Wednesday, August 06, 2008

5 Agustus 2008

"Childrens are the same everywhere, what makes them grow differently was their
parents. But, even perfect parents can't predict what will their kids becoming... "
Meeting a popstar is something special, but meeting 8 years old popstars is an unforgetable experience. In Tian jin, I met the 20088 band. it was a band of four kids that have the same age, 8 years old. as I watch them play, I was amazed. Not by the skill they have, which is very good, but the place where they played. It was a nice big studio, fill with lots of expensive musical instruments. It was a big art school for children. After the interview I realize that their parent are VERY wealthy. This band was formed by the teacher of that art club that see their potensial talent.

The band was a hit.
only 1 years after formed, this band are performing in various national stage. They have three single that been played around kids radio's around china. and one of the single was chosen to be a one of theme song of Beijing olympics. They have great future ahead..

Well, they have good skills, but that was not the only good things they have. Their Parents was their most loyal supporters. Even when we came, their parents are becoming their Public Relations that pick us up at the train stations, Producers that set up the meeting with the media, Fund raisers that rent the special studios just to perform in front of the media (which is us) and still be the parents that carried the bag of these stars.

Their parents was backing them up 100%. With money, affection and great efforts. It was the golden tickets to be a future popstars band. but, you know what? On the interview I found out that they didnt even want to be a popstars. The Bassis want to be a sports stars, the guitarist wanna be solo guitarist, The keyboardist dream to became physics scientist, and the girl that play drums just want to be a Disc Jockey.

Amazing, they have what most kids only dream of, and they just wanna be something else.

This is a new phenomena in China. The booming of china economics and the rules that say every Chinese family only can have one kids, create this kinda kids. Childrens that have all the opportunities, chance to get more educations, training, fascilities and supports. Childrens that can developed their skills and potential talent to the maximum.

Winfried, my editor, say that this could create a new generation of chinese, that are very talented and powerfull. Yes I said, but I also thinking the opposite. What if the creation is a generation of spoiled kids, that think money will buy everything and they have the right to do anything if they have money. frightening ... at least for me.

But I will think for the best, and when I say good bye to the band, I wish all the best for them.
May this really nice kids can succeded in the future, in everything they do.

PS:
I admitted a little bit jealous when they say that their hobbies is riding their horses, swimming or playing golf with their parents. I'm jealous, since my parents haven't had that much time to spent with me.....
Beijing Behind the Cover

Jalan dan Lalu Lintas Beijing,

Saya cinta Indonesia, dan selalu beranggapan bahwa Indonesia adalah salah satu dari bangsa besar yang ada di muka bumi, tapi kunjungan ke Beijing, China, sempat menggoyahkan keyakinan saya.

(baca sampai selesai, Baru komentar)

setelah kagum habis-habisan pada hari pertama, hari kedua saya mulai menjelajahi Beijing lebih dalam lagi. Kota tua ini adalah ibukota dari Republik Rakyat China. Sebuah kota budaya yang memiliki banyak sekali peninggalan berharga yang usianya lebih tua dari umur masehi. Menurut penterjemah saya, David, yang juga seorang Guru, kota Beijing merupakan kota budaya, dan bukan kota perdagangan. Di Beijing terdapat pusat pemerintahan dan kekuasaan (karena kaisar selalu tinggal di kota terlarang - sebuah istana kuno yang menakjubkan - di pusat kota Beijing) dan sekaligus pusat kesenian di China. Tak heran penduduknya berkarakter santai dan tenang, tidak seperti Shanghai atau Guang Zhou misalnya.
Beijing seperti Jogjakarta di Indonesia, begitu juga perilaku penduduknya. Kebanyakan tenang dan santun.

Jalanan kota beijing masih mengagumkan saya seperti hari pertama, luas, bersih dan tampak nyaman. Dihari kedua ada sesuatu yang kulihat. Banyak sekali sepeda, sepeda listrik, dan orang-orang yang berjalan kaki disisi kanan jalan. Ternyata disebelah kanan jalan mobil, memang ada line khusus buat pengendara sepeda. lebarnya antara 2 meter sampai 2,5 meter di jalan raya. kalau di Indonesia, jalan segitu pasti udah dianggap layak buat mobil...
Polusi yang dulu selalu identik dengan beijing juga tampak berkurang, langit tampak biru.

Beberapa saat menunggu dipinggir jalan, saya kembali dikejutkan dengan kedatangan sebuah bus gandeng raksasa. saya sebut raksasa karena tingginya hampir dua kali bis PPD. Atapnya kaca dan kaca-kaca di dindingnya juga berukuran sangat besar. Lebih cocok disebut bus pariwisata yang sangat mewah, tapi toh disini hanya jadi bus kota. Ada juga trem yang tampak bersih dan baru di cat ulang. Secara keseluruhan beijing bersih, luas dan Rapi..

Saya tanya pada david, translator saya, kenapa sangat sedikit sepeda motor yang saya lihat di Beijing. jawabannya menarik. Menurut pemerintah China, motor adalah kendaraan yang sangat berbahaya. Sebab itu, sejak 6 tahun lalu mereka mengadakan peraturan pembatasan motor. Pembuatan ijin untuk motor dibuat sangat sulit dan tidak bisa diperbaharui. Setelah beberapa tahun jumlah pengendara motor menurun secara sangat signifikan. Mereka beralih ke sepeda atau sepeda bermotor listrik. Akibatnya, Beijing pun nyaris steril dari sepeda motor.

kedengaran indah? kelihatannya juga indah disini, tapi menurut saya ada yang aneh. Maka saya cari tahu apa yang aneh...

Beijing memang bersolek. Sejak diputuskan menjadi tuan rumah olimpiade (atau ahkan sejak masih mengajukan diri), pemerintah China membuat berbagai peraturan yang ketat terkait dengan lalu lintas di Beijing yang dulu terkesan sangat semrawut. Peraturan khas yang tampaknya tak akan bisa diaplikasikan dinegara lain sesukses di China.

Misalnya untuk mengurangi Polusi dan kemacetan, ternyata sejak beberapa waktu sebelum Olimpiade ada peraturan yang membatasi penggunaan jalan. pada hari-hari tertentu, ada peraturan hanya mobil dengan nomer seri ganjil yang boleh lewat jalan utama, hari lainnya giliran yang genap.
Beberapa bulan menjelang olimpiade sudah diumumkan peraturan yang tegas, bahwa separuh dari jalan utama yang ada di sekitar venue olimpiade hanya bisa dilewati mobil dengan ijin khusus, terkait olimpiade.
pantas saja lalu lintas selalu tampak lancar dan polusi menyusut drastis...

Ada lagi peraturan buka tutup harian. dengan peraturan ini, polisi bisa menutup suatu daerah yang akan dilalui kontingen atau jurnalis dari kendaraan lain.
agak semena-mena tapi efektif untuk membuat para kontingen dan jurnalis tamu merasa perjalanan selalu lancar. Untungnya (atau ruginya..) aku tidak termasuk jurnalis yang punya akreditasi penuh, jadi saya masih merasakan kemacetan dan keseruannya lalu lintas china..

satu lagi yang saya lihat di China, meskipun jalan dan infrastrukturnya sangat baik, kebiasaan penduduknya tampak masih belum menyamai fasilitas itu. Para pengendara sepeda masih menjadi raja jalanan yang membelok seenaknya, dan sering berkendara sampai ke tengah jalan. menyebrang tanpa memberi tanda dan neik ke trotoar. Para pejalan kaki tak kalah kacau, mereka tak peduli pada lalu lintas. kalau lebih dari dua orang, maka mereka akan menyeberang. tak peduli kalau lampu jalan masih berwarna merah buat pejalan kaki.
awalnya heran juga kenapa tak ada sumpah serapah dan klakson bertubi-tubi. walau banyak orang yang sembarangan di jalan, suasana tetap hening.
Rupanya ada peraturan yang melarang klakson bertubi-tubi. ada denda bagi orang yang tertangkap memainkan klaksonnya... pantas saja jalan raya sangat tenang.

selama 4 hari saya di China, saya sudah menyaksikan 4 kecelakaan secara langsung. ada 2 tabrakan mobil, 1 mobil terbalik dan satu lagi mobil parkir yang menabrak saat keluar. dan itu belum terhitung kecelakaan sepeda...

intinya harus hati-hati pada lalu lintas china. bahkan jika anda melangkah di trotoar.
Tampaknya budaya mereka masih sekedar polesan di luar belum mengubah kebiasaan mereka sehari-hari.


Monday, August 04, 2008

Rindu juga rasanya tidak menulis kata-kata di blog saya ini. mungkin gara-gara terlalu sibuk dengan multiply saya, blog ini jadi terlantar...

KE BEIJING

Akhirnya saya jadi ke Beijing, China. Sudah setahun sejak pertama kali saya diberitahu bos saya bahwa saya akan berangkat ke Beijing. Katanya saya akan melakukan liputan untuk Kids News Network, sebuah organisasi sosial yang bertujuan membuat berita untuk anak-anak diseluruh dunia. Setelah berbulan-bulan berdoa, mendadak pada awal bulan Juli ada harapan muncul, saat akreditasi saya diterima oleh Beijing International Media Center, badan yang mengurusi akreditasi dan ijin meliput semua wartawan seluruh dunia ke china, selama olimpiade Beijing.

singkat cerita, melalui perjuangan panjang memperoleh Visa, akhirnya saya dan rekan kamera person menjadi jurnalis televisi Indonesia pertama yang tiba di Beijing. Kami tiba tanggal 1 Agustus naik Garuda Indonesia yang ruang kakinya sangat sempit. 7 jam duduk dengan kaki setengah ditekuk dan laptop diselipkan diantara telapak sangat menyiksa, tapi harapan untuk menjelajahi wilayah baru membuat saya dan Aryo tetap tersenyum.

Bandara Beijing China tak sedahsyat bayanganku. Dari udara hanya seperti hanggar-hanggar panjang yang berwarna kusam. Pegawai-peagawainya juga berpakaian kumuh dan berwajah suram, sama seperti di Indonesia. Hanya saja mata mereka sipit...

Saat melangkah masuk bandara, kami baru terbelalak kagum. Ukurannya sangat luas dan bersih. Saat berangkat kami diperingatkan banyak kolega kami yang pernah ke China, akan joroknya kamar mandi di China, tapi kami tak lihat buktinya. Bandaranya bersih, Jelas petunjuknya, dan sangat megah. Beijing sudah memberi kesan baik pada kami yang pertama kali datang kesana. Kami dijemput Tobias Keigler, penterjemah dari jerman yang juga fasih bahasa belanda, china dan inggris dengan keahlian yang memukau. mobil penjemputnya tak kalah memukau, sebuah mercedes benz minibus yang mewah. Beijing benar-benar terasa menyenangkan saat itu...

Stir mobil di beijing berada disebelah kiri seperti di eropa, dan saat kami tiba jalanan benar-benar sepi.. dan berukuran sangat lebar. Dilajur luar kota rata-rata satu arah bisa digunakan sampai 4 lajur mobil. dan di dalam kota ada jalan yang satu arahnya bisa didereti 8 mobil sekaligus, sepertinya segalanya lebih luas dan lebih besar di Beijing...

well, ni hao Beijing.
orang indonesia ini sudah sampai di tempatmu...

Monday, March 03, 2008

sudah lama sekali rasannya nggak menengok blog saya ini. maklum sekarang punya mainan baru di saptawan.multiply.com. lebih seru karena mudah menyimpan foto-foto, tapi rasanya tidak bisa seserius menulis di blog ini. mulai lagi.. ah

terima kasih buat semua teman-teman yang masih sudi mengintip blog saya ini.

Wednesday, November 29, 2006

SAYA NYARIS LUPA BERMIMPI

hari masih pagi saat saya duduk di depan komputer, tapi rasanya bertubi-tubi kejutan yang saya alami. seorang gadis yang saya kenal ternyata telah membukukan puisinya, yang memang dahsyat. sang pujangga teman saya kemudian menunjukkan sesuatu yang sudah saya lupakan. bersama teman saya yang pemikir, sang pujangga mengingatkan saya untuk berhenti memandang dunia maya ini seolah-olah ia adalah sesuatu yang nyata. mereka mengingatkan saya untuk kembali bermimpi.

sebenarnya mereka bertiga mengingatkan saya untuk bermimpi. sang gadis mendahului saya mewujudkan sebuah mimpi yang hanya jadi angan-angan saya selama ini; menerbitkan puisi-puisi saya. paling tidak mengumpulkannya dan mempublikasikan. sang gadis mengingatkan saya untuk mengejar mimpi saya. Lucunya, dalam tulisan kawan saya yang pemikir itu, ada tulisan tentang orang-orang berpuisi. agak tersindir sebenarnya, tapi sepertinya ada benarnya juga kok.

Mungkin ada yang bertanya kenapa saya lupa bermimpi. padahal mimpi dan harapan adalah satu-satunya alasan manusia mampu bertahan hidup. seberat apapun beban, kalau masih punya mimpi dan harapan kita bisa kuat. Jadi kenapa saya lupa bermimpi?

setelah bertahun tahun hidup tersungkup dalam tempurung kelapa yang sering disebut dengan dunia, saya mulai terbiasa dengan tekanan dan persepsi tentang keberadaan sesuatu atau kenyataan. yah, kita menyebutnya realitas. saya mulai terlalu terbiasa dengan realitas bikinan kepala saya dan terlupa pada kenyataan di hati saya.

saya menjadi seorang realis..

mungkin ada yang berkata bahwa menjadi realis itu baik. saya tidak menganggapnya demikian. menjadi realis berarti mengurangi kepercayaan pada sesuatu yang punya kemampuan diatas realitas tersebut. realis juga bermain dengan aturan baku yang diterapkan dalam sandiwara dunia maya ini. realis hanya bertahan hidup, tanpa berusaha memperbaiki hidupnya. buat saya lebih berharga seorang pemimpi, yang mau mengejar mimpinya.

semua penemuan, semua perbaikan, semua kemajuan, di landasi impian untuk hidup lebih baik. tanpa impian mungkin saat ini kita masih dalam budaya berburu dan meramu. belum memakai celana. hanya menutupi kemaluan sekedarnya. masih hidup di gua-gua buatan alam, dan bukannya di rumah-rumah mewah itu.

terima kasih untuk semua yang telah mengingatkan saya. mulai sekarang saya akan lebih banyak bermimpi, dan lebih banyak bekerja.
ayo kita mimpi bisa mengubah negara ini sebab kalau semua bermimpi hal yang sama, mungkin mimpi tersebut akan menggumpal menjadi kenyataan.

didit

ah... masih pagi dan saya mengantuk. tulisan nggak jelas ini...
pengin bisa nulis indah kayak ochan atau nulis jelas kayak Agus.
saya bermimpi dulu deh... mungkin nanti jadi kenyataan....

Monday, November 20, 2006

OCEAN TWELVE

nonton lagi ocean twelve, lihat susahnya penjahat yang mau bertobat. Selalu ada paksaan, godaan atau tantangan yang menyebabkan dia terjerumus lagi melakukan "what they do best". di ocean twelve; merampok .
film ini keren dan pemainnya banyak yang ngetop, walaupun alurnya trengginas dan kreatif endingnya, tapi cerita nya sebenarnya sederhana. moral ceritanya sederhana; "even in the worst neigborhood you'll find best qualities of human being"

banyak nasehat menarik yang bisa dikutip, disampaikan dengan plot cepat dan menarik. tapi sepanjang film saya malah sibuk menunggu kemunculan julia roberts dan bibir sexy nya.

film ini membuat saya rindu masuk bioskop lagi. dulu setiap minggu saya menonton bioskop minimal satu kali. biasanya film action atau komedi. terkadang saya juga menonton film thriller, dan biasanya kalo bagus film film genre ini malah melekat di kepala saya. di bioskop, dalam kegelapan, paling asyik menelaah film. mikir gimana shoot ini dan shoot itu dibuat. mikir gimana sequence dan ceritanya bakal berlanjut. semakin nggak tertebak, semakin menyenangkan.

yah .. OCEAN TWELVE ini asyik juga ditonton. coba film ini ada aktor favorit saya - Nicholas Cage dan Robert De Niro - mungkin akan lebih asyik lagi menontonnya, tapi ocean twelve tetap oke kok, paling tidak ada julia robert dan kaki jenjangnya yang selalu menarik untuk ditonton.

Sunday, November 19, 2006

terlalu lama saya meninggalkan blog saya. selain tak ada kesempatan menulis, sepertinya saya juga kehilangan sensitivitas yang dibutuhkan untuk menulis.

NURANI ATAU PEKERJAAN

beberapa hari lalu seorang rekan kerja saya mengirim SMS, isinya membuat saya berpikir.
"mas, kalau harus memilih mana yang didahulukan, nurani atau pekerjaan?"
pesan itu singkat tapi membuat saya berpikir panjang.

rekan saya itu baru saja menjadi wartawan yang ditugaskan menyelidiki sebuah kasus pemalsuan. mungkin ada yang tidak percaya, tapi di Indonesia ini benar-benar ada wartawan penyelidik. pekerjaannya berbahaya dan membutuhkan kerja keras, keberanian tingkat tinggi dan kesabaran.
rekan saya memang masih baru, tapi dia berusaha keras dan memperoleh kemajuan yang lumayan. Saya kebetulan terpilih menjadi mentornya.

Dia tengah menyelidiki kasus pemalsuan consumer goods di Jawa Barat. setelah berhari-hari mengikuti, melobi dan mencari, akhirnya dia berhasil membujuk sang pelaku pemalsuan untuk mengaku. dia pamit pada saya untuk berangkat untuk menyelesaikan kasusnya, ke luar kota selama 2 hari. di malam hari ketiga, dan saat itu sudah sangat larut, saya menerima pesan singkat itu.

"mas, kalau harus memilih mana yang didahulukan, nurani atau pekerjaan?"

saya jadi ingin tahu, kalau pertanyaan itu ditanyakan pada kalian apa jawabannya? saya sendiri tidak tahu jawabannya. saat menerima pertanyaan itu saya malah berpikir tentang saya sendiri. beberapa kali saya mengalami bentrokan serupa dengan rekan saya itu, yang membuat saya harus menimbang apakah harus mendahulukan profesionalitas atau hati nurani. dulu pertentangan itu seringkali membuat saya bermimpi buruk, bahkan mogok makan berhari-hari (dan itu sulit, karena pada dasarnya saya suka makan). Saat menerima SMS itu, saya baru sadar bahwa pertanyaan itu semakin jarang menghantui pikiran saya. apakah itu berarti saya sudah menemukan keseimbangan atau malah kehilangan salah satunya? kehilangan profesionalitas atau kehilangan nurani buat saya sama-sama menakutkannya.


entah kenapa. sampai saat ini pesan singkat teman saya itu masih menghantui pikiran saya. nurani? atau profesionalitas? bisakah keduanya digabungkan saja? entah kenapa saya terus memikirkan pesan singkat itu...

Thursday, September 28, 2006

RAMADHAN SI HATI BATU

Ramadhan sudah tiba lagi. beberapa hari di awal ramadhan saya ditimpa kegundahan yang luar biasa. Biasanya setiap awal bulan suci hati saya berbunga-bunga, merasa seperti diberi hadiah luar biasa.
tapi ramadhan kali ini berbeda. Bahkan istri saya berkata saya lebih cepat marah. Saya kurang sabar. Entah kenapa, ramadhan tahun ini belum mampu menyentuh hati saya. saya jadi takut hati saya sudah membeku. bahkan taraweh pun dilakukan dengan berat hati. Saya ketakutan kalau hati saya sudah membeku.

sampai tadi malam.

Malam tadi saya menangis. mendengar sebuah lagu yang bukan lagu rohani, saya seperti diingatkan bahwa saya sudah diberikan banyak sekali oleh Allah. setiap tarikan nafas harusnya saya rayakan dengan tasbih, setiap langkah yang di tapak seharusnya diramaikan dengan tahmid. Saya menangis sedih. ingat anak-anak saya, ingat istri saya, ingat keluarga saya, ingat pekerjaan saya, ingat rumah, kendaraan, kesehatan, ketenangan, kecerdasan, kewarasan, nafas, detak jantung, air mata, dan mengingat ingatan yang diperkenankannya mampir di hati saya. Saya bersyukur dan menangis..

saya menangis di sebuah stasiun kereta, bersandar dipagar dan berlindung pada kegelapan yang di anugerahkanNya. Tangis sedih terisak isak. Saya merasa bersalah melupakan satu-satunya pelindung saya saat kehilangan orang tua. satu satunya penolong saya saat ditimpa kesempitan dan tak terlihat jalan keluar. satu satunya yang selalu mau mendengar dan membalas keluhan dan doa saya. Saya nyaris melupakan pemilik, pemelihara dan pelindung yang Utama. padahal tak ada nikmat yang bisa saya dustakan dari Nya. Allahu Akbar.

Saya bersyukur masih bisa menangis sesedih malam tadi.

mendadak alunan ramadhan terasa lagi di hati saya. getarannya kembali menggoda. walau masih lemah, tapi saya usahakan untuk memperkuatnya. Saya takut hati ini mengeras dan melupakan Ramadhan. Mumpung masih diijinkan Allah mengingat bulan nan suci ini saya cuba merayakannya dalam hati. syukur-syukur dalam tindakan dan perbuatan juga terasa.

Mudah mudahan Ramadhan selalu terasa di hati ini..

malam itu saya juga menangis rindu. sebuah lagu tentang Rasulallah menekuk kaki saya dalam kerinduan padanya. Rasanya ingin menghambur ke pelukannya, mencium punggung tangannya, dan mendengarkan nasehatnya yang menyejukkan hati. Aku ingin bertanya padanya, yang diberikan cahaya dalam hatinya. Bertanya cara melalui hari-hari berpeluh tanpa mengingkari kata hati. Menjalani waktu demi waktu tetap dalam jalurnya. Ya Allah, saya rindu sekali teladan itu... sampaikanlah saya bertemu dengannya