu, Bapak...
saya akan merasa sangat bangga.
didit
dan saya sungguh sungguh berdoa agar anak saya nanti bisa merasa bangga pada saya,
seperti bangga saya pada Bapak.
Memandangi anakku, Raditya tertidur banyak sekali pikiran mengalir di kepala saya. berdenyut-denyut sampai terasa nyaris menyakitkan. Saya bertanya-tanya dalam hati, bisakah saya memberikan lingkungan yang cukup baik untuk perkembangannya? bisakah saya menyediakan semua kebutuhannya sampai dia mandiri? bisakah saya menemaninya sampai dewasa? mampukah saya melindunginya dari bahaya dan duka? Apakah kelak saya mampu membuat dia bangga saat dewasa?
Air mata saya menetes saat itu. Mendadak terlintas juga pertanyaan itu, apa kira-kira yang Bapak pikirkan ketika mengawasi saya tidur dulu? Apakah pikiran saya sama yang dipikirkannya dulu?
Bapak bukan orang sembarangan di mata saya. Meskipun saya tidak cukup lama bersamanya, Bapak telah meninggalkan kenangan yang mendalam. Banyak hal yang aku ingat tentang bapak, kebanyakan menyenangkan. Saya ingat, Bapak sering mengajak saya bermain catur, meski tak pernah sekalipun membiarkan saya menang -itu membuat saya tak pernah mudah menyerah. Bapak juga mengajari saya bermain kartu gaple sampai bridge. Pelajaran itu terbukti banyak berguna untuk saya bertahan hidup di dunia saya.
Saya juga ingat bagaimanapun lelahnya Bapak, sepertinya selalu sempat bermain bersama anak-anaknya. entah karambol, bersepeda atau sekedar menonton sepakbola bersama-sama, seperti yang dilakukan di malam Bapak meninggal.
Bapak juga tak pernah kelelahan mendengarkan cerita tentang hari-hari sekolah saya.
Entah bagaimana Bapak melakukannya. Sejak saya berusia 4 tahun, Ibu meninggal dunia karena sakit. Sejak itu praktis Bapak sendirian membesarkan ke empat anaknya. Bapak cuma pegawai negeri, jadi saya bayangkan pasti beliau harus pontang panting cari tambahan. Apalagi Bapak punya keinginan semua anaknya jadi sarjana.
- Alhamdulillah 4 anakmu sudah jadi sarjana, pak... Bapak tidak gagal. Bapak sudah jadi pemenang dan membuat saya bangga.-
Pasti sulit sekali mengatur waktu saat itu. Bekerja dan sekaligus mengurusi anak. toh, Bapak berhasil mendidik dan menyiapkan saya untuk berfungsi di dunia nyata seperti sekarang ini.
Entah bagaimana Bapak melakukannya. Padahal Bapak sendirian. Saat ini mengasuh dua anak dibantu seorang istri tercinta saja saya masih kerepotan. Saya masih tak yakin bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anakku.
Maaf kalau dulu saya sering melawan Bapak, sering menyusahkan dan membuat sedih.
Saya hanya belum mengerti keinginan Bapak. Maafkan saya Bapak.
Terima kasih atas jerih payah Bapak pada kami.
kalau saya bisa tumbuh dewasa dan meniru setengah saja kebaikan mu, Bapak...
saya akan merasa sangat bangga.
didit
dan saya sungguh sungguh berdoa agar anak saya nanti bisa merasa bangga pada saya,
seperti bangga saya pada Bapak.
Growing up
“Menjadi tua adalah keharusan tapi menjadi dewasa selalu adalah sebuah pilihan.”
Kalau dipikir-pikir benar juga kata-kata itu ya. Banyak sekali orang-orang yang sudah tua secara umur tapi tetap ‘muda’. Seperti tanaman yang bertumbuh besar, tinggi, dan semakin tua, tapi tetap memiliki daun yang hijau...
Saya jadi ingat kata-kata seorang teman saya yang pakar kehutanan, katanya di setiap ekosistem yang memungkinkan tumbuh tanaman, selalu ada tanaman-tanaman utama (prime vegetation) disana. Tanaman utama itu adalah tanaman terkuat – biasanya juga terbesar dan tumbuh sedikit soliter dari lainnya – yang sudah membuktikan diri mampu bertahan ditengah kejamnya ekosistem tersebut. Tidak selalu tanaman tertua, karena ada juga tumbuhan yang hanya sekedar hidup tapi tak pernah jadi dominan.
Tanaman itu, menurut teman saya, kalau dibandingkan dengan manusia adalah seperti orang yang bijaksana dan dituakan. Biasanya tanaman itu juga menopang kehidupan lain bersamanya. Entah burung-burung yang bersarang di cabangnya, entah koloni kadal tua yang berlindung di akar-akarnya, atau ular yang bersembunyi di retakan batangnya.
Tanaman itu sudah membuktikan dirinya mampu bertahan, menurut saya, tanaman itu layak disebut tanaman dewasa diantara tanaman lainnya.
Sejak dulu saya ingin dewasa. Entah kenapa... sepertinya itu keputusan yang didasarkan oleh hati, bukan pikiran.
Kedewasaan memang membawa keuntungan tersendiri, seperti meningkatnya kepercayaan orang-orang terhadap kita, bertambahnya kemandirian, dan tentunya bertambah pula ‘kebebasan’ kita menentukan pilihan.
Kebebasan seperti itu pasti menyenangkan, tapi, sayangnya kedewasaan juga punya konsekuensi yang menyebalkan. Kedewasaan berarti kita harus mau bertanggungjawab terhadap semua akibat dari perbuatan kita,dan kehilangan waktu untuk menikmati hidup sebagai anak-anak.
Dewasa itu memang tidak enak, entah kenapa saya tetap ingin jadi dewasa.
Saya selalu mencoba untuk tumbuh dewasa. Tanaman untuk tumbuh besar hanya butuh tanah subur, air dan sinar matahari, tapi untuk menjadi pohon ‘dewasa’ yang mampu memberi manfaat bagi mahluk lainnya, dia membutuhkan badai, musim dingin dan kekeringan.
Tanaman itu butuh ujian dan keterbatasan agar bisa dewasa dengan sempurna. Begitu juga manusia....
Tapi manusia tetap berbeda dengan tanaman.
Manusia mampu berpikir dan tak terikat pada tanah yang ditentukan. Manusia kreatif dan mampu menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan hidupnya. Dan terakhir...Manusia punya Hati...yang mampu membimbingnya menjadi dewasa. Kekuatan sekaligus kelemahan utamanya...
Jika ranting pohon patah, dan dalam seminggu sudah akan muncul tunas baru yang menggantikannya. Tapi jika hati manusia -semangatnya- patah, butuh bantuan dari luar untuk menumbuhkan gantinya. Seperti serangga dan angin semilir yang membantu perkembang biakan sang tanaman, manusia butuh pendukung untuk menghidupkan semangatnya.
Dan itulah gunanya teman
Teman bisa membangkitkan semangat saat sedang patah asa, bisa membantu saat kesusahan, bisa menjadi pendukung saat dibutuhkan...
Seperti angin semilir bagi pepohonan
Seperti seperti kalian bagi saya.
“memiliki teman adalah kebutuhan, tapi menjadi teman adalah pilihan”
Desember 2009
didit
My friends,
You are the breeze that kept me going all this time,
Thank you for being there and help me keep my dreams,
Just by being yourself...
Kalau dipikir-pikir benar juga kata-kata itu ya. Banyak sekali orang-orang yang sudah tua secara umur tapi tetap ‘muda’. Seperti tanaman yang bertumbuh besar, tinggi, dan semakin tua, tapi tetap memiliki daun yang hijau...
Saya jadi ingat kata-kata seorang teman saya yang pakar kehutanan, katanya di setiap ekosistem yang memungkinkan tumbuh tanaman, selalu ada tanaman-tanaman utama (prime vegetation) disana. Tanaman utama itu adalah tanaman terkuat – biasanya juga terbesar dan tumbuh sedikit soliter dari lainnya – yang sudah membuktikan diri mampu bertahan ditengah kejamnya ekosistem tersebut. Tidak selalu tanaman tertua, karena ada juga tumbuhan yang hanya sekedar hidup tapi tak pernah jadi dominan.
Tanaman itu, menurut teman saya, kalau dibandingkan dengan manusia adalah seperti orang yang bijaksana dan dituakan. Biasanya tanaman itu juga menopang kehidupan lain bersamanya. Entah burung-burung yang bersarang di cabangnya, entah koloni kadal tua yang berlindung di akar-akarnya, atau ular yang bersembunyi di retakan batangnya.
Tanaman itu sudah membuktikan dirinya mampu bertahan, menurut saya, tanaman itu layak disebut tanaman dewasa diantara tanaman lainnya.
Sejak dulu saya ingin dewasa. Entah kenapa... sepertinya itu keputusan yang didasarkan oleh hati, bukan pikiran.
Kedewasaan memang membawa keuntungan tersendiri, seperti meningkatnya kepercayaan orang-orang terhadap kita, bertambahnya kemandirian, dan tentunya bertambah pula ‘kebebasan’ kita menentukan pilihan.
Kebebasan seperti itu pasti menyenangkan, tapi, sayangnya kedewasaan juga punya konsekuensi yang menyebalkan. Kedewasaan berarti kita harus mau bertanggungjawab terhadap semua akibat dari perbuatan kita,dan kehilangan waktu untuk menikmati hidup sebagai anak-anak.
Dewasa itu memang tidak enak, entah kenapa saya tetap ingin jadi dewasa.
Saya selalu mencoba untuk tumbuh dewasa. Tanaman untuk tumbuh besar hanya butuh tanah subur, air dan sinar matahari, tapi untuk menjadi pohon ‘dewasa’ yang mampu memberi manfaat bagi mahluk lainnya, dia membutuhkan badai, musim dingin dan kekeringan.
Tanaman itu butuh ujian dan keterbatasan agar bisa dewasa dengan sempurna. Begitu juga manusia....
Tapi manusia tetap berbeda dengan tanaman.
Manusia mampu berpikir dan tak terikat pada tanah yang ditentukan. Manusia kreatif dan mampu menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan hidupnya. Dan terakhir...Manusia punya Hati...yang mampu membimbingnya menjadi dewasa. Kekuatan sekaligus kelemahan utamanya...
Jika ranting pohon patah, dan dalam seminggu sudah akan muncul tunas baru yang menggantikannya. Tapi jika hati manusia -semangatnya- patah, butuh bantuan dari luar untuk menumbuhkan gantinya. Seperti serangga dan angin semilir yang membantu perkembang biakan sang tanaman, manusia butuh pendukung untuk menghidupkan semangatnya.
Dan itulah gunanya teman
Teman bisa membangkitkan semangat saat sedang patah asa, bisa membantu saat kesusahan, bisa menjadi pendukung saat dibutuhkan...
Seperti angin semilir bagi pepohonan
Seperti seperti kalian bagi saya.
“memiliki teman adalah kebutuhan, tapi menjadi teman adalah pilihan”
Desember 2009
didit
My friends,
You are the breeze that kept me going all this time,
Thank you for being there and help me keep my dreams,
Just by being yourself...
Sunday, October 11, 2009
Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus
Orang tua mana yang tidak ingin anak yang sempurna? Cerdas, aktif, gembira, santun dan sempurna penampilannya. Kenyataannya saat ini banyak sekali kasus anak-anak yang berkebutuhan khusus. Kebetulan salah satunya adalah anak saya, sejak sadar bahwa saya dikaruniai anak berkebutuhan khusus, saya mulai rajin bertanya-tanya mengenai definisi ABK. Sayang, informasi yang ada terlalu medis dan sulit dimengerti orang awam seperti saya. Bahkan untuk mengerti klasifikasi atau penggolongannya saja sudah sangat sulit. Apalagi banyak orang yang mulai menganggap penanganan anak ABK adalah lahan bisnis, shingga mereka cenderung tidak menjelaskan sejelas-jelasnya pada orang tua. Karena alasan diatas, saya coba menulis sedikit mengenai istilah dan penggolongan anak berkebutuhan khusus atau ABK.
Sebelum mulai membahas tentang anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) ini, sebaiknya dimengerti dulu maksud dari istilah tersebut. Seorang pemerhati masalah anak-anak berkebutuhan khusus, Julia Van Tiel, memberikan definisi tentang ABK.
ABK adalah anak-anak yang untuk memperoleh perkembangan memerlukan penanganan khusus yang berkaitan dengan kekhususannya.
Fenomena meningkatnya jumlah anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia, terutama anak-anak dengan spectrum autis (atau autistic spectrum disorder) dan anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan umum lainnya, yaitu keterlambatan bicara, gangguan belajar, gangguan perilaku (hiperaktif dan hipoaktif), down syndrome, cerebral palsy, dan sebagainya, menimbulkan keprihatinan yang mendalam dari sejumlah profesional medis, psikologi, orang tua dan para pemerhati masalah anak.
Kesulitan utama perbaikan penanganan anak-anak berkebutuhan khusus ini adalah mengenai Informasi dan kesulitan mendiagnosa para penderitanya. Agar lebih maksimal memang sebaiknya penanganan dilakukan sejak usia sangat dini, sayangnya kesalahan diagnosa sering justru menyebabkan anak-anak itu mengalami kemunduran.
Contoh kesalaahan diagnosa banyak diceritakan dalam tulisan-tulisan para pemerhati masalah ini.
Hingga saat ini anak-anak berkebutuhan khusus yang mendapat perhatian yang cukup luas di masyarakat adalah mereka yang tergolong kedalam Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder (ASD). Berikut adalah beberapa penggolongan anak-anak yang dianggap memiliki kebutuhan khusus. Penggolongan ini tidak bertujuan mengkotak-kotakkan atau memberi label pada anak-anak itu, tapi lebih bertujuan untuk mempermudah mendiagnosa dan menentukan penanganan khusus yang mereka butuhkan. Sekali lagi, mereka anak-anak biasa yang kemungkinan perkembangan dan potensinya masih sangat terbuka.
1. Autistic Disorder
Autisme adalah gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
2. Asperger Disorder
Secara umum performa anak Asperger Disorder hampir sama dengan anak autisme, yaitu memiliki gangguan pada kemampuan komunikasi, interaksi sosial dan tingkah lakunya. Namun gangguan pada anak Asperger lebih ringan dibandingkan anak autisme dan sering disebut dengan istilah ”High-fuctioning autism”. Hal-hal yang paling membedakan antara anak Autisme dan Asperger adalah pada kemampuan bahasa bicaranya. Kemampuan bahasa bicara anak Asperger jauh lebih baik dibandingkan anak autisme.
Intonasi bicara anak asperger cendrung monoton, ekspresi muka kurang hidup cendrung murung dan berbibicara hanya seputar pada minatnya saja. Bila anak autisme tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, anak asperger masih bisa dan memiliki kemauan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kecerdasan anak asperger biasanya ada pada grade rata-rata keatas. Memiliki minat yang sangat tinggi pada buku terutama yang bersifat ingatan/memori pada satu kategori. Misalnya menghafal klasifikasi hewan/tumbuhan yang menggunakan nama-nama latin, menghapal bagian bagian kendaraan bermotor dsb.
3. Rett’s Disorder
Rett’s Disorder adalah jenis gangguan perkembangan yang masuk kategori ASD. Aspek perkembangan pada anak Rett’s Disorder mengalami kemuduran sejak menginjak usia 18 bulan yang ditandai hilangnya kemampuan bahasa bicara secara tiba-tiba. Koordinasi motorinya semakin memburuk dan dibarengi dengan kemunduran dalam kemampuan sosialnya. Rett’s Disorder hampir keseluruhan penderitanya adalah perempuan.
4. Childhood Disintegrative Disorder.
Yang membedakan anak Childhood Disintegrative Disorder (CCD) dengan anak autisme adalah bahwa umumnya anak CCD sempat berkembang secara normal sampai beberapa tahun termasuk kemampuan bahasa bicaranya. Biasanya anak-anak itu mengalami kemunduran setelah menginjak 2 tahun. Kemunduran kemampuan pada anak CDD bisa samapai pada kondisi anak dengan ganggaun autisme berat (low fuctioning autisme) dengan performa yang sama.
5. Pervasive Development Disorder Not Otherwie Specified (PDD-NOS)
Anak dengan gangguan PDD-NOS performanya hampir sama dengan anak Autisme hanya saja kualitas gangguannya lebih ringan dan terkadang anak-anak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi wajah tidak terlalu datar dan masih bisa diajak bercanda.
Sekali lagi penggolongan diatas adalah hanya untuk kepentingan penanganan medis. Pada dasarnya perkembangan setiap anak berbeda-beda. kebutuhannya juga spesial dan berbeda. Dua orang anak yang memiliki sindrom yang sama, pasti memiliki perkembangan yang berbeda dan tingkatan yang berbeda.
Selain penggolongan di atas, ada juga anak-anak berkebutuhan khusus lain dan sering di salah kaprahkan dengan anak-anak Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder. diantaranya adalah :
1. Child with developmental Impairement
Yang banyak dikenal di Indonesia sebagai anak tuna grahita (mental retardation). Secara umum anak dengan gangguan retardasi mental memiliki inteligensi di bawah rata-rata normal, tidak mampu berprilaku adaptif sesuai tugas-tugas perkembangan usianya. Secara performa fisik tanpak sekilas anak retardasi mental seperti anak normal. Kemampuan berkomunikasinyapun tidak mengalami gangguan.hanyak saja anak retardasi mental sulit mengembangkan topik pembicaraan kearah yang lebih lanjut dan kompleks.
2. Child with specific learning disability
Anak berprestasi rendah yang lebih populer dengan istilah anak berkesulitan belajar. Mereka mempunyai kesulitan di bidang-bidang akademik, kognitif dan masalah-masalah emosi sosial. Oleh sebab itu kelainan-kelaian yang dialami lebih bersifat psikologis, yang berimbas pada gangguan kelancaran berbicara, berbahasa dan menulis. Masing-masing anak memiliki gejala dan kendala berbeda yang membuat mereka memiliki kesulitan belajar, tapi biasanyaada persamaan gejala: Anak-anak LD terlihat tidak berkemampuan sebagai pendengar yang baik, berfikir, berbicara, membaca dan menulis, mengeja huruf, dan perhitungan yang bersifat matematika. Tes hasil belajar di sekolah menunjukan angka rendah. Yang tergolong learning disabilitis adalah anak dengan ganguan persepsi, cedera otak/cerebal palsy, minimal brain dysfunction, dyslexia dan developmental aphasia.
Anak-anak dengan learning dissability sebenarnya tidak bodoh, mereka punya kemampuan tinggi di satu bidang, tapi kendala mereka menyebabkan mereka membutuhkan penanganan khusus untuk mencapai kemampuan tersebut.
3. Child with emotional or behavioral disorder
Anak dengan ganguan perilaku menyimpang/emosional menunjukan masalah perilaku yang dapat terlihat seperti ; selalu gagal/tidak dapat menjalin hubungan pribadi yang intim, berprilaku tidak pada tempatnya (sering mencari perhatian dengan cara-cara yang tidak logis), merasakan adanya depresi dan tidak bahagia (diri sendiri/bisa keluarga/lingkungan sosial) prestasi belajar menurun (memiliki masalah-masalah kesulitan belajar bukan disebabkan faktor intelektual, sensori atau kesehatan).
Mereka harus dibantu memecahkan masalahnya agar emosinya bisa disesuaikan seperti anak-anak lainnya.
4. Child who have attention deficit disorder with hyperactive (ADHD)
ADHD terkadang lebih dikenal dengan istilah anak hiperaktif, oleh karena mereka selalu bergerak dari satu tempat ketempat yang lain. Tidak dapat duduk diam di satu tempat selama ± 5-10 menit untuk melakukan suatu kegiatan yang diberikan kepadanya. Rentang konsentrasinya sangat pendek, mudah bingung dan pikirannya selalu kacau, sering mengabaikan perintah atau arahan, sering tidak berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Sering mengalami kesulitan mengeja atau menirukan ejaan huruf. Anak-anak ini mengalami kesulitan untuk fokus dan berkonsentrasi cukup lama untuk menyelesaikan tugas mereka.
5. Down Syndrom
Anak down syndrom sangat mudah dikenali lewat bentuk wajahnya (seperti orang mongol). Tapi beberapa diantaranya tidak memperlihatkan bentuk muka down syndrom (layaknya anak normal). Mereka biasanya sangat pendiam, sering bermasalah dengan koordinasi otot-otot mulut tangan dan kaki sehingga sering mengalami terlambat berbicara dan berjalan. Kemampuan inteligensinya dibawah rata-rata normal menyebabkan mereka sulit mengikuti tugas-tugas perkembangan anak normal, baik dalam aspek akademis, emosi dan bersosialisasi. Tak jarang behavioralnya juga memperlihatkan perilaku yang tidak adaptif (sering mencari perhatian yang berlebihan, memperihatkan sikap keras kepala yang berlebihan (shut off/berlagak seperti patung) dan kekanak-kanakan.
Selain penggolongan diatas juga ada anak-anak dengan kekurangan pada indra atau anggota tubuhnya, yang populer disebut anak cacat -walaupun saya sendiri memilih untuk menyebutnya anak-anak dengan kekurangan fisik. kekurangan tersebut
1. Child with communication disorder and deafness
Lebih popular dengan istilah tunarungu/wicara adalah mereka yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar sebahagian atau keseluruhan, akibat tidak berfungsinya indra pendengaran sebagaian/keseluruhan. Terkadang ada juga yang pendengarannya tidak mampu mendengar suara dengan frekuensi atau modulasi spesifik.
2. Child with partially seeing and legally blind
Anak tunagrahita dikategorikan sebagai anak-anak yang memiliki indra ke-enam. Hal ini mengacu kepada kemampuan inteligensi yang cukup baik, daya ingat yang kuat, kemampuan taktil yang tinggi berupa kemampuan merasakan objek melalui ujung jari-jemarinya sebagai pengganti indra penglihatannya. Anak tunagrahita mempresepsikan dunia dengan menggunakan indra sensoriknya, sehingga mereka membutuhkan latihan dalam waktu yang lama untuk menguasai dunia persepsi. Dalam melakukan interaksi sosial umumnya dilakukan dengan cara menyentuh dan mendengar objeknya, sehingga kurang menarik bagi lawan bicaranya.
Selain kategori diatas, ada juga kategori anak lain yang sebenarnya lebih bersifat kelebihan daripada kekurangan. Kategori tersebut adalah :
1. Gifted Children
dalam berbagai literatur sering disebutkan bahwa yang termasuk gifted children adalah anak-anak yang:
Sebelum mulai membahas tentang anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) ini, sebaiknya dimengerti dulu maksud dari istilah tersebut. Seorang pemerhati masalah anak-anak berkebutuhan khusus, Julia Van Tiel, memberikan definisi tentang ABK.
ABK adalah anak-anak yang untuk memperoleh perkembangan memerlukan penanganan khusus yang berkaitan dengan kekhususannya.
Fenomena meningkatnya jumlah anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia, terutama anak-anak dengan spectrum autis (atau autistic spectrum disorder) dan anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan umum lainnya, yaitu keterlambatan bicara, gangguan belajar, gangguan perilaku (hiperaktif dan hipoaktif), down syndrome, cerebral palsy, dan sebagainya, menimbulkan keprihatinan yang mendalam dari sejumlah profesional medis, psikologi, orang tua dan para pemerhati masalah anak.
Kesulitan utama perbaikan penanganan anak-anak berkebutuhan khusus ini adalah mengenai Informasi dan kesulitan mendiagnosa para penderitanya. Agar lebih maksimal memang sebaiknya penanganan dilakukan sejak usia sangat dini, sayangnya kesalahan diagnosa sering justru menyebabkan anak-anak itu mengalami kemunduran.
Contoh kesalaahan diagnosa banyak diceritakan dalam tulisan-tulisan para pemerhati masalah ini.
Hingga saat ini anak-anak berkebutuhan khusus yang mendapat perhatian yang cukup luas di masyarakat adalah mereka yang tergolong kedalam Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder (ASD). Berikut adalah beberapa penggolongan anak-anak yang dianggap memiliki kebutuhan khusus. Penggolongan ini tidak bertujuan mengkotak-kotakkan atau memberi label pada anak-anak itu, tapi lebih bertujuan untuk mempermudah mendiagnosa dan menentukan penanganan khusus yang mereka butuhkan. Sekali lagi, mereka anak-anak biasa yang kemungkinan perkembangan dan potensinya masih sangat terbuka.
1. Autistic Disorder
Autisme adalah gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
2. Asperger Disorder
Secara umum performa anak Asperger Disorder hampir sama dengan anak autisme, yaitu memiliki gangguan pada kemampuan komunikasi, interaksi sosial dan tingkah lakunya. Namun gangguan pada anak Asperger lebih ringan dibandingkan anak autisme dan sering disebut dengan istilah ”High-fuctioning autism”. Hal-hal yang paling membedakan antara anak Autisme dan Asperger adalah pada kemampuan bahasa bicaranya. Kemampuan bahasa bicara anak Asperger jauh lebih baik dibandingkan anak autisme.
Intonasi bicara anak asperger cendrung monoton, ekspresi muka kurang hidup cendrung murung dan berbibicara hanya seputar pada minatnya saja. Bila anak autisme tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, anak asperger masih bisa dan memiliki kemauan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kecerdasan anak asperger biasanya ada pada grade rata-rata keatas. Memiliki minat yang sangat tinggi pada buku terutama yang bersifat ingatan/memori pada satu kategori. Misalnya menghafal klasifikasi hewan/tumbuhan yang menggunakan nama-nama latin, menghapal bagian bagian kendaraan bermotor dsb.
3. Rett’s Disorder
Rett’s Disorder adalah jenis gangguan perkembangan yang masuk kategori ASD. Aspek perkembangan pada anak Rett’s Disorder mengalami kemuduran sejak menginjak usia 18 bulan yang ditandai hilangnya kemampuan bahasa bicara secara tiba-tiba. Koordinasi motorinya semakin memburuk dan dibarengi dengan kemunduran dalam kemampuan sosialnya. Rett’s Disorder hampir keseluruhan penderitanya adalah perempuan.
4. Childhood Disintegrative Disorder.
Yang membedakan anak Childhood Disintegrative Disorder (CCD) dengan anak autisme adalah bahwa umumnya anak CCD sempat berkembang secara normal sampai beberapa tahun termasuk kemampuan bahasa bicaranya. Biasanya anak-anak itu mengalami kemunduran setelah menginjak 2 tahun. Kemunduran kemampuan pada anak CDD bisa samapai pada kondisi anak dengan ganggaun autisme berat (low fuctioning autisme) dengan performa yang sama.
5. Pervasive Development Disorder Not Otherwie Specified (PDD-NOS)
Anak dengan gangguan PDD-NOS performanya hampir sama dengan anak Autisme hanya saja kualitas gangguannya lebih ringan dan terkadang anak-anak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi wajah tidak terlalu datar dan masih bisa diajak bercanda.
Sekali lagi penggolongan diatas adalah hanya untuk kepentingan penanganan medis. Pada dasarnya perkembangan setiap anak berbeda-beda. kebutuhannya juga spesial dan berbeda. Dua orang anak yang memiliki sindrom yang sama, pasti memiliki perkembangan yang berbeda dan tingkatan yang berbeda.
Selain penggolongan di atas, ada juga anak-anak berkebutuhan khusus lain dan sering di salah kaprahkan dengan anak-anak Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder. diantaranya adalah :
1. Child with developmental Impairement
Yang banyak dikenal di Indonesia sebagai anak tuna grahita (mental retardation). Secara umum anak dengan gangguan retardasi mental memiliki inteligensi di bawah rata-rata normal, tidak mampu berprilaku adaptif sesuai tugas-tugas perkembangan usianya. Secara performa fisik tanpak sekilas anak retardasi mental seperti anak normal. Kemampuan berkomunikasinyapun tidak mengalami gangguan.hanyak saja anak retardasi mental sulit mengembangkan topik pembicaraan kearah yang lebih lanjut dan kompleks.
2. Child with specific learning disability
Anak berprestasi rendah yang lebih populer dengan istilah anak berkesulitan belajar. Mereka mempunyai kesulitan di bidang-bidang akademik, kognitif dan masalah-masalah emosi sosial. Oleh sebab itu kelainan-kelaian yang dialami lebih bersifat psikologis, yang berimbas pada gangguan kelancaran berbicara, berbahasa dan menulis. Masing-masing anak memiliki gejala dan kendala berbeda yang membuat mereka memiliki kesulitan belajar, tapi biasanyaada persamaan gejala: Anak-anak LD terlihat tidak berkemampuan sebagai pendengar yang baik, berfikir, berbicara, membaca dan menulis, mengeja huruf, dan perhitungan yang bersifat matematika. Tes hasil belajar di sekolah menunjukan angka rendah. Yang tergolong learning disabilitis adalah anak dengan ganguan persepsi, cedera otak/cerebal palsy, minimal brain dysfunction, dyslexia dan developmental aphasia.
Anak-anak dengan learning dissability sebenarnya tidak bodoh, mereka punya kemampuan tinggi di satu bidang, tapi kendala mereka menyebabkan mereka membutuhkan penanganan khusus untuk mencapai kemampuan tersebut.
3. Child with emotional or behavioral disorder
Anak dengan ganguan perilaku menyimpang/emosional menunjukan masalah perilaku yang dapat terlihat seperti ; selalu gagal/tidak dapat menjalin hubungan pribadi yang intim, berprilaku tidak pada tempatnya (sering mencari perhatian dengan cara-cara yang tidak logis), merasakan adanya depresi dan tidak bahagia (diri sendiri/bisa keluarga/lingkungan sosial) prestasi belajar menurun (memiliki masalah-masalah kesulitan belajar bukan disebabkan faktor intelektual, sensori atau kesehatan).
Mereka harus dibantu memecahkan masalahnya agar emosinya bisa disesuaikan seperti anak-anak lainnya.
4. Child who have attention deficit disorder with hyperactive (ADHD)
ADHD terkadang lebih dikenal dengan istilah anak hiperaktif, oleh karena mereka selalu bergerak dari satu tempat ketempat yang lain. Tidak dapat duduk diam di satu tempat selama ± 5-10 menit untuk melakukan suatu kegiatan yang diberikan kepadanya. Rentang konsentrasinya sangat pendek, mudah bingung dan pikirannya selalu kacau, sering mengabaikan perintah atau arahan, sering tidak berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Sering mengalami kesulitan mengeja atau menirukan ejaan huruf. Anak-anak ini mengalami kesulitan untuk fokus dan berkonsentrasi cukup lama untuk menyelesaikan tugas mereka.
5. Down Syndrom
Anak down syndrom sangat mudah dikenali lewat bentuk wajahnya (seperti orang mongol). Tapi beberapa diantaranya tidak memperlihatkan bentuk muka down syndrom (layaknya anak normal). Mereka biasanya sangat pendiam, sering bermasalah dengan koordinasi otot-otot mulut tangan dan kaki sehingga sering mengalami terlambat berbicara dan berjalan. Kemampuan inteligensinya dibawah rata-rata normal menyebabkan mereka sulit mengikuti tugas-tugas perkembangan anak normal, baik dalam aspek akademis, emosi dan bersosialisasi. Tak jarang behavioralnya juga memperlihatkan perilaku yang tidak adaptif (sering mencari perhatian yang berlebihan, memperihatkan sikap keras kepala yang berlebihan (shut off/berlagak seperti patung) dan kekanak-kanakan.
Selain penggolongan diatas juga ada anak-anak dengan kekurangan pada indra atau anggota tubuhnya, yang populer disebut anak cacat -walaupun saya sendiri memilih untuk menyebutnya anak-anak dengan kekurangan fisik. kekurangan tersebut
1. Child with communication disorder and deafness
Lebih popular dengan istilah tunarungu/wicara adalah mereka yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar sebahagian atau keseluruhan, akibat tidak berfungsinya indra pendengaran sebagaian/keseluruhan. Terkadang ada juga yang pendengarannya tidak mampu mendengar suara dengan frekuensi atau modulasi spesifik.
2. Child with partially seeing and legally blind
Anak tunagrahita dikategorikan sebagai anak-anak yang memiliki indra ke-enam. Hal ini mengacu kepada kemampuan inteligensi yang cukup baik, daya ingat yang kuat, kemampuan taktil yang tinggi berupa kemampuan merasakan objek melalui ujung jari-jemarinya sebagai pengganti indra penglihatannya. Anak tunagrahita mempresepsikan dunia dengan menggunakan indra sensoriknya, sehingga mereka membutuhkan latihan dalam waktu yang lama untuk menguasai dunia persepsi. Dalam melakukan interaksi sosial umumnya dilakukan dengan cara menyentuh dan mendengar objeknya, sehingga kurang menarik bagi lawan bicaranya.
Selain kategori diatas, ada juga kategori anak lain yang sebenarnya lebih bersifat kelebihan daripada kekurangan. Kategori tersebut adalah :
1. Gifted Children
dalam berbagai literatur sering disebutkan bahwa yang termasuk gifted children adalah anak-anak yang:
a. Memiliki skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (general intellectual ability).
b. Mempunyai kemampuan tinggi dalam problem solving, kreatifitas tinggi dan produktif.
c. Memiliki keunggulan dibidang akademik/seni/sastra/verbal/etetika/sport/sosial.
d. Memiliki kemampuan kepemimpinan yang teliti dan visioner.
dan seterusnya. Sebenarnya segala kelebihan itu bukan satu-satunya ciri anak gifted. anak-anak berbakat seringkali justru menjadi anak-anak yang sukar dimengerti, susah diatur, keras kepala, terlalu eksploratif, bahkan ada yang mengalami gejala telat bicara. Mereka butuh dimengerti, karena bakat mereka membuat mereka punya kemampuan dan cara berbeda untuk belajar dan mengembangkan diri. Dalam beberapa kasus, anak-anak berbakat sering disalah golongkan menjadi anak Hiperaktif, anak Autis
bahkan - seperti dalam kasus Albert Einstein - ia dikategorikan sebagai idiot oleh guru sekolah dasarnya, dan disarankan untuk keluar sekolah normal. Kesalahan penggolongan itu bisa sangat membahayakan masa depan anak jika tidak diperbaiki. Anak anak ini termasuk anak spesial, yang membutuhkan penanganan spesial untuk mengeluarkan potensinya.
2. Indigo Children
Anak-anak Indigo dilahirkan dengan kelebihan diluar nalar manusia. Beberapa bisa berkomunikasi dengan mahluk gaib, lainnya memiliki kemampuan intuisi yang kuat, terkadang mampu memprediksi sesuatu sebelum terjadi, meramalkan sesuatu yang bersifat futuristik yang mungkin beberapa waktu (tahun/abad) baru diketahui orang normal. perkembangan anak-anak ini sulit dinalar orang tua, karena biasanya mereka mengalami pengalaman berupa penglihatan, pendengaran atau pengetahuan yang hanya akan dianggap khayalan, halusinasi atau sesuatu yang dianggap hanya karangan oleh orang tua mereka sendiri. Banyak aak-anak indigo yang berakhir di rumah sakit jiwa atau psikiater mental karena ketidak mengertian orang tua, apalagi di daerah yang penduduknya kurang percaya hal-hal diluar nalar.
Semoga tulisan diatas bisa berguna bagi para pembaca. Saya hanya ingin mengingatkan para orang tua agar percaya pada perkembangan dan potensi anak, seperti apapun kondisinya. Sudah banyak contoh, anak-anak spesial pun bisa berprestasi dan menghasilkan sesuatu yang hebat jika diberikan kebutuhan khusus mereka. Memang akan menjadi perjuangan yang berat dan panjang bagi para orang tua dengan anak berkebutuhan khusus, tapi mudah-mudahan dengan berbagi beban itu bisa terasa lebih ringan.
Disarikan dari berbagai tulisan.
b. Mempunyai kemampuan tinggi dalam problem solving, kreatifitas tinggi dan produktif.
c. Memiliki keunggulan dibidang akademik/seni/sastra/verba
d. Memiliki kemampuan kepemimpinan yang teliti dan visioner.
dan seterusnya. Sebenarnya segala kelebihan itu bukan satu-satunya ciri anak gifted. anak-anak berbakat seringkali justru menjadi anak-anak yang sukar dimengerti, susah diatur, keras kepala, terlalu eksploratif, bahkan ada yang mengalami gejala telat bicara. Mereka butuh dimengerti, karena bakat mereka membuat mereka punya kemampuan dan cara berbeda untuk belajar dan mengembangkan diri. Dalam beberapa kasus, anak-anak berbakat sering disalah golongkan menjadi anak Hiperaktif, anak Autis
bahkan - seperti dalam kasus Albert Einstein - ia dikategorikan sebagai idiot oleh guru sekolah dasarnya, dan disarankan untuk keluar sekolah normal. Kesalahan penggolongan itu bisa sangat membahayakan masa depan anak jika tidak diperbaiki. Anak anak ini termasuk anak spesial, yang membutuhkan penanganan spesial untuk mengeluarkan potensinya.
2. Indigo Children
Anak-anak Indigo dilahirkan dengan kelebihan diluar nalar manusia. Beberapa bisa berkomunikasi dengan mahluk gaib, lainnya memiliki kemampuan intuisi yang kuat, terkadang mampu memprediksi sesuatu sebelum terjadi, meramalkan sesuatu yang bersifat futuristik yang mungkin beberapa waktu (tahun/abad) baru diketahui orang normal. perkembangan anak-anak ini sulit dinalar orang tua, karena biasanya mereka mengalami pengalaman berupa penglihatan, pendengaran atau pengetahuan yang hanya akan dianggap khayalan, halusinasi atau sesuatu yang dianggap hanya karangan oleh orang tua mereka sendiri. Banyak aak-anak indigo yang berakhir di rumah sakit jiwa atau psikiater mental karena ketidak mengertian orang tua, apalagi di daerah yang penduduknya kurang percaya hal-hal diluar nalar.
Semoga tulisan diatas bisa berguna bagi para pembaca. Saya hanya ingin mengingatkan para orang tua agar percaya pada perkembangan dan potensi anak, seperti apapun kondisinya. Sudah banyak contoh, anak-anak spesial pun bisa berprestasi dan menghasilkan sesuatu yang hebat jika diberikan kebutuhan khusus mereka. Memang akan menjadi perjuangan yang berat dan panjang bagi para orang tua dengan anak berkebutuhan khusus, tapi mudah-mudahan dengan berbagi beban itu bisa terasa lebih ringan.
Disarikan dari berbagai tulisan.
Dongeng dua saudara
Alkisah disebuah negeri antah berantah hiduplah dua perempuan yang sangat dekat tepat tinggalnya. yang satu bernama Nesia dan yang satu bernama Aysia. Mereka sebenarnya masih saudara sepupu, tapi sayangnya kedua saudara ini tidak terlalu baik silaturahminya.
Aysia bekerja sebagai pegawai pemerintahan dan memiliki gaji bulanan yang cukup besar, sementara Nesia adalah seniman dan pekerja serabutan yang mengerjakan apapun untuk hidupnya. Dilihat dari penghasilan, tentu saja Aysia lebih unggul, tapi di lingkungan mereka Nesia lebih terpandang. Nesia selalu lebih dekat dan lebih dipercaya oleh masyarakat sekitar. Sebenarnya tidak heran hal itu terjadi, Nesia seniman berbakat. dia selalu punya hasil karya yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Mulai dari kain indah untuk upacara, tari-tarian penghangat suasana sampai resep-resep lezat untuk makan-makan bersama. Setiap ada kegiatan sosial, Nesia selalu menjadi pusat perhatian. karena hal itu Aysia benar-benar kesal pada Nesia.
Sebagai pegawai Aysia memang berlebihan secara materi, tapi tak ada yang bisa dibanggakan dalam hidupnya. Seluruh pekerjaannya adalah milik perusahaan, tak ada yang bisa dibanggakan sebagai karyanya. Sebaliknya Nesia memang kekurangan, tapi kemanapun Aysia pergi dia mendengar Nesia disebut-sebut.
Masakan itu resep dari Nesia... betapa indah interior rumah Nesia.... tarian itu gubahan Nesia... kenapa tidak tanya Nesia.... kain indah ini dari Nesia... dimana-mana Aysia mendengar Nesia dipuji-puji. Nesia seperti ada dimana-mana. hal itu membuat Aysia sangat membenci Nesia. Apalagi dia juga merasa Nesia sangat beruntung, tidak perlu berangkat kerja pagi-pagi, bisa bercengkrama dengan tetangga setiap senja. Rasanya Nesia bebas sementara Aysia, walaupun sudah manajer, merasa segala tindakannya diawasi sang bos. Aysia iri sekali pada Nesia.
Yang tidak dipahami oleh Aysia, sebenarnya Nesia juga iri padanya.
Nesia sadar usianya semakin bertambah, sementara pekerjaannya tak jua memberikan sinar terang padanya. Nesia memang punya banyak ketrampilan dan karya, tapi karyanya hanya membarikan kebanggaan dan bukan masa depan. ia hanya punya uang pada waktu-waktu tertentu, padahal usianya semakin bertambah. Nesia sedikit iri pada Aysia yang lebih muda darinya tapi sudah menjadi manager dan memiliki penghasilan bulanan besar. Nesia tahu Aysia punya masa depan yang cerah.
Rasa iri memang bisa membutakan seperti cinta. Karena rasa irinya, Aysia memutuskan untuk mengakui hasil karya Nesia sebagai miliknya. Aysia pun dengan senyum diwajahnya bertamu kerumah Nesia, berusaha mempelajari segala kreatifitas dan keunggulan Nesia. Sebagai saudara, Nesia menerima dengan pamrih, semoga Aysia mengajaknya makmur bersama. syukur-syukur diajak berbisnis bersama. Sayang Aysia punya maksud berbeda.
Begitu merasa sudah menguasai ilmu dan kreativitas Nesia, Aysia langsung bergerak. Dia menyebarkan pamflet dan membujuk orang-orang untuk percaya, bahwa pembuat karya-karya yang berserak di lingkungan rumahnya adalah Aysia, bukan Nesia. Dengan cerdas, Aysia mengemas karya-karya Nesia dengan bungkus baru dan melabelinya dengan merk Aysia. hak paten juga diurus dengan rajin. dalam beberapa waktu saja, mulai ada yang percaya bahwa Aysia adalah awal penciptaan segala jenis karya dilingkungan mereka.
Kontan Nesia marah. Satu-satunya modal untuk hidupnya dicuri oleh Aysia. Segera saja Nesia menuntut Aysia menyatakan yang sebenarnya. Ditantangnya Aysia membuktikan pada khalayak untuk membuat karya itu didepan umum. Walau Aysia telah belajar mati-matian, tetap saja ia hanya peniru di hadapan sang maestro Nesia. Aysia gagal membuat karya sekualitas Nesia, dan terpaksa mengakui bahwa sebenarnya segala karya itu adalah milik Nesia. Nesia pun puas dan kembali ke kehidupannya yang lamban dan tentram.
Tapi Aysia belum selesai, dalam tujuannya mencari jati diri dan akar tujuan keberadaannya, dia merasa harus memiliki karya yang diakui masyarakat. Ia harus memiliki sebagian karya Nesia. maka terjadilah lagi, kini resep-resep masakan sang Nesia diakuinya lagi. sekali lagi sejarah berulang. Nesia marah dan menuntut pembuktian lagi... Seperti tindakan yang sia-sia, kedua bersaudara itu melupakan keterkaitan mereka dan meneriakan kata-kata makian. Nesia mengatai Aysia sebagai maling, sementara Aysia menghina Nesia sebagai orang bodoh dan miskin.
bagi Nesia karya-karyanya adalah harapan untuk bertahan di masa depan, sedang bagi Aysia karya-karya itu adalah kaitannya, akarnya pada masa lalu dan aktualisasi dirinya. Mereka benar-benar merasa harus bertikai karena masalah pengakuan karya itu.
Sayangnya, dongeng ini belum berakhir, dan dari gejala yang akhir-akhir ini terjadi tampaknya tak akan ada happy ending gaya hollywood di akhir dongeng ini.....
Aysia bekerja sebagai pegawai pemerintahan dan memiliki gaji bulanan yang cukup besar, sementara Nesia adalah seniman dan pekerja serabutan yang mengerjakan apapun untuk hidupnya. Dilihat dari penghasilan, tentu saja Aysia lebih unggul, tapi di lingkungan mereka Nesia lebih terpandang. Nesia selalu lebih dekat dan lebih dipercaya oleh masyarakat sekitar. Sebenarnya tidak heran hal itu terjadi, Nesia seniman berbakat. dia selalu punya hasil karya yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Mulai dari kain indah untuk upacara, tari-tarian penghangat suasana sampai resep-resep lezat untuk makan-makan bersama. Setiap ada kegiatan sosial, Nesia selalu menjadi pusat perhatian. karena hal itu Aysia benar-benar kesal pada Nesia.
Sebagai pegawai Aysia memang berlebihan secara materi, tapi tak ada yang bisa dibanggakan dalam hidupnya. Seluruh pekerjaannya adalah milik perusahaan, tak ada yang bisa dibanggakan sebagai karyanya. Sebaliknya Nesia memang kekurangan, tapi kemanapun Aysia pergi dia mendengar Nesia disebut-sebut.
Masakan itu resep dari Nesia... betapa indah interior rumah Nesia.... tarian itu gubahan Nesia... kenapa tidak tanya Nesia.... kain indah ini dari Nesia... dimana-mana Aysia mendengar Nesia dipuji-puji. Nesia seperti ada dimana-mana. hal itu membuat Aysia sangat membenci Nesia. Apalagi dia juga merasa Nesia sangat beruntung, tidak perlu berangkat kerja pagi-pagi, bisa bercengkrama dengan tetangga setiap senja. Rasanya Nesia bebas sementara Aysia, walaupun sudah manajer, merasa segala tindakannya diawasi sang bos. Aysia iri sekali pada Nesia.
Yang tidak dipahami oleh Aysia, sebenarnya Nesia juga iri padanya.
Nesia sadar usianya semakin bertambah, sementara pekerjaannya tak jua memberikan sinar terang padanya. Nesia memang punya banyak ketrampilan dan karya, tapi karyanya hanya membarikan kebanggaan dan bukan masa depan. ia hanya punya uang pada waktu-waktu tertentu, padahal usianya semakin bertambah. Nesia sedikit iri pada Aysia yang lebih muda darinya tapi sudah menjadi manager dan memiliki penghasilan bulanan besar. Nesia tahu Aysia punya masa depan yang cerah.
Rasa iri memang bisa membutakan seperti cinta. Karena rasa irinya, Aysia memutuskan untuk mengakui hasil karya Nesia sebagai miliknya. Aysia pun dengan senyum diwajahnya bertamu kerumah Nesia, berusaha mempelajari segala kreatifitas dan keunggulan Nesia. Sebagai saudara, Nesia menerima dengan pamrih, semoga Aysia mengajaknya makmur bersama. syukur-syukur diajak berbisnis bersama. Sayang Aysia punya maksud berbeda.
Begitu merasa sudah menguasai ilmu dan kreativitas Nesia, Aysia langsung bergerak. Dia menyebarkan pamflet dan membujuk orang-orang untuk percaya, bahwa pembuat karya-karya yang berserak di lingkungan rumahnya adalah Aysia, bukan Nesia. Dengan cerdas, Aysia mengemas karya-karya Nesia dengan bungkus baru dan melabelinya dengan merk Aysia. hak paten juga diurus dengan rajin. dalam beberapa waktu saja, mulai ada yang percaya bahwa Aysia adalah awal penciptaan segala jenis karya dilingkungan mereka.
Kontan Nesia marah. Satu-satunya modal untuk hidupnya dicuri oleh Aysia. Segera saja Nesia menuntut Aysia menyatakan yang sebenarnya. Ditantangnya Aysia membuktikan pada khalayak untuk membuat karya itu didepan umum. Walau Aysia telah belajar mati-matian, tetap saja ia hanya peniru di hadapan sang maestro Nesia. Aysia gagal membuat karya sekualitas Nesia, dan terpaksa mengakui bahwa sebenarnya segala karya itu adalah milik Nesia. Nesia pun puas dan kembali ke kehidupannya yang lamban dan tentram.
Tapi Aysia belum selesai, dalam tujuannya mencari jati diri dan akar tujuan keberadaannya, dia merasa harus memiliki karya yang diakui masyarakat. Ia harus memiliki sebagian karya Nesia. maka terjadilah lagi, kini resep-resep masakan sang Nesia diakuinya lagi. sekali lagi sejarah berulang. Nesia marah dan menuntut pembuktian lagi... Seperti tindakan yang sia-sia, kedua bersaudara itu melupakan keterkaitan mereka dan meneriakan kata-kata makian. Nesia mengatai Aysia sebagai maling, sementara Aysia menghina Nesia sebagai orang bodoh dan miskin.
bagi Nesia karya-karyanya adalah harapan untuk bertahan di masa depan, sedang bagi Aysia karya-karya itu adalah kaitannya, akarnya pada masa lalu dan aktualisasi dirinya. Mereka benar-benar merasa harus bertikai karena masalah pengakuan karya itu.
Sayangnya, dongeng ini belum berakhir, dan dari gejala yang akhir-akhir ini terjadi tampaknya tak akan ada happy ending gaya hollywood di akhir dongeng ini.....
joke
for Indonesian only:
alkisah negara M'sia sedang mencari seorang ahli pembuat kerak telor, karena di sana belum ada yang bisa membuat kerak telor rasa betawi asli. Rencananya sang pembuat kerak telor itu akan diminta melatih para pembuat kerak telor di M'sia, supaya 5 - 6 tahun lagi kerak telor bisa dilahirkan sebagai budaya asli M'sia. Terpilihlah Bang Ali, seorang maestro kerak telor dari Jagakarsa.
Untuk memperlancar upaya membujuk maka dikirimlah ahli intelejen dan pembujukan, datuk nuurdin. Misinya membujuk Bang Ali pindah jadi warga negara M'sia. Maka sang datuk langsung mendatangi bang ALi, dia menawarkan segala hal pada bang Ali yang kebingungan.
Nuurdin : "pokoknya kalo Abang ali mau pindah duduk di tanah diraja M'sia, apapun bisa diberikan..."
Bang Ali : "duduk doangan, maksudnye?"
Nuurdin : "duduk itu maksudnye stay...moving...berdiam..di M'sia"
Bang Ali : "Emang mau disuruh apaan gue di sono?"
Nuurdin : "Melatih studentmembuat kerak telor la..."
Bang Ali : "Bikin kerak telor? hahaha.. bole juga...dibayar berape ane?"
Nuurdin : "Bayar berapa pun bisa lah.. minta apapun bole lah...kami kaya benar tu. semua kami punya..
"kayu kami punya; tinggal ambil di Borneo... Minyak kami ada, tinggal sedot dari riau...
"Pariwisata kami lah booming, ada banyak pertujukan budaya milik kami
"macam reoq, tari piring, batik, tempe, pencak silat... semua milik kami...tinggal kerak telor
"yang belum kami miliki.. ayo minta lah...ape saja.."
Bang Ali : "aduuh gimana ye datuk..ane gak biasa minta-minta nih..."
Nuurdin : "minta lah..ape saje..."
Bang Ali : "bener nih? ape aje?"
Nuurdin : "apa saje.."
Bang Ali : "Saya minta...saya..aduh saya minta...ahh ...Malu ....datuk.."
Bang Ali tersipu sipu karena tidak terbiasa meminta sesuatu. Ternyata datuk Nuurdin malah kebingungan. diapun menjawab:
Nuurdin : "Wah.. maaf Bang Ali... kalau Malu sih kami tak pernah punya...."
.........
kabarnya terakhir sang datuk tengah mengincar ahli budaya khas Indonesia yang lain, yang dianggap akan memperlancar misi M'sia mencari kebudayaan asli m'sia yang lain dari berbagai negara asia lain.
Sang datuk kini mencari seniman 'babi ngepet'...wakakakak
nb:
buat orang M'sia jangan tersinggung ya...ini joke alias humor kok. jangan marah... masak mau bilang bahwa selain malu M'sia nggak punya sense of humor juga?
jangan di forward!!
alkisah negara M'sia sedang mencari seorang ahli pembuat kerak telor, karena di sana belum ada yang bisa membuat kerak telor rasa betawi asli. Rencananya sang pembuat kerak telor itu akan diminta melatih para pembuat kerak telor di M'sia, supaya 5 - 6 tahun lagi kerak telor bisa dilahirkan sebagai budaya asli M'sia. Terpilihlah Bang Ali, seorang maestro kerak telor dari Jagakarsa.
Untuk memperlancar upaya membujuk maka dikirimlah ahli intelejen dan pembujukan, datuk nuurdin. Misinya membujuk Bang Ali pindah jadi warga negara M'sia. Maka sang datuk langsung mendatangi bang ALi, dia menawarkan segala hal pada bang Ali yang kebingungan.
Nuurdin : "pokoknya kalo Abang ali mau pindah duduk di tanah diraja M'sia, apapun bisa diberikan..."
Bang Ali : "duduk doangan, maksudnye?"
Nuurdin : "duduk itu maksudnye stay...moving...berdiam..d
Bang Ali : "Emang mau disuruh apaan gue di sono?"
Nuurdin : "Melatih studentmembuat kerak telor la..."
Bang Ali : "Bikin kerak telor? hahaha.. bole juga...dibayar berape ane?"
Nuurdin : "Bayar berapa pun bisa lah.. minta apapun bole lah...kami kaya benar tu. semua kami punya..
"kayu kami punya; tinggal ambil di Borneo... Minyak kami ada, tinggal sedot dari riau...
"Pariwisata kami lah booming, ada banyak pertujukan budaya milik kami
"macam reoq, tari piring, batik, tempe, pencak silat... semua milik kami...tinggal kerak telor
"yang belum kami miliki.. ayo minta lah...ape saja.."
Bang Ali : "aduuh gimana ye datuk..ane gak biasa minta-minta nih..."
Nuurdin : "minta lah..ape saje..."
Bang Ali : "bener nih? ape aje?"
Nuurdin : "apa saje.."
Bang Ali : "Saya minta...saya..aduh saya minta...ahh ...Malu ....datuk.."
Bang Ali tersipu sipu karena tidak terbiasa meminta sesuatu. Ternyata datuk Nuurdin malah kebingungan. diapun menjawab:
Nuurdin : "Wah.. maaf Bang Ali... kalau Malu sih kami tak pernah punya...."
.........
kabarnya terakhir sang datuk tengah mengincar ahli budaya khas Indonesia yang lain, yang dianggap akan memperlancar misi M'sia mencari kebudayaan asli m'sia yang lain dari berbagai negara asia lain.
Sang datuk kini mencari seniman 'babi ngepet'...wakakakak
nb:
buat orang M'sia jangan tersinggung ya...ini joke alias humor kok. jangan marah... masak mau bilang bahwa selain malu M'sia nggak punya sense of humor juga?
jangan di forward!!
Monday, August 10, 2009
drama reality penggerebekan Beji
Dengan lancar sang reporter menyampaikan informasi dan kesimpulan yang didapat. diiringi tembakan bertubi-tubi dari DENSUS 88 yang mengepung rumah di Beji, Temanggung itu, sang reporter melaporkan kejadian dengan gagah berani.
dengan berani juga ia memastikan Nurdin M Top ada dirumah itu. Dengan berani ia juga berasumsi orang-orang di rumah itu bersenjata lengkap, walau tak terdengar tembakan balasan dari rumah itu. Reporter itu juga mengabarkan kebodohan Nurdin yang parah sekali. Dikatakan konfirmasi telah dilakukan oleh densus dengan menanyakan langsung pada orang di dalam rumah yang dikepung.. Saat ditanya; Apakah kamu Nurdin atau bukan? suara dari dalam menjawab: Nurdin...
entah kenapa sebuah scene dari film Dono Kasino Indro. Dono bertanya pada maling yang bersembunyi di rumahnya: "itu kucing apa maling?".. terdengar suara jawaban: "kuciinng..."
ha..ha..ha..ha "kamu Nurdin apa kucing?"..."Nurdin" ha..ha..ha
Tapi biar bagaimana, harus ada pujian buat polisi Indonesia..
boleh juga nyanyi seperti mbah surip: enak toh... mantap toh.
hebat memang polisi Indonesia, hanya dalam waktu kurang dari sebulan setelah peledakan Marriot 2, terorisnya sudah bisa digerebek. luar biasa ini, mengingat satu-satunya petunjuk dalam peristiwa itu adalah pelaku pemboman bunuh diri yang sudah berkeping-keping. Seolah-olah polisi sudah memiliki catatan tentang semua teroris yang beroperasi di Indonesia, jadi saat mereka bikin ulah tinggal ciduk saja dari tempat tinggalnya.
hebat memang. Nurdin M Top yang digambarkan sangat licin dan pandai berganti muka sepandai mencari istri muda ternyata persembunyiannya langsung bisa terendus. Teroris Top yang bertahun-tahun dikejar itu bisa digerebek persembunyiannya di sebuah desa antah berantah, kurang dari sebulan setelah berulah lagi di Jakarta. kehebatan polisi bukan itu saja, kelihatannya polisi juga mahir jadi event organizer... lihat saja macam mana hajatan penggerebekan inibisa diliput beberapa TV nasional.
kelihatannya penggerebekan 18 jam untuk menangkap hanya satu orang yang ditugaskan menjaga gudang bom para terroris terlalu lama, tapi mungkin juga dibutuhkan.
supaya kameramen TV sempat membuat liputan dahsyat bak film perang. supaya crew TV sempat mempersiapkan acara live report dari lokasi. para polisi dan DENSUS berseragam gagah, menembakan ratusan peluru yang sebutirnya berharga lebih dari 8000 rupiah. gagah dan garang... hanya untuk meringkus 1 orang teroris.
Reporter TV dari TV satu itu pun tidak mau kalah gaya dengan polisi dan DENSUS. dia ikut sibuk pasang komentar, yang kadang-kadang tidak bisa dipertanggungjawbkan. bahkan ada kata-kata yang menyatakan bahwa dalam siaran langsung seperti itu konfirmasi dan verifikasi tidak perlu dilakukan langsung. Setahu saya journalism is a discipline of verification.. entah bagaimana dengan jurnalisme yang dianut oleh reporter itu..
sayangnya konfirmasinya malah semakin nggak jelas. sang reporter malah tidak menjelaskan dari mana dia mendapat konfirmasi. Padahal dengan berani ia menyatakan di awal acara bahwa di dalam rumah ada 4 orang bersenjata lengkap, dengan senjata laras panjang, laras pendek dan bahkan granat. Ternyata di akhir drama pengepungan 18 jam (atau lebih) yang terlihat digotong tewas hanya satu orang. Sang reporter juga dengan bombastis menyatakan bahwa sosok jenasah yang dibawa keluar sudah dikonfirmasi 80 adalah Nurdin M Top - sekali lagi tanpa menjelaskan konfirmasinya berasal dari siapa-.
Nurdin M Top? benarkah itu Nurdin? kenapa sampai beberapa hari belum ada pernyataan resmi dari polisi? kalau benar itu Nurdin, berarti ini keberhasilan internasional yang layak disebarluaskan ke seluruh dunia. Kalau itu Nurdin, pasti sudah diumumkan polisi. tapimenurut saya, kalau itu Nurdin yang tewas, sungguh sepi akhir hidupnya yang penuh berita.
Aneh....
Nurdin M Top, jaringan teratas dari terorisme Asia tenggara ternyata cuma sendirian di rumah itu. Tanpa pengawalan, tanpa kawan dan pengikut. tidak cocok sama sekali dengan profil persembunyian Nurdin selama ini yang selalu memilih tempat ramai ditengah perkampungan atau komplek perumahan. Nurdin bukan pemurung perakit bom yang akrab dengan senjata berat. Nurdin pandai bergaul (bahkan pandai mencari istri), dan tugasnya mempengaruhi orang untuk membuat dan meledakan diri. dia bakan tidak merakit sendiri bomnya.
kalau profil itu diikuti akan jadi aneh rasanya Nurdin terjebak di rumah itu, dan mati tanpa ditemani. secara logika lebih nalar kalau mengatakan bahwa yang tewas hanya sekedar pesuruh yang diminta menunggui gudang amunisi para teroris. Aneh kalau Nurdin menunggui sendiri bom rakitannya, setelah selama ini selalu menjauh setiap aksi pengeboman dilakukan.
Lebih aneh lagi salah seorang reporter TV swasta yang melakukan siaran langsung, bisa langsung memastikan yang mati adalah NoordinM Top. tanpa ada konfirmasi dari Densus 88 atau pihak berwenang lain.
apapun itu, gaya penampilan sang reporter yang profokatif dan ucapannya yang cenderung kontroversial membuat siaran langsung pengerebekan terasa lebih hidup. suasana terasa tegang dan mencekam (padahal di gambar mereka pun di jarak beberapa meter ada warga duduk-duduk dan menonton penggerebekan). berkat penampilan sensasional para reporternya, show berjalan menarik bagi penonton.
Melihat cara penayangan yang sudah dipersiapkan, saya jadi merasa seperti menonton film perang. terencana dan teratur rapi. bayangkan, pada saat pengepungan dimulai sudah ada 2 televisi lengkap dengan mobil Live. Buat anda yang awam dengan tatacara live, harap mengerti bahwa mobil satelit televisi selalu besar, dengan parabola diatapnya dan di cat warna-warni sesuai logo TV yang bersangkutan. kalau 2 mobil seperti itu muncul, masak teroris super cerdas model Nurdin M Top tidak sadar adanya penyerbuan..
persiapan yang rapi juga membuat saya curiga; jangan-jangan sebenarnya penggerebekan bisa dilakukan beberapa hari sebelumnya, tapi takut bentrok dengan berita kematian Mbah Surip "the phenomenon". ha..ha..ha..ha..
Berita kecelakaan kereta saja nyaris tak tertayangkan televisi karena terlalu sibuk meliput si Mbah yang sudah mangkat.
apapun itu, penggerebekan ini sudah dijadikan komoditas yang baik. show yang mantap. sedikit kebohongan publik seperti di halalkan demi membuat tontonan menarik. mungkin memang seperti inilah trend pemberitaandi masa depan, gabungan antara breaking news dan termehek-mehek.
pendapat pribadi:
saya sungguh kesal dengan tingkah reporter dari TV satu yang terus menyiarkan live insiden ini. kalau dari pihak berwenang sampai beberapa hari belum juga mengkonfirmasi, bagaimana mungkin seorang reporter dalam kondisi konflik, hanya beberapa menit dilapangan bisa mengkonfirmasi bahwa orang dalam rumah yang terkepung adalah Nurdin; orang paling dicari di seluruh Asia. kemudian segera seusai drama sang reporter bisa langsung memastikan - bukan dugaan- yang tertembak mati adalah Nurdin, tanpa ada bukti konfirmasi dari polisi.
disampaikan secara live dan penuh keyakinan, menurut saya itu gegabah dan sombong kelewatan. sang reporter membohongi publik dengan arogansinya yang melupakan azas azas dasar jurnalistik, macam; cek dan re check, akurasi before speed, atau verifikasi ke pihak yang berwenang.
dan ini dilakukan seorang reporter dari TV satu yang mengklaim sebagai TV berita? apa tidak ada teguran dari pimpinannya yang katanya salah satu leading role dalam dunia berita televisi di Indonesia? menipu masyarakat dalam tayangan live report menurut saya bukan jurnalisme, itu cuma berjualan informasi (yang keliru!) dengan cara yang kasar... memalukan menurut saya! (tapi ini menurut saya, entah menurut mereka)
aku terkesan sebagai penonton
aku berduka sebagai jurnalis
aku terkesima sebagai broadcaster
dimana kode etik?
Wednesday, July 22, 2009
cupang saya

Saya sedang kesengsem sama betta splenden alias cupang. ikan-ikan kecil ini ternyata sangat mudah dipelihara dan keindahannya unik. apalagi selalu muncul jenis-jenis barunya.
Awalnya saya membeli dari tukang-tukang ikan di SD anak saya, sekedar berlatih untuk membiakkan ikan cupang. ternyata tidak terlalu sulit. Hanya dalam beberapa minggu saya sudah berhasil menetaskan telur ikan tersebut.
berikutnya saya mulai mencari cupang di petani-petani cupang. saat itu saya baru sadar bahwa ikan-ikan kecil ini berharga mahal juga kalau keindahannya terjaga. Saya teringat jaman saya masih sekolah di SDkarang mulya 2, di Ciledug dan tangerang. saat itu saya sekolah di SD kampung yang dikelilingi sawah. Cupang masih banyak beredar di selokan dan sawah. Saya dan beberapa teman senang memelihara cupang, yang waktu itu bukan karena keindahan siripnya tapi dari keberanian si Cupang 'ngedok' ke lawan-lawannya. saya tak berani mengadu cupang karena takut nanti saat meninggal akan di adu juga -itu legenda yang diceritakan pengasuh saya dulu untuk mencegah saya mengadu cupang-, jadi biasanya saya hanya akan mengadu daya tahan sang cupang menakuti lawannya.

ada beberapa ikan cupang saya sekarang yang sudah cukup indah, tapi saya pikir kalau dibuat kontes masih jauh. jadilah saya peternak ikan cupang amatiran di rumah. saat ini ada sekitar 20an ekor ikan dewasa dan beberapa puluh yang masih bayi dirumah saya.

hobi baru ini ternyata cukup menyenangkan dan menenangkan. saya jadi sering berada di rumah, dan saban sebentar melirik peliharaan saya yang ditaruh di pojokan rumah. rasanya menenangkan melihat mereka berenang dan mengibaskan siripnya yang berwarna-warni.
sampai saat ini saya hanya memelihara cupang untuk keindahannya. saya masih saja takut untuk memelihara ikan aduan yang katanya justru lebih populer. bukan karena cerita yang dulu itu, tapi lebih karenasaya tidak tega melihat mereka saling bertarung dan bahkan membunuh. walaupun kata teman saya, cupang lebih bernilai dalam segi ekonomis sebagai cupang aduan, saya mash belum berminat. yah, paling tidak saya bisa menikmati keindahan betta splenden ini di waktu senggang saya.
MEMAAFKAN SAHABAT
baru dengar beberapa teman saya berkelahi lewat internet. yang satu tersinggung dibilang seperti orang miskin, lalu dia membalas dengan sarkastik, mengatakan teman yang menghina dia sebagai orang kaya. hm..duit memang sensitif ya. dibilang kebanyakan duit katanya menghina, dibilang gak punya duit terasa menghina juga.
kalau saya sih dibilang orang kaya, saya akan berterima kasih. saya akan menganggap itu doa yang positif. mengharapkan saya jadi orang yang lebih kaya. kalau dibilang orang miskin, saya juga akan berterima kasih. itu pujian lo... karena orang miskin itu lebih tabah, lebih tegar dan lebih merendah. kalau saya dianggap orang miskin berarti saya sudah cukup merendah..ya nggak? apalagi sebagian besar orang yang masuk surga adalah kelompok dhuafa.
kembali lagi ke permasalahan perkelahian via internet tadi. dua orang teman saya yang tadinya sahabat dan mengaku lebih dekat dari saudara, bisa terpancing emosinya karena chatting sembarangan, becandaan di internet.
Memang bahaya bercanda sembarangan. tahu nggak? 30 persen pembunuhan terjadi karena uang, sisanya adalah karena masalah cinta dan salah paham. bercanada adalah cara paling cepat untuk menuju salah paham, karena selera humor setiap orang berbeda. Masalah yang biasa bagi satu orang bisa dianggap sangat sensitif buat orang lain.
Saya termasuk orang yang sangat kaku dan susah bercanda. banyak hal yangbuat saya terlalu sensitif buat bercanda, jadi saya paham betul bagaimana bercanda bisa menjadi bahan bakar terbaik untuk ledakan emosi.
kedua sahabat saya memulai pertengkaran dengan saling menghina, kemudian berlanjut dengan masing-masing memanggil dengan sebutan yang tidak disukai. yang paling para, muncul keberpihakan dari teman-teman lainnya. ini sama saja menyiram minyak tanah ke kayu terbakar. pertengkaran tidak lagi antara dua orang, tapi berkembang menjadi wacana perpecahan serius di kelompok kami yang dulunya sangat kompak.
ah, sebagai penulis lepas yang sok tahu, saya punya teori. Ada 4 hal yang sangat sensitif dan punya kemampuan besar merusak persahabatan.
1. uang. ini faktor utama dan terbesar. seringkali percakapan, pembahasan atau bahkan sekedar perkiraan tentang perputaran uang bisa membuat orang saling bermusuhan. tuduhan kecil terkait dengan uang bisa dianggap sangat serius. cap sebagai rakus, serakah, pelit, pencuri dsb, bisa dipastikan akan menyentuh hati dan menimbulkan ketersinggungan besar.
2. kekuasaan dan power. perebutan kekuasaan, kedudukan atau tahta- atau sekedar dugaan akan adanya usaha merebut kedudukan itu- bisa menimbulkan pertentangan serius diantara para sahabat.
3. lawan jenis. biasanya di dunia yang dikuasai arogansi lelaki faktor ini disebut: perempuan. tapi sebagai laki-laki yang rendah hati, saya juga mempertimbangkan kebalikannya. cinta akan lawan jenis membuat orang kehilangan nalar dan akal sehat. kalau sudah begini emosi dan cemburu bisa menjadi pemicu pertengkaran.
4. sebutan yang menyinggung. karena terlalu dekat dan akrab, seringkali para sahabat merasa bercandaan seperti apapun akan dimengerti oleh sahabatnya. padahal setiap orang punya batasan. belum lagi kalau faktor mood, faktor suasana hati juga diperhitungkan. becandaan sederhana bisa jadi sangat menyinggung kalau diucapkan di saat yang tidak tepat.
saya sangat menghargai persahabatan. kalau saat ini disodorkan uang sebanyak apapun, tapi diminta mengorbankan persahabatan. saya pasti langsung menolak uang itu. kalau ditawari kedudukan setinggi presiden pun, saya dengan mudah tetap akan memilih persahabatan. begitu juga alau disodori perempuan tercantik di jagad ini...saya akan berpikir keras dan dengan berat hati menolaknya...
sayangnya, saya juga tidak tahu kapan saya terpeleset dan menggunakan sebutan yang menyinggung sahabat saya. terkadang saya berlebihan dan jadi tidak waspada untuk menjaga perasaan teman saya. karena itulah maka saya punya dua cara untuk mempererat ikatan persahabatan dan mencegahnya putus di jalan, yaitu:
meminta maaf lebih dulu saat ada pertengkaran. tak peduli siapa yang berbuat salah lebih dahulu, pertengkaran dan perselisihan hanya mungkin terjadi jika ada dua pihak terlibat, berarti keduanya bertanggung jawab.
memaafkan secepatnya kalau ada sahabat yang meminta maaf pada saya, karena sadar bahwa kali yang lain mungkin saya yang akan keliru kata.
didit
SAVE OUR FRIENDSHIP!
Orang-orang besar adalah mereka yang lebih dahulu meminta maaf atas kesalahannya dan lebih dahulu memaafkan orang yang berbuat salah padanya.
kalau saya sih dibilang orang kaya, saya akan berterima kasih. saya akan menganggap itu doa yang positif. mengharapkan saya jadi orang yang lebih kaya. kalau dibilang orang miskin, saya juga akan berterima kasih. itu pujian lo... karena orang miskin itu lebih tabah, lebih tegar dan lebih merendah. kalau saya dianggap orang miskin berarti saya sudah cukup merendah..ya nggak? apalagi sebagian besar orang yang masuk surga adalah kelompok dhuafa.
kembali lagi ke permasalahan perkelahian via internet tadi. dua orang teman saya yang tadinya sahabat dan mengaku lebih dekat dari saudara, bisa terpancing emosinya karena chatting sembarangan, becandaan di internet.
Memang bahaya bercanda sembarangan. tahu nggak? 30 persen pembunuhan terjadi karena uang, sisanya adalah karena masalah cinta dan salah paham. bercanada adalah cara paling cepat untuk menuju salah paham, karena selera humor setiap orang berbeda. Masalah yang biasa bagi satu orang bisa dianggap sangat sensitif buat orang lain.
Saya termasuk orang yang sangat kaku dan susah bercanda. banyak hal yangbuat saya terlalu sensitif buat bercanda, jadi saya paham betul bagaimana bercanda bisa menjadi bahan bakar terbaik untuk ledakan emosi.
kedua sahabat saya memulai pertengkaran dengan saling menghina, kemudian berlanjut dengan masing-masing memanggil dengan sebutan yang tidak disukai. yang paling para, muncul keberpihakan dari teman-teman lainnya. ini sama saja menyiram minyak tanah ke kayu terbakar. pertengkaran tidak lagi antara dua orang, tapi berkembang menjadi wacana perpecahan serius di kelompok kami yang dulunya sangat kompak.
ah, sebagai penulis lepas yang sok tahu, saya punya teori. Ada 4 hal yang sangat sensitif dan punya kemampuan besar merusak persahabatan.
1. uang. ini faktor utama dan terbesar. seringkali percakapan, pembahasan atau bahkan sekedar perkiraan tentang perputaran uang bisa membuat orang saling bermusuhan. tuduhan kecil terkait dengan uang bisa dianggap sangat serius. cap sebagai rakus, serakah, pelit, pencuri dsb, bisa dipastikan akan menyentuh hati dan menimbulkan ketersinggungan besar.
2. kekuasaan dan power. perebutan kekuasaan, kedudukan atau tahta- atau sekedar dugaan akan adanya usaha merebut kedudukan itu- bisa menimbulkan pertentangan serius diantara para sahabat.
3. lawan jenis. biasanya di dunia yang dikuasai arogansi lelaki faktor ini disebut: perempuan. tapi sebagai laki-laki yang rendah hati, saya juga mempertimbangkan kebalikannya. cinta akan lawan jenis membuat orang kehilangan nalar dan akal sehat. kalau sudah begini emosi dan cemburu bisa menjadi pemicu pertengkaran.
4. sebutan yang menyinggung. karena terlalu dekat dan akrab, seringkali para sahabat merasa bercandaan seperti apapun akan dimengerti oleh sahabatnya. padahal setiap orang punya batasan. belum lagi kalau faktor mood, faktor suasana hati juga diperhitungkan. becandaan sederhana bisa jadi sangat menyinggung kalau diucapkan di saat yang tidak tepat.
saya sangat menghargai persahabatan. kalau saat ini disodorkan uang sebanyak apapun, tapi diminta mengorbankan persahabatan. saya pasti langsung menolak uang itu. kalau ditawari kedudukan setinggi presiden pun, saya dengan mudah tetap akan memilih persahabatan. begitu juga alau disodori perempuan tercantik di jagad ini...saya akan berpikir keras dan dengan berat hati menolaknya...
sayangnya, saya juga tidak tahu kapan saya terpeleset dan menggunakan sebutan yang menyinggung sahabat saya. terkadang saya berlebihan dan jadi tidak waspada untuk menjaga perasaan teman saya. karena itulah maka saya punya dua cara untuk mempererat ikatan persahabatan dan mencegahnya putus di jalan, yaitu:
meminta maaf lebih dulu saat ada pertengkaran. tak peduli siapa yang berbuat salah lebih dahulu, pertengkaran dan perselisihan hanya mungkin terjadi jika ada dua pihak terlibat, berarti keduanya bertanggung jawab.
memaafkan secepatnya kalau ada sahabat yang meminta maaf pada saya, karena sadar bahwa kali yang lain mungkin saya yang akan keliru kata.
didit
SAVE OUR FRIENDSHIP!
Orang-orang besar adalah mereka yang lebih dahulu meminta maaf atas kesalahannya dan lebih dahulu memaafkan orang yang berbuat salah padanya.
Wednesday, August 06, 2008
5 Agustus 2008
The band was a hit.
only 1 years after formed, this band are performing in various national stage. They have three single that been played around kids radio's around china. and one of the single was chosen to be a one of theme song of Beijing olympics. They have great future ahead..
Well, they have good skills, but that was not the only good things they have. Their Parents was their most loyal supporters. Even when we came, their parents are becoming their Public Relations that pick us up at the train stations, Producers that set up the meeting with the media, Fund raisers that rent the special studios just to perform in front of the media (which is us) and still be the parents that carried the bag of these stars.
Their parents was backing them up 100%. With money, affection and great efforts. It was the golden tickets to be a future popstars band. but, you know what? On the interview I found out that they didnt even want to be a popstars. The Bassis want to be a sports stars, the guitarist wanna be solo guitarist, The keyboardist dream to became physics scientist, and the girl that play drums just want to be a Disc Jockey.
Amazing, they have what most kids only dream of, and they just wanna be something else.
This is a new phenomena in China. The booming of china economics and the rules that say every Chinese family only can have one kids, create this kinda kids. Childrens that have all the opportunities, chance to get more educations, training, fascilities and supports. Childrens that can developed their skills and potential talent to the maximum.
Winfried, my editor, say that this could create a new generation of chinese, that are very talented and powerfull. Yes I said, but I also thinking the opposite. What if the creation is a generation of spoiled kids, that think money will buy everything and they have the right to do anything if they have money. frightening ... at least for me.
But I will think for the best, and when I say good bye to the band, I wish all the best for them.
May this really nice kids can succeded in the future, in everything they do.
PS:
I admitted a little bit jealous when they say that their hobbies is riding their horses, swimming or playing golf with their parents. I'm jealous, since my parents haven't had that much time to spent with me.....
"Childrens are the same everywhere, what makes them grow differently was theirMeeting a popstar is something special, but meeting 8 years old popstars is an unforgetable experience. In Tian jin, I met the 20088 band. it was a band of four kids that have the same age, 8 years old. as I watch them play, I was amazed. Not by the skill they have, which is very good, but the place where they played. It was a nice big studio, fill with lots of expensive musical instruments. It was a big art school for children. After the interview I realize that their parent are VERY wealthy. This band was formed by the teacher of that art club that see their potensial talent.
parents. But, even perfect parents can't predict what will their kids becoming... "
The band was a hit.
only 1 years after formed, this band are performing in various national stage. They have three single that been played around kids radio's around china. and one of the single was chosen to be a one of theme song of Beijing olympics. They have great future ahead..
Well, they have good skills, but that was not the only good things they have. Their Parents was their most loyal supporters. Even when we came, their parents are becoming their Public Relations that pick us up at the train stations, Producers that set up the meeting with the media, Fund raisers that rent the special studios just to perform in front of the media (which is us) and still be the parents that carried the bag of these stars.
Their parents was backing them up 100%. With money, affection and great efforts. It was the golden tickets to be a future popstars band. but, you know what? On the interview I found out that they didnt even want to be a popstars. The Bassis want to be a sports stars, the guitarist wanna be solo guitarist, The keyboardist dream to became physics scientist, and the girl that play drums just want to be a Disc Jockey.
Amazing, they have what most kids only dream of, and they just wanna be something else.
This is a new phenomena in China. The booming of china economics and the rules that say every Chinese family only can have one kids, create this kinda kids. Childrens that have all the opportunities, chance to get more educations, training, fascilities and supports. Childrens that can developed their skills and potential talent to the maximum.
Winfried, my editor, say that this could create a new generation of chinese, that are very talented and powerfull. Yes I said, but I also thinking the opposite. What if the creation is a generation of spoiled kids, that think money will buy everything and they have the right to do anything if they have money. frightening ... at least for me.
But I will think for the best, and when I say good bye to the band, I wish all the best for them.
May this really nice kids can succeded in the future, in everything they do.
PS:
I admitted a little bit jealous when they say that their hobbies is riding their horses, swimming or playing golf with their parents. I'm jealous, since my parents haven't had that much time to spent with me.....
Beijing Behind the Cover
Jalan dan Lalu Lintas Beijing,
Saya cinta Indonesia, dan selalu beranggapan bahwa Indonesia adalah salah satu dari bangsa besar yang ada di muka bumi, tapi kunjungan ke Beijing, China, sempat menggoyahkan keyakinan saya.
(baca sampai selesai, Baru komentar)
setelah kagum habis-habisan pada hari pertama, hari kedua saya mulai menjelajahi Beijing lebih dalam lagi. Kota tua ini adalah ibukota dari Republik Rakyat China. Sebuah kota budaya yang memiliki banyak sekali peninggalan berharga yang usianya lebih tua dari umur masehi. Menurut penterjemah saya, David, yang juga seorang Guru, kota Beijing merupakan kota budaya, dan bukan kota perdagangan. Di Beijing terdapat pusat pemerintahan dan kekuasaan (karena kaisar selalu tinggal di kota terlarang - sebuah istana kuno yang menakjubkan - di pusat kota Beijing) dan sekaligus pusat kesenian di China. Tak heran penduduknya berkarakter santai dan tenang, tidak seperti Shanghai atau Guang Zhou misalnya.
Beijing seperti Jogjakarta di Indonesia, begitu juga perilaku penduduknya. Kebanyakan tenang dan santun.
Jalanan kota beijing masih mengagumkan saya seperti hari pertama, luas, bersih dan tampak nyaman. Dihari kedua ada sesuatu yang kulihat. Banyak sekali sepeda, sepeda listrik, dan orang-orang yang berjalan kaki disisi kanan jalan. Ternyata disebelah kanan jalan mobil, memang ada line khusus buat pengendara sepeda. lebarnya antara 2 meter sampai 2,5 meter di jalan raya. kalau di Indonesia, jalan segitu pasti udah dianggap layak buat mobil...
Polusi yang dulu selalu identik dengan beijing juga tampak berkurang, langit tampak biru.
Beberapa saat menunggu dipinggir jalan, saya kembali dikejutkan dengan kedatangan sebuah bus gandeng raksasa. saya sebut raksasa karena tingginya hampir dua kali bis PPD. Atapnya kaca dan kaca-kaca di dindingnya juga berukuran sangat besar. Lebih cocok disebut bus pariwisata yang sangat mewah, tapi toh disini hanya jadi bus kota. Ada juga trem yang tampak bersih dan baru di cat ulang. Secara keseluruhan beijing bersih, luas dan Rapi..
Saya tanya pada david, translator saya, kenapa sangat sedikit sepeda motor yang saya lihat di Beijing. jawabannya menarik. Menurut pemerintah China, motor adalah kendaraan yang sangat berbahaya. Sebab itu, sejak 6 tahun lalu mereka mengadakan peraturan pembatasan motor. Pembuatan ijin untuk motor dibuat sangat sulit dan tidak bisa diperbaharui. Setelah beberapa tahun jumlah pengendara motor menurun secara sangat signifikan. Mereka beralih ke sepeda atau sepeda bermotor listrik. Akibatnya, Beijing pun nyaris steril dari sepeda motor.
kedengaran indah? kelihatannya juga indah disini, tapi menurut saya ada yang aneh. Maka saya cari tahu apa yang aneh...
Beijing memang bersolek. Sejak diputuskan menjadi tuan rumah olimpiade (atau ahkan sejak masih mengajukan diri), pemerintah China membuat berbagai peraturan yang ketat terkait dengan lalu lintas di Beijing yang dulu terkesan sangat semrawut. Peraturan khas yang tampaknya tak akan bisa diaplikasikan dinegara lain sesukses di China.
Misalnya untuk mengurangi Polusi dan kemacetan, ternyata sejak beberapa waktu sebelum Olimpiade ada peraturan yang membatasi penggunaan jalan. pada hari-hari tertentu, ada peraturan hanya mobil dengan nomer seri ganjil yang boleh lewat jalan utama, hari lainnya giliran yang genap.
Beberapa bulan menjelang olimpiade sudah diumumkan peraturan yang tegas, bahwa separuh dari jalan utama yang ada di sekitar venue olimpiade hanya bisa dilewati mobil dengan ijin khusus, terkait olimpiade.
pantas saja lalu lintas selalu tampak lancar dan polusi menyusut drastis...
Ada lagi peraturan buka tutup harian. dengan peraturan ini, polisi bisa menutup suatu daerah yang akan dilalui kontingen atau jurnalis dari kendaraan lain.
agak semena-mena tapi efektif untuk membuat para kontingen dan jurnalis tamu merasa perjalanan selalu lancar. Untungnya (atau ruginya..) aku tidak termasuk jurnalis yang punya akreditasi penuh, jadi saya masih merasakan kemacetan dan keseruannya lalu lintas china..
satu lagi yang saya lihat di China, meskipun jalan dan infrastrukturnya sangat baik, kebiasaan penduduknya tampak masih belum menyamai fasilitas itu. Para pengendara sepeda masih menjadi raja jalanan yang membelok seenaknya, dan sering berkendara sampai ke tengah jalan. menyebrang tanpa memberi tanda dan neik ke trotoar. Para pejalan kaki tak kalah kacau, mereka tak peduli pada lalu lintas. kalau lebih dari dua orang, maka mereka akan menyeberang. tak peduli kalau lampu jalan masih berwarna merah buat pejalan kaki.
awalnya heran juga kenapa tak ada sumpah serapah dan klakson bertubi-tubi. walau banyak orang yang sembarangan di jalan, suasana tetap hening.
Rupanya ada peraturan yang melarang klakson bertubi-tubi. ada denda bagi orang yang tertangkap memainkan klaksonnya... pantas saja jalan raya sangat tenang.
selama 4 hari saya di China, saya sudah menyaksikan 4 kecelakaan secara langsung. ada 2 tabrakan mobil, 1 mobil terbalik dan satu lagi mobil parkir yang menabrak saat keluar. dan itu belum terhitung kecelakaan sepeda...
intinya harus hati-hati pada lalu lintas china. bahkan jika anda melangkah di trotoar.
Tampaknya budaya mereka masih sekedar polesan di luar belum mengubah kebiasaan mereka sehari-hari.
Jalan dan Lalu Lintas Beijing,
Saya cinta Indonesia, dan selalu beranggapan bahwa Indonesia adalah salah satu dari bangsa besar yang ada di muka bumi, tapi kunjungan ke Beijing, China, sempat menggoyahkan keyakinan saya.
(baca sampai selesai, Baru komentar)
setelah kagum habis-habisan pada hari pertama, hari kedua saya mulai menjelajahi Beijing lebih dalam lagi. Kota tua ini adalah ibukota dari Republik Rakyat China. Sebuah kota budaya yang memiliki banyak sekali peninggalan berharga yang usianya lebih tua dari umur masehi. Menurut penterjemah saya, David, yang juga seorang Guru, kota Beijing merupakan kota budaya, dan bukan kota perdagangan. Di Beijing terdapat pusat pemerintahan dan kekuasaan (karena kaisar selalu tinggal di kota terlarang - sebuah istana kuno yang menakjubkan - di pusat kota Beijing) dan sekaligus pusat kesenian di China. Tak heran penduduknya berkarakter santai dan tenang, tidak seperti Shanghai atau Guang Zhou misalnya.
Beijing seperti Jogjakarta di Indonesia, begitu juga perilaku penduduknya. Kebanyakan tenang dan santun.
Jalanan kota beijing masih mengagumkan saya seperti hari pertama, luas, bersih dan tampak nyaman. Dihari kedua ada sesuatu yang kulihat. Banyak sekali sepeda, sepeda listrik, dan orang-orang yang berjalan kaki disisi kanan jalan. Ternyata disebelah kanan jalan mobil, memang ada line khusus buat pengendara sepeda. lebarnya antara 2 meter sampai 2,5 meter di jalan raya. kalau di Indonesia, jalan segitu pasti udah dianggap layak buat mobil...
Polusi yang dulu selalu identik dengan beijing juga tampak berkurang, langit tampak biru.
Beberapa saat menunggu dipinggir jalan, saya kembali dikejutkan dengan kedatangan sebuah bus gandeng raksasa. saya sebut raksasa karena tingginya hampir dua kali bis PPD. Atapnya kaca dan kaca-kaca di dindingnya juga berukuran sangat besar. Lebih cocok disebut bus pariwisata yang sangat mewah, tapi toh disini hanya jadi bus kota. Ada juga trem yang tampak bersih dan baru di cat ulang. Secara keseluruhan beijing bersih, luas dan Rapi..
Saya tanya pada david, translator saya, kenapa sangat sedikit sepeda motor yang saya lihat di Beijing. jawabannya menarik. Menurut pemerintah China, motor adalah kendaraan yang sangat berbahaya. Sebab itu, sejak 6 tahun lalu mereka mengadakan peraturan pembatasan motor. Pembuatan ijin untuk motor dibuat sangat sulit dan tidak bisa diperbaharui. Setelah beberapa tahun jumlah pengendara motor menurun secara sangat signifikan. Mereka beralih ke sepeda atau sepeda bermotor listrik. Akibatnya, Beijing pun nyaris steril dari sepeda motor.
kedengaran indah? kelihatannya juga indah disini, tapi menurut saya ada yang aneh. Maka saya cari tahu apa yang aneh...
Beijing memang bersolek. Sejak diputuskan menjadi tuan rumah olimpiade (atau ahkan sejak masih mengajukan diri), pemerintah China membuat berbagai peraturan yang ketat terkait dengan lalu lintas di Beijing yang dulu terkesan sangat semrawut. Peraturan khas yang tampaknya tak akan bisa diaplikasikan dinegara lain sesukses di China.
Misalnya untuk mengurangi Polusi dan kemacetan, ternyata sejak beberapa waktu sebelum Olimpiade ada peraturan yang membatasi penggunaan jalan. pada hari-hari tertentu, ada peraturan hanya mobil dengan nomer seri ganjil yang boleh lewat jalan utama, hari lainnya giliran yang genap.
Beberapa bulan menjelang olimpiade sudah diumumkan peraturan yang tegas, bahwa separuh dari jalan utama yang ada di sekitar venue olimpiade hanya bisa dilewati mobil dengan ijin khusus, terkait olimpiade.
pantas saja lalu lintas selalu tampak lancar dan polusi menyusut drastis...
Ada lagi peraturan buka tutup harian. dengan peraturan ini, polisi bisa menutup suatu daerah yang akan dilalui kontingen atau jurnalis dari kendaraan lain.
agak semena-mena tapi efektif untuk membuat para kontingen dan jurnalis tamu merasa perjalanan selalu lancar. Untungnya (atau ruginya..) aku tidak termasuk jurnalis yang punya akreditasi penuh, jadi saya masih merasakan kemacetan dan keseruannya lalu lintas china..
satu lagi yang saya lihat di China, meskipun jalan dan infrastrukturnya sangat baik, kebiasaan penduduknya tampak masih belum menyamai fasilitas itu. Para pengendara sepeda masih menjadi raja jalanan yang membelok seenaknya, dan sering berkendara sampai ke tengah jalan. menyebrang tanpa memberi tanda dan neik ke trotoar. Para pejalan kaki tak kalah kacau, mereka tak peduli pada lalu lintas. kalau lebih dari dua orang, maka mereka akan menyeberang. tak peduli kalau lampu jalan masih berwarna merah buat pejalan kaki.
awalnya heran juga kenapa tak ada sumpah serapah dan klakson bertubi-tubi. walau banyak orang yang sembarangan di jalan, suasana tetap hening.
Rupanya ada peraturan yang melarang klakson bertubi-tubi. ada denda bagi orang yang tertangkap memainkan klaksonnya... pantas saja jalan raya sangat tenang.
selama 4 hari saya di China, saya sudah menyaksikan 4 kecelakaan secara langsung. ada 2 tabrakan mobil, 1 mobil terbalik dan satu lagi mobil parkir yang menabrak saat keluar. dan itu belum terhitung kecelakaan sepeda...
intinya harus hati-hati pada lalu lintas china. bahkan jika anda melangkah di trotoar.
Tampaknya budaya mereka masih sekedar polesan di luar belum mengubah kebiasaan mereka sehari-hari.
Subscribe to:
Posts (Atom)

