30 May 2017

tipe pencinta vs tipe obsesif...

Ketika seseorang mulai terobsesi, ia tidak mau mengakui bahwa ia terobsesi.  hanya saja secara perlahan-lahan semua tindakan dan pemikiran berusaha didekatkan atau dikaitkan dengan obsesinya -kalau perlu menihilkan akal sehat.  faktanya, banyak dari kita yang terobsesi terhadap sesuatu.
Obsesi membuat kita tidak bisa berhenti memikirkan dan bertindak mengatasnamakan obsesi kita. Kita meniru niru supaya makin dekat obsesi kita - kadang tanpa mengerti. Kita mendekati orang yang simpati dengan obsesi kita dan menentang atau tidak mempercayai apapun yang menurut kita tidak sesuai dengan obsesi kita.

Kata “obsesi” berasal dari bahasa latin “obsidere”, yang artinya “untuk duduk di dalamnya, atau menghuni”. Orang yang menjadi obsesi kita ibarat menghuni otak kita. Mereka menjadi perhatian utama yang mengelilingi pikiran kita. Mirip cinta ya? memang mirip.. tetapi berbeda.

"cinta akan menyebabkan kita rela mengikuti/melakukan apapun untuk kebahagiaan yang kita cintai. Semakin cinta, Kita akan semakin mengerti dia yang dicinta. Kita tidak memaksa yang kita cinta menjadi apa yang kita inginkan. Kesadaran dan penyerahan datang bersama cinta, satu satunya keinginan adalah membahagiakan sang cinta."
"Obsesi tidak demikian. Obsesi membuat kita membayangkan obyek obsesi kita bukan sebagai dirinya sendiri, tapi sebagai sesuatu yang kita inginkan. Nalar hilang. Hidup kita dipenuhi oleh keinginan memuaskan diri berdaasrkan obyek obsesi kita. Bahkan terkadang tidak peduli apapun perasaan atau keinginan sang obyek obsesi. Dia harus menjadi seperti yang kita bayangkan, atau lebih baik lenyap.." Tak heran fans yang terobsesi pada seorang tokoh, bisa sampai membunuh (merusak) tokoh itu jika ia merusak bayangan obsesi yang dipercayanya.

Kondisi Obsesi yang keterlaluan terhadap sesuatu atau seseorang itu sering dianalogikan sebagai: Whorsip syndrome. Walaupun ada ahli di barat yang menganalogikan Whorship syndrome mirip dengan kegiatan ritual keagamaan, tapi itu salah tentunya. Ritual keagamaan yang benar adalah yang berawal dari cinta, bukan obsesi. Seperti dikatakan Dr. Carmen Harra, PhD, seorang psikolog intuitif dalam websitenya CarmenHarra.com, yang perlu kita mengerti adalah obsesi tidak akan pernah menjadi sesuatu yang positif.

Jadi apa bedanya orang yang jatuh cinta dengan yang mengalami Whorship syndrome? tentu ada bedanya. Orang yang jatuh cinta umumnya berubah menjadi orang yang bahagia, menyenangkan dan penuh keinginan membahagiakan cinta dan orang orang disekitarnya. Mereka merasa ia menjadi milik sesuatu yang dia cintai.
Sebaliknya ciri-ciri Whorsip syndrome justru mengarah sebaliknya. cirinya soliter, impulsif, antisosial dan kerap kali malah merepotkan karena cenderung menganggap siapapun yang tidak share kekagumannya terhadap apa yang menjadi obsesinya sebagai penghalang/ musuh/ lawannya.  Mereka juga menganggap hal yang menjadi obsesi nya adalah miliknya, dan bukan sebaliknya.

jadi kita termasuk pencinta atau penderita obsesi yang tidak sehat?

Tahukah ciri ciri sederhana penderita obsesif di Sosial media? ini menurut saya loo...
1. Biasanya mereka memiripkan panggilan atau nickname nya dengan obsesi mereka. Misalnya terobsesi dengan girlband korea; mendadak namanya jadi jesSISTAR, SIWON, jung seyoung atau bahkan diganti  aksara korea -padahal sedikit sekali bahasa korea yang di hafal. Atau tergila gila pada Startrek dan mengganti nicknamenya dengan bahasa klingon.
2. foto foto yang mengenakan atribut sesuai obsesi, untuk menguatkan keterikatannya pada obsesinya, walau tidak terlalu mengerti arti sebenarnya. Misalnya foto dengan kuping runcing ala elf kelompok yang terobsesi pada LOTR, atau memakai laki-laki yang bermake up  ala bintang K pop; walau mungkin tidak membuat tampangnya lebih oke.
3. Menuliskan dalam sosmed nya; jargon atau logo yang digunakan obsesinya - bahkan walau tidak mengerti.
4. Membela obsesinya membabi buta. menganggap semua yang tidak  share kekagumannya terhadap apa yang menjadi obsesinya sebagai lawannya.
5. kemampuan komunikasinya rendah.  Menolak berdialog, lebih banyak memaki dengan jargon, dan cenderung menyalahkan semua yg berbeda dengan logika : "kalau tidak cocok dengan idola gua berarti salah!" Padahal mungkin idola yang di obsesikannya justru tidak sependapat dengannya.

jadi apakah anda type mencinta atau orang obsesif di sosmed anda?





30 December 2015

Hujan Itu Rahmat

Hari ini masuk malam lagi. Saat berangkat hujan rintik datang, terpaksa tetap berangkat dengan mengerudungkan plastik jas hujan 10 ribuan. Yang penting kepala tidak basah, kalau celana lembab sedikit ya wajar lah..

Baru melaju sekitar 1 kilometer di atas motor butut kesayangan, tiba-tiba air seperti dicurahkan dari langit. Hujan deras. Belum sempat mencari perlindungan, celana dan sepatu sudah basah kuyup. Tanggung lah... hajar saja terus ke arah stasiun kereta.

Sempat mengeluh dan sedikit misuh, kenapa harus hujan pas saya berangkat. Deras lagi. Jalanan yang tergenang semata kaki orang dewasa, membuat beberapa kali motor saya terjeblos lubang lubang cantik, yang tampaknya jadi Standard Operating Procedure dalam pembuatan, jalan di sekitar rumah saya. Belum lagi speedbump yg dibangun nyaris setiap 15 meter, membuat genangan air menumpuk dan mengalun bagaikan ombak pantai. Motor seperti terombang ambing melewatinya.

Sempat mengeluh dan memaki, mencari siapa yg bisa disalahkan. Hujan yg deras sangat terasa di kulit, tak mampu ditahan jas hujan yg setipis plastik belanjaan di mall. Celana basah, sepatu basah, cipratan air dari kendaraan lain membasahi muka. Basah kuyup seolah sengaja mandi di tengah hujan.

Mendadak saya merasa bahagia, entah darimana datangnya. Naik motor ditengah air menggenang rasanya seperti waktu anak anak; naik sepeda di tengah kubangan, bersaing siapa yg bisa membuat cipratan lebih tinggi. Baju lembab, celana basah, serasa seperti saat mandi hujan bersama teman teman dulu - dan ternyata memang banyak pengendara motor yang basah basahan seperti saya. Ah.. ini seru...
Sesekali motor sengaja saya lajukan agak cepat melewati lubang yang dalam.. hahaha.. asyik sekali.

Sampai di stasiun celana dan sepatu sudah basah sempurna. Ketika saya naik ke peron tampak ratusan orang berteduh menanti hujan reda. Sebagian besar memandangi saya yg basah kuyup tapi tetap berjalan santai di tengah hujan deras. Sepertinya mereka menganggap saya aneh.... tapi tak apa, dalam hati malah ada sedikit rasa kasihan pada mereka itu.
Mereka sepertinya sudah tak ingat lagi serunya hujan hujanan.
Saat naik kereta dan melipat jas hujan yang basah, saya merasa bersyukur sekali. Tuhan, terima kasih untuk rahmat hujan lebat tadi....