02 May 2014

fiksikota


sejak akhir bulan maret, saya mencoba berlatih menulis lagi.
Caranya dengan membuat beberapa microstory (cerita yang kurang dari selembar halaman ) di facebook.
setelah cukup banyak, saya putuskan juga mempostingnya di blog ini.

microstory saya yang pertama saya sebut FIKSIKOTA, karena isinya terinspirasi kejadian kejadian di kolom perkotaan dalam surat kabar harian.

FIKSIKOTA
mulai ditulis 25 Maret 2014 - 2 Mei 2014

-----------

Anarki memandangi kota yang berdiri sombong dibawahnya. Ribuan mobil mahal berderet nyaris berhenti, hanya bisa memamerkan kerasnya bunyi klakson bersahutan. orang lalu lalang, saling hardik dan merendahkan. dipuncak puncak gedung, para predator tertawa puas menyaksikan buruh buruh mereka saling pukul berebut receh. 

kota yang nyaris tenggelam itu terus membanggakan sudut sudut gelapnya yang dihuni ratusan pelacur dan pemuka agama bayaran. 
di kantor kantor pemerintahan, para pelayan meludahi tuan tuan mereka, yang terus sibuk kemaruk mengumpulkan harta hasil korupsi.

Anarki memandang kota itu dengan muak. lirih ia berbisik;
"waktu kalian akan segera tiba. tunggu saja sebentar lagi..."

#fiksikota #mikrostory #jakarta

alkisah, disebuah negeri yang sebagian besar penghuninya mengaku beragama, diadakanlah sayembara besar untuk memilih para pekerja di istana.

seorang rakyat sejati, bernama kawulo, yang seumur umur tak pernah naik pangkat jadi wakil rakyat atau turun pangkat jadi civil servant, berdoa ditengah alun alun kota:

"ya Tuhan, jangan biarkan kursi kursi istana diambil alih para calon yang menganggap memajang foto foto di baliho sebagai ibadah.
ya Tuhan, jauhkanlah juga mereka yang jumawa menganggap pembantaian dan penculikan bisa kedaluarsa dan dilupakan keluarga yang anak anaknya hilang.
ya Tuhan, hindarkan kami dari para pemimpin yang lebih korupsi berjamaah daripada membantu masyarakat. saya dengar Tuhan, bahkan ada diantara mereka yg menganggap membantu partai itu sedekah yg lebih baik daripada amal jariah.
dan Tuhan, tolong juga jangan sampai memilihkan pemimpin yang tergila gila pada mobil sport atau wanita. 
terakhir sekali, Tuhan, tolong maafkan orang orang yang golput karena mereka memilih untuk itu. Saya juga takut kalau terpaksa atau dipaksa memilih pemimpin yang buruk, saya ikut masuk neraka bersamanya."

Kawulo pun ditangkap, karena dia berdoa keras keras di tengah lapangan. dia di filmkan oleh sesama rakyat yang setuju dengannya, lalu di upload, di twit, di retwet, di tag dan di share ke seluruh negeri. Kawulo dianggap menghasut dan menyebarkan fitnah -beberapa bilang ia adalah antek konspirasi asing- untuk menggagalkan pemilihan penghuni istana.

Kawulo pun ditangkap. ia ditelikung dan disandera ratusan orang berseragam. entah seragam apa. mereka tampak garang saat mengenakan seragam, sorban dan loreng mereka. tapi sang rakyat bisa melihat dibalik topeng mereka ada ketakutan dan kepatuhan pada siapaun yng membayar. mereka lebih pesuruh daripada penjaga. 
mereka menyeretnya sepanjang jalan. Kawulo tak menangis, walau hatinya sedih melihat rakyat harus menindas sesamanya.
ia pun diseret ke sebuah gedung megah untuk diadili.

"kamu tahu kesalahanmu?" tanya Juru Adil pada rakyat bernama Kawulo itu sambil meng sms seorang penghubungnya. isinya: minta 1 m. jangan mau kurang. 
"saya tidak tahu pak."
"kamu menyampaikan pikiranmu di muka umum. menghasut rakyat"
"saya sedang berdoa, pak"
"berdoa itu malam hari, saat sendiri. dimasjid, gereja atau wihara. bukan ditengah alun alun."
"tapi pak, rakyat memang harus dengar"
sang Juru Adil garuk garuk kepala. entah karena jawaban rakyat itu atau balasan sms yg tak sesuai keinginannya.
"maksud kamu apa rakyat harus dengar? kamu memang mau menghasut?"
Kawulo menarik nafas. pelan dan dalam. lalu menjawab perlahan seperti menjelaskan mekanika pada tukang becak."Pak, dalam politik ada jargon, suara rakyat adalah suara Tuhan. karena doa saya agak politis ya Tuhannya rakyat. Supaya doa saya dikabulkan, ya Tuhannya harus dengar."

sang hakim tersentak. dia bingung. maka dia bertanya pada asistennya. 
"apa maksudnya? kamu pernah dengar?"
"ah..kalau tidak salah, jaman dulu ada sebuah partai yg pakai semboyan itu. Saking lamanya berkuasa mungkin, mereka merasa seperti itu."
"seperti apa? seperti rakyat atau seperti Tuhan?"
sang asisten menarik nafas berat sebelum menjawab.. 
"menurut bapak bagaimana?"
"seperti Rakyat ya?"
"sendiko, yang mulia"
" oke... lalu apa mereka partai besar dan kaya?"
"kurang tahu pak, tapi saya tidak yakin. pemimpinnya saja hutang sama rakyat yg terkena lumpur sampai bertahun tahun belum dilunasi."
"ohhh begitu," sang Juru adil manggut manggut. Kalau tidak punya uang lupakan saja"

sang Juru Adil pun menegakkan tubuh dan memandang pesakitan didepannya. ia bersabda.
"karena terbukti tak bisa menyewa pembela, maka rakyat dijatuhi hukuman paling berat."
Kawulo gemetar ketakutan, ia takut neraka, takut dosa, takut penjara. dengan prihatin ia mendengarkan kata kata sang juru Adil.
".... hukuman paling mengerikan, miskin seumur hidup!!!"

pemirsa mendesah, merinding mendengar kejamnya hukuman itu. Kawulo juga menarik nafas panjang. Lega. 
Kalau hanya miskin, rakyat sudah terbiasa. ia jadi tahu apa yang paling ditakuti golongan penguasa. ia mendapat pengetahuan yang berharga.

esok hari Kawulo kembali berada di lapangan, meneriakkan doa doanya pada para pemilik negeri yang masih mau mendengarnya.
#fiksikota #microstory

Cinta memeluk ayahnya. malaria dan penyakit gula sudah menggerogoti tubuh rentanya. kini tinggal senyuman dan mata bercahaya yang tertinggal. Cinta bertekad menjaga keduanya terus hidup, selama ia mampu.

malam telah menjelang. Cinta harus bekerja. dipakainya lipstik merah menyala, sepatu hak tinggi dan make up tebal bak topeng diwajahnya, untuk menyembunyikan airmata yang terus ada.

Setelah tersenyum pada sang ayah, ia pun melangkah menuju cahaya, yang terus menenggelamkannya dalam kegelapan kota.

#fiksikota #mikrostory

Ikhlas meneruskan menyapu jalan. baru saja sebuah fortuner melaju dan membuang beberapa kemasan minuman ringan dan sampah. empat penumpangnya, pria dan wanita, sengaja melemparkan sampah itu didepannya. 

Ikhlas tak lagi marah. ia sudah lama faham, orang orang di mobil mewah yang berkeliaran menjelang subuh seperti mereka memang tak bisa dilawan. selain punya harta dan kekuasaan, mereka juga biasanya sangat emosional.
Ikhlas ingat saat Matroji, temannya sesama penyapu jalan, tewas dipukuli hanya karena berteriak saat kantong sampah hasil menyapunya dilindas sebuah jeep mewah.

tak ada berita atau kehebohan. Matroji dimakamkan begitu saja, dan Ikhlas kembali menyapu keesokan harinya.
sampai hari ini.

#fiksikota #microstory
sebuah bus berdampingan dengan sebuah mobil keluarga mewah dijalan raya. didalam bus berjejalan puluhan orang yang baru berangkat kerja. didalam bus berdesakan panas dan berkeringat. seorang anak kecil berusia sekitar 4 tahun didalam mobil keluarga itu bertanya:
"Mama, kenapa mereka berdesakan?"
Sang ibu menjawab tanpa mengangkat wajahnya dari tab nya.
"karena mereka miskin, nak"

Menuju pusat kota, si anak melihat pemandangan yang unik. disisi jalan, ibu ibu tampak berdiri sambil menggendong anak -entah anak siapa- menjajakan jasa menjadi joki 3in1. 
sang anak bertanya lagi.
"ibu, kenapa mereka berdiri sambil menggendong anaknya sepert itu?"
sang ibu masih asik bermain dengan gadgetnya dan menjawab seenaknya tanpa mengangkat wajah.
"itu karena mereka miskin, nak"

di mall tujuan, saat berputar menuju tempat parkir, tampak pemandangan lain. sebuah puskesmas dipenuhi antrian pasien. banyak ibu menggendong anaknya yang sakit. banyak ayah yang menunggui.
"ibu, kenapa mereka menunggu disana?"
sang ibu melirik sekilas ke puskesmas diluar, lalu kembali menekuni tabletnya.
"itu karena mereka miskin, nak. mereka tak mampu menyewa dokter ke rumah seperti kita."

sesampai di tempat parkir, sang ibu turun dan membiarkan babysitternya menggendong anaknya. sang anak mendadak menggapai dan memegang tangan ibunya.
"ibu, kenapa kita tak miskin saja?" ibunya kaget sampai menurunkan gadgetnya dan memandangi sang anak.
"kenapa kita harus miskin nak?"
"bukankah miskin lebih menyenangkan ibu?"
sang ibu nyaris tertawa mendengarnya.
"menyenangkan bagaimana?"

sang anak menghela nafas lalu berkata:
"kalau kita miskin, kita akan bersama sama terus. ayah, ibu dan aku. seperti orang-orang di bus itu.
kalau kita miskin, ibu akan lebih banyak memeluk dan menggendong aku, seperti ibu ibu disisi jalan itu. ibu yang akan menggendongku, bukan kakak babysitter.
kalau kita miskin, saat sakit, ibu akan menemani aku menunggu,dan berbicara lembut sambil menatap mataku. tak memakai gadget dan menjawab pertanyaanku seadanya.
buat aku sepertinya itu sangat menyenangkan, ibu."

disebuah kota yang terlalu penuh, seorang anak tetaplah pemberi pelajaran paling baik bagi orang tuanya.

#fiksikota #microstory
"hei, berdiri di belakang garis kuning! mundur..mundur!. peron bukan tempat bercanda...ayo mundur!" 
Beberapa mahasiswa yang berdiri di peron menunggu kereta kaget. sejenak mereka menghentikan canda mereka. seorang bapak-bapak enam puluhan tahun mengibas-ngibaskan payungnya .mendorong mereka mundur menjauh dari arah rel.

Beberapa dari mahasiswa itu mengomel, sementara yang lain terlihat tidak suka, tapi bapak itu telah bergerak menjauh, sambil menyuruh mundur orang lain yang berdiri terlalu dekat rel kereta.

"Wooi.. mundur, mundur, kereta bukan mainan... jangan bercanda di peron"

Bapak itu bernama Gagah. Setiap pagi ia melakukan hal yang sama saat orang orang ramai berangkat dan pulang kerja. Suaranya yang keras, wajahnya yang tampak tak ramah, dan caranya mengayunkan payung tua ditangannya membuat sebagian besar orang memilih mengikuti permintaannya walau sambil memaki maki dalam hati. 

Kabarnya, Gagah mulai mengusiri orang orang yang terlalu dekat dengan kereta sejak anaknya terkena musibah. Saat itu, sang anak baru saja lulus dari sebuah universitas negeri yang berlokasi dipinggir rel kereta. Saat pulang wisuda, sang anak dan teman temannya bercanda di peron. Gagah yang bangga dan bahagia hanya mengawasi dari jauh. 

Saat kereta berhenti di peron, Gagah dan istrinya naik. sang anak dan teman-temannya masih bercanda dan melompat naik hanya sesaat kereta mulai bergerak. Sang anak terpeleset, dan kakinya terjeblos masuk di celah antara peron dan pijakan kaki.

Pintu menutup dan kereta bergerak. Gagah menempelkan wajahnya ke jendela. Terbelalak. menyaksikan anak kesayangannya menjerit saat kereta bergerak. 

Sebagian besar penumpang yang pernah mendengar kisah itu jadi memaklumi perilaku Gagah, tapi tetap saja ada yang tak suka.
Beberapa orang pernah mengeluhkan perilaku Gagah pada kepala stasiun, tapi sang kepala stasiun hanya tersenyum. Ia berdalih, Gagah tidak salah. ia justru membantu petugas. Sejak Gagah mulai melakukan kebiasaannya, tak lagi ada kecelakaan di peron stasiun yang dipimpinnya.

Dan setiap pagi Gagah pun tetap melakukan kegiatannya, mengusiri penumpang yg berdiri terlalu dekat ke peron. tak ad petugas yang berusaha mencegahnya.
Kadang, kepala stasiun memandang keluar jendela dan melihat kelakuan Gagah. Biasanya ia akan bergumam sambil mengelus sebelah kakinya yang sudah diganti kaki palsu.
bergumam dengan pandangan penuh kasih.

"Bapak benar, dari dulu juga bapak selalu benar.... peron kereta api memang bukan tempat untuk bercanda...."

#fiksikota #microstory


Jakarta beranjak malam. Cahaya lampu mulai memendarkan kisah kisah yang berbeda.

Rahman, seorang tukang becak, menghitung uang dipojokan jalan. Berharap cukup untuk membeli obat anaknya yang sakit dan masih tersisa untuk makan esok pagi. 

Ratih, seorang kasir, menghitung ratusan ribuan uang yang bukan miliknya. pikirannya melayang pada sang buah hati yang masih bayi. terlalu lama ia meninggalkannya.

Kufur, seorang pejabat, menghitung uang direkeningnya. harusnya ada pembayaran 3 milyar dari sebuah perusahaan asing untuk perpanjangan ijin usaha tambang. -sialan- pikirnya -kurang dua belas juta, broker itu terlalu banyak mengambil fee-

Lolita, seorang pelacur, menghitung uang didalam taksi. uang yang diambilnya dari dompet pelanggan yang terlelap kelelahan. -Mudah mudahan cukup untuk biaya sekolah- pikirnya.

Andi, seorang penjual koran cilik, menghitung uang receh di bawah cahaya lampu jalanan. ia sedang menabung untuk membeli sebuah sepatu futsal baru.

Malam menerjang, kota terus berdenyut. jutaan kisah mengaliri nadinya.

#fiksikota #microstory


Budi menatap kakinya. ujung sepatu kirinya sudah berlubang cukup besar. Ujung kuku jempolnya sudah tak bisa lagi disembunyikan. Budi menghela nafas dan kembali melangkah menuju Terminal Kampung Melayu. Ia harus bekerja untuk makan esok hari.

Budi memilih menyemir sepatu karena tak banyak saingan. anak anak jalanan yang sebaya biasanya memilih berjualan koran atau mengemis. hasilnya memang lebih banyak, tapi ia ingat nasihat almarhum ayahnya;

"Bud, jangan sampai kamu mengemis.... Mengemis itu bukan mendapat uang secara gratis, tapi mengemis itu menukar serpihan harga diri dengan uang receh dari orang lain. 
saat harga diri kita habis, rasa malu pun terkikis. setelah itu tinggal tunggu waktu untuk mencuri, menjambret bahkan membegal"

masih mengenakan celana merah seragam sekolahnya, Budi berkeliling di sekitar halte-halte busway. Menawarkan semir sepatu pada para penumpang busway. Biasanya, ada saja yang menyemirkan sepatunya. 

cita cita Budi tak punya. Keinginannya masih sejalan dengan kebutuhannya. Ia hanya ingin bisa membeli sepatu yang masih layak pakai.

#fiksikota #microstory


Ruangan redaksi hening. padahal belum lima belas menit lalu ruangan ini penuh manusia yang berceloteh, berdebat dan berdiskusi. Riang baru benar benar tersadar bahwa gempita pemilu telah usai. sang presiden baru telah terpilih.

dari ruangannya diatas, terlihat jelas pintu lobby gedung. Disana Bos besarnya masih tampak tertatih menuju mobil mewahnya. para pemimpin redaksinya mengikuti dalam diam seperti punakawan yang kalah perang. 

Bos besarnya gagal naik jadi orang nomer satu di negeri ini. Para pengiringnya gagal mendapatkan bonus besar. sang Bos besar marah besar, saat di TPS yang dibangun didepan kantor mereka lebih banyak yang golput dan memilih calon presiden partai lain.

Riang perlahan membereskan peralatannya. disandangnya tas gucci palsu kesayangannya, menyalakan mp3 player dan menyelipkan earpiece ketelinganya.
sayup sayup dari earphonenya terdengar suara sang presiden baru menyanyi;
"begadang jangan begadaaaannng... kalau tak ada artinyaa...."

#fiksikota #microstory

kereta penuh, Ikhlas pun sukarela berdiri saat dua orang ibu hamil besar mendadak berdiri didepannya. seorang ibu hamil itu, yang berambut pendek, cepat cepat duduk dan mengucapkan terima kasih. Ikhlas hanya tersenyum.
ia sedikit terpesona dengan senyuman ibu itu. cantik sekali. mungkin benar kata orang bahwa saat hamil pesona seorang wanita sangat tinggi. mungkin begitu pesona seorang calon ibu, pikir Ikhlas.

Ibu hamil yang satu, dengan rambut panjang terikat masih berdiri, tapi tak satupun anak muda yang duduk tergerak hatinya untuk bergantian duduk. Petugas polsuska yang datang mencolek salah seorang pemuda yang menunduk, pura pura tidur.
"mas bangun dong.... kasian ada ibu hamil."

dua tiga kali dicolek, pemuda itu mengangkat wajah. matanya mencorong marah, tak ada sisa kantuknya.
"pak, saya sengaja naik dari bogor biar dapat duduk. saya bayar kok."
"iya mas, tapi kasian ibu iNi.."
"kasihan saya dong pak! saya juga capek ini.. masak dia baru datang malah minta duduk?"
Tampang pemuda perlente itu tampak ngotot, siap ribut mulut. Sang polsuska juga serba salah. di kanan kiri sang pemuda, penumpang lain menutup mata lebih ketat dan berpura pura tidur.

Sang ibu memegang bahu polsuska itu. 
"nggak apa pak. resiko saya kok"
dan sang polsuska makin serba salah. beruntung seorang kakek tua di bangku seberang bangkit memberikan duduk pada ibu itu. 
"silahkan bu, pasti lelah sekali masih harus bekerja saat hamil besar begitu."
"terima kasih pak."
"nggak apa, bu... saya ingat istri saya dulu liat ibu. istri saya juga terpaksa masih bekerja saat hamil besar. maklum cuma karyawan kecil.."

pertukaran senyum menggantikan kata kata. antara si ibu dengan lelaki tua itu, antara lelaki tua dengan polsuska, dan antara sang lelaki tua dengan Ikhlas yang segera bergeser memberi pegangan pada bapak itu.

Stasiun Tanah Abang, semua turun. Ikhlas mengenang kejadian tadi dan membayangkan wajah sang bapak yang cerah. tak sadar ia ikut tersenyum. wajah itu tenang dan sabar. mungkin begitu wajah orang baik, pikir Ikhlas.

Saat berjalan melewati sebuah kios pakaian, tanpa sadar ia berhenti sebentar. didalam kios tampak ibu hamil berambut pendek yang bersamanya di kereta. wajahnya masih mempesona, tapi perutnya tak lagi besar. ibu itu tampak mengeluarkan sebuah buntalan kain dari balik bajunya, sambil bergosip dengan dua temannya di kios itu. 
Tak sengaja Ikhlas mendengar kata katanya;
"...emang enak.. kalau pura pura hamil pasti dikasih duduk, deh.. emang begitu kalo di kereta.. taktik ini, taktik namanya..."

Ikhlas menarik nafas dan mendoakan ibunya. Sepenuh hati..

#fiksikota #microstory

malam tiba. Sumarah membuka lipatan kardus yang dibawanya diemperan toko beras. disisinya tampak si kecil Upa sudah tertidur meringkuk beralas semen. perlahan Sumarah mengangkatnya ke alas kardus, sebelum ia sendiri berbaring di sisinya.

malam tiba. musik menghentak-hentak memenuhi telinga Yoni dan menepiskan segala beban hidupnya. malam ini ia ingin memampatkan semua irama dan nada menggelegar di cafe itu kedalam otaknya, agar masalah, gundah dan kekecewaan tak bisa lagi masuk.

Malam tiba. Rangda membereskan peralatannya. ia harus kerja untuk membayar uang sekolah anaknya. dimasukkannya golok, penutup muka dan sarungtangan ke tas kecilnya.
"kali ini pasti bisa tembus rumah Juragan brengsek itu." gumamnya.

malam tiba. bulan bersembunyi. Suhud mengencangkan jaket oranye nya. "malam ini dingin dan berangin. bakal banyak daun gugur yang memperlama pekerjaanku," pikirnya.

malam tiba. beberapa bintang masih mampu berkelip. Kartika mematut diri di cermin. Seorang gadis jelita dengan dandanan sempurna memandangnya dari balik cermin. Kartika mencoba tersenyum, sudah waktunya bekerja. 

suara tawa, tangis dan teriakan murka terjalin dalam setiap malam di kota ini, dan kota mengubahnya menjadi geraman hidup yang menyalakan malam.

bahkan disaat tersunyi sekalipun.

#fiksikota #microstory




Bintang mengibaskan pakaiannya. ia merasa ada sesuatu yang mengotori baju yang ia pakai. rasanya seperti buliran pasir menumpuk diperutnya.

Sejak menjadi pejabat tinggi publik dua bulan lalu, setiap ia mau berangkat kerja, ada rasa tak enak di perut serta dadanya. sudah beberapa baju dicoba dan sama saja hasilnya.

Dokter berkata ia alergi. Bintang bisa menerima penjelasan itu. Ia pun melakukan operasi mengangkat dan membuang nuraninya...

#fiksikota #microstory

2014, disebuah negeri antah berantah diadakan pemilihan pemimpin. banyak calon maju tanpa punya persiapan matang menghadapi kekalahan. Masyarakatpun menggantungkan asa pada para calon pemimpin itu.

Pada calon yang kurus dan dicintai media, para pengusaha berkata; "dia itu memegang uang kami, dia yang akan membawa aspirasi dan tentunya keuntungan buat kami. "

Pada calon yang pengusaha dan kaya, para korban lumpur perusahaannya berkata; "dia itu yang memegang uang hak kami, entah kapan dia membayarnya. kalau dia jadi presiden, dia akan bisa menyuruh lagi negara membayar hutang hutangnya."

Pada calon yang mantan militer, ribuan buruh yang bekerja di pabriknya berdoa;
"dia itu yang memegang uang kami, sudah 5 bulan tak juga gaji diberikan. cepatlah presiden terpilih agar gaji kami tak lagi terpakai untuk kampanye."

Pada calon yang lainnya, rakyat bersorak dan dalam hati berdoa;
"mudah mudahan saat tidak terpilih nanti, tak ada pesuruhnya yang datang menagih semua uang suap yang dibagikan..."

Sebuah rumah sakit jiwa bersolek, mempersiapkan kamar VVIP dengan perawat yang molek. Pasien pasien berduit akan segera datang....

#fiksikota #microstory

rumput hijau. langit biru. bunga kuning dan merah. domba domba yang putih dan kelabu berkeliaran. Putra berdiri ditengah lapangan rumput dibelakang rumah. Hatinya pepat, ia ingin segera pergi dari desanya, mengejar gemerlap dan warna warni kehidupan. Menuju kota.

rumput kelabu, dibawah jembatan batu. langit kelabu, diatas gedung Gedung bisu. Putri menunggu di halte bus komuter. Hatinya tertekan, ingin pergi saja mencari kebebasan. ia ingin merengkuh warna warni alam yang melegakan. Putri ingin kembali ke desa.

Dinding putih, atap putih, lantai putih. Tangan dan kaki terikat di ranjang. Raras hanya ingin dimengerti, ingin berada dalam pelukan orang orang yang bisa mengerti dirinya.

#fiksikota #microstory

1 Mei.
Ratusan ribu buruh turun kejalan, memprotes apapun yang bisa diprotes. Satu hari ini pemimpin perusahaan harus mendengarkan.

Wati ikut dalam rombongan pendemo. digendongannya sikecil meringkuk tertidur, tidak terganggu korlap yang menjeritkan slogan dan jargon berulang ulang. Bus mereka meluncur santai dijalur busway, sementara kendaraan lain harus menikmati kemacetan. Seorang kamerawan yang ikut dalam bus mereka sibuk mengambil gambar. Reporternya menanyai semua yang bersedia diwawancara. Salah satunya Wati.

"ibu, kenapa ikut demo?"
"kan saya buruh... hari ini buruh berjuang.."
"berjuang bagaimana, bu?"
"ya.. minta kenaikan gaji gitu.."
"naik gaji harus dengan demo ya?"
"iya... gitu katanya mas korlap itu.. kalau kita tidak demo, nanti gaji nggak dinaikkan.."
"oh.. begitu ya"
"katanya begitu mbak..."
Wati memandangi reporter itu dengan kagum. Cantik terawat, badannya juga harum. Padahal.ditengah kemacetan dan kerumunan dalam bus yang penuh. Wati ingin seperti dia.

"kenapa bawa anak, bu?" wawancara berlanjut.
"yah dirumah nggak ada yg jaga"
"oh... iya juga ya.. terus kenapa ibu maksain ikut demo? memang ini demo tuntutannya apa saja sih,bu?"
"wah, nggak tau deh... ibu pokoknya diajak demo buat minta kenaikan gaji lagi... biar gede gajinya.. biar bisa beliin rumah dan sekolahin sikecil... pokoknya ngikuut dah... ngeramein."

Mendadak bus dihentikan. Puluhan buruh muda turun dan mengejar sebuah truk bertuliskan merk industri manufaktur di Tangerang. Mereka berteriak dan mulai merusak truk itu. Sang supir dimarahi karena tak ikut demo dan mogok. beberapa bogem mentah mendarat diwajah dan tubuhnya.
Sebagian kain dan bahan produksi yang diangkut dikeluarkan dan dibakar. jalanan pun berteriak lewat klakson mobil mobil pribadi dalam kemacetan yang makin panjang.

Wati ingin berteriak, tapi tubuhnya melemas. diujung jalan sana, ditrotoar samping truk yang rusak, suaminya meringkuk penuh luka. Tadi pagi ia pamit pada Wati untuk membawa truk bahan baku ke pelabuhan. Ia diancam dipecat jika menolak. airmata Wati menetes -suaminya juga cuma buruh yg mengikuti perintah.

disebelahnya, Ani, seorang buruh harian mengeluh dalam hati. Bahan dalam truk itu harusnya tiba di pabrik tempat kerjanya hari ini, agar besok bisa dikerjakan. Kalau tak ada bahan itu, tak ada pekerjaan. 
Dan kalau tak ada pekerjaan, entah bagaimana anak anaknya bisa makan...

#fiksikota #microstory

Gede berjalan perlahan memasuki taman yang mulai dikuasai kegelapan. Beberapa lampu jalan yang mulai menyala hamya mampu membuat suasana jadi temaram. tak sampai terang.

Daerah taman ini terkenal sebagai tempat berkumpul kelompok transgender dan crossdresser, atau sering disederhanakan sebagai Waria. Gede merasa tak nyaman. ia merasa semua mata di taman itu menatapnya. Sebagian waria, sebagian lain pelanggan mereka. Kalau tak terpaksa karena menemui temannya diujung taman itu, Gede tak akan mau malam hari melalui taman ini.

Mendadak Gede merasa seseorang mengikutinya. Siluet sosok berpakaian rok merah seperti wanita. ramping dan cantik. tapi di taman ini, malam hari, Gede tak mau ambil resiko. aura yang terasa membuatnya genntar. nafas Gede mulai memburu. Langkahnya semakin cepat. sepasang mata yang mengikutinya terasa bertambah menjadi dua, lalu tiga. Langkah Gede pun berubah menjadi berlari. makin lama makin cepat. 

Gede kehabisan nafas. Taman itu seakan tak berakhir. ia merasa bayangan orang orang dibelakangnya mengejar. Gede panik, nafasnya memburu. Ia ingin berteriak tapi nafasnya tak bersisa. dibelakangnya imajinasinya mulai bergabung dengan bayangan para pengejarnya. Gede terus berlari, sampai kakinya menyerah. Tumit kakinya tertekuk keluar dan ia terbanting dengan pergelangan yang keseleo.

Tak mampu bangkit, Gede hanya bisa pasrah. perlahan beberapa orang berkumpul mengelilinginya.tak berapa lama, seorang waria berpakaian merah mirip dengan sosok yg dilihatnya sekilas tiba. Gede menegurnya. Nyalinya naik karena dikelilingi banyak orang.

"kenapa ka..kau.. mengejar saya?"
"mengejar?"
"i..iya.. dari ujung taman sana..."
"iiihh... aneh deh elo bo.....nggak kaleee, ...kebetulan aja gue searah ... tempat gue diujung sana tuh."
Gede tertunduk malu. wajahnya memerah. Ia salah sangka. Si waria melengos, menjawil dagu Gede sambil berlalu. Gede mendengarnya berkata;
"dasar geer an... ngapain gua ngejar elo. dasar cowok cemen... gua waria, tapi gua juga punya selera dong.... elo tuh bukan selera gua deeehhh.."
Wajah Gede makin memerah. ia tertunduk lebih dalam.

diseberang lain taman seorang wanita cantik berbaju merah tertunduk dibalik semak. matanya nyalang. ditangannya sebilah gunting berlumuran darah.

#fiksikota #microstory




di koran pagi ada berita tentang seorang anak yang jadi korban kelompok paedofil di sekolahnya.

Negeri berteriak. Orang tua mengutuk. Pejabat pun ikut angkat suara. Polisi tergesa menangkap para tersangka.

di koran pagi muncul lagi cerita, sekolah sang korban diduga sarang paedofil. masih ada pelaku lain disana.

Negeri kembali bergejolak. DPR dan presiden mendesak. Polisi pun tambah jumlah tersangka. lagi lagi hanya pesuruh disekolah itu.

Beberapa hari berlalu, di koran pagi tertulis, seorang dari tersangka tewas di tahanan polisi. 

Negeri bersorak. setimpal, kata mereka. Polisi dapat pujian. Sekolah untung tak lagi diperhatikan. Sang korban tak dapat apa apa. 

Siang berikut di sekolah yang sama. Seorang pria menuntun siswa cilik menuju kamar mandi. Matanya liar dan buas. 

Katanya, "hai, nak, apakah kamu mau masuk koran pagi?..."

#fiksikota #microstory

Duka menatap langit. Awan putih berarak. Tekanan didadanya tak berkurang. Kecewa, putus asa dan frustasi tercampur sempurna. Dibawahnya puluhan orang berkumpul. Suara mereka tak terdengar, tapi tatapan mereka mencapai perasaannya. Ayah dan Ibunya ada diantara mereka.

-ah, mereka tak akan pernah mengerti- pikir Duka. Ia teringat betapa marah orang tuanya saat ada nilai dibawah delapan di raportnya. betapa kasar kata kata mereka saat ia minta ijin naik gunung bersama teman temannya. setiap hari hidupnya dipenuhi kursus, les dan perintah orang tua dan lingkungannya.

Kini nilai UN nya hanya rata rata tujuh. -Mereka pasti murka-

Duka terluka hatinya. Telinganya kini terlalu penuh kesedihan untuk mendengar tangisan orang tuanya dibawah. Pikirannya mampat oleh kebingungan. -Aku harus membebaskan diri. aku harus terbang dari semua ini-. 

Duka menatap seekor burung yang terbang lepas, lalu tersenyum.Duka merentangkan tangannya lalu melompat. 
-bebas, aku ingin bebas-

Di halaman bawah apartemen, orang tua Duka menjerit histeris. 

#fiksikota #microstory

Dia miskin, hidup dibagian terkumuh kota. tidak didalam rumah kardus, tapi dibawah sebuah gardu listrik bekas. 
sehari sekali ia makan nasi, selain itu cukup tegukan air untuk menekan lapar dan dahaga. 8 tahun umurnya, tubuh ramping dengan kulit kusam. matanya, ya hanya matanya yang terus menyala. 

sepengetahuannya ia tak punya nama, tapi semua orang dijalanan menanggilnya Dekil. tak apa, paling tidak ia bisa memperkenalkan diri. Nama itu jadi pengenalnya, selain sebuah tanda lahir besar di pipinya.

awal januari 2014, sebuah mobil mewah berhenti di rumah gardunya. seorang perempuan berpakaian mewah mendadak memeluknya sambil menangis. Dekil tak bereaksi. ia tak berontak karena parfum yang dikenakan wanita itu sangat harum. membuatnya nyaman. Parfum kelas tinggi. Karena asyik menikmati parfum, Dekil tak mendengarkan betapa sang wanita menangis, memohon maaf telah membuangnya, dan menyebut dirinya ibu Dekil. 

Dekil menurut saja saat dituntun masuk mobil. Itu terakhir kalinya Dekil terlihat di gardu rumahnya.

awal mei 2014, Dekil menyusuri jalan setapak lagi. tubuhnya kotor walau bajunya baru. 

Dekil lari dari rumah ibunya. ia muak dipaksa dan dibersihkan. segala peraturan yang mengikat membuatnya kesal. hanya berbekal baju baru, ia kembali ke jalanan. ia tak kembali ke rumah gardu, karena ibunya pasti mencari kesana.

Ini bukan kotanya, bukan tempatnya biasa berlari, tapi ini jalanan dan jalanan adalah rumahnya.

#fiksikota #microstory

"Makanya kamu ikut dong jalan jalan. Jangan ngantor terus pulang langsung.. kayak anak perawan aja dipingit"
"ah, dasar aja dia takut.. takut sama istri"
"iya nih, masak sekali seminggu aja nggak bisa kongkow kongkow...akhir pekan jalan bareng lah... kalau hari biasa kan sibuk kerja."

Mustaqim selalu menanggapi canda teman temannya dengan senyum. ia tak menyalahkan mereka, karena sebetulnya niat mereka baik, menguatkan silaturahmi antar kawan. Bukannya Mustaqim tak mau, ia cuma tak bisa meluangkan waktu berkumpul terlalu banyak dengn teman temannya. prioritasnya berbeda. 

Sayangnya, Mustaqim sedikit malas menjelaskan pilihannya itu. Ia malas mendapat pandangan kasihan atau keheranan saat ia menjelaskan alasannya. biasanya itu yang didapat.

10 jam kerja, 2 jam perjalanan, 5-6 jam untuk tidur, 1-2 jam untuk ibadah personal, macam shalat, mandi, makan dan membaca koran. Mustaqim merasa waktunya untuk keluarga sangat sedikit. Rasanya tak tega menguranginya lagi terlalu banyak dengan lembur atau bekerja dirumah saat week end.

Mustaqim bekerja untuk keluarga, maka ia berusaha keras pekerjaan tidak malah menjauhkannya dari keluarga, dari anak anaknya yang butuh perhatian ekstra.
Sedihnya setiap ia menjelaskan itu pada teman temannya, sebagian mereka menatapnya dengan pandangan kasihan atau keheranan.
Sebagian lainnya malah tertawa dan menganggapnya bercanda.

#fiksikota #microstory

Tekun merasa kecewa. lagi lagi ia tak diangkat menjadi pegawai tetap. sudah nyaris 6 tahun ia menjadi guru SD honorer dengan penghasilan sekedar menutupi ongkos, tapi belum juga ia diangkat. 

Tekun tak pernah mengeluh, ia bahkan nyaris tak pernah terlambat datang ke sekolahnya yang terletak dipelosok Kabupaten Bogor. Kalaupun ia terlambat, biasanya karena sepeda butut yang dipakainya mengajar rusak. Tekun juga tetap tak mengeluh ketika honornya yang tak seberapa itu terlambat. Beberapa kali ia bahkan rela menghabiskan uangnya yang serba kurang demi membuat alat praktek bagi muridnya.

Tekun suka melihat murid muridnya berkembang, dengan gaya mereka masing masing. Tekun selalu merasa hangat di hati saat murid muridnya tertawa dan bermain sesuai usia. Ia terus berusaha belajar dan mencari cara mengajari mereka sebaik mungkin. Buat Tekun, bukan uang yang dicarinya saat mengajar. Sukacita dan tatap mata ceria murid muridnya adalah bayaran yang cukup untuknya.

Disudut lain sebuah kota yang serakah, serombongan tukang ajar yang dibayar berlebihan malah berulah. Mereka menyakiti anak anak yang seharusnya dibimbing. Gilanya aksi mereka ditutupi oleh sang kepala sekolah. Polisi seolah tak punya taring menghadapi keras kepalanya sekolah elit itu. 
Entah karena desakan orang orang kaya yang mendukung sekolah itu, atau gigi mereka sudah terkikis dollar yang bertebaran. 

#fiksikota #microstory

kata kata pengacaranya saat meninggalkan sidang pertama terngiang dikepala Azril. 
"begini kerjaan busuk penegak hukum. memangnya mereka bisa dihukum kalau begini caranya? penundaan sidang... kesaksian tak jelas... ya tentu saja tak jelas. saksi utamanya anak berumur 5 tahun!"

Azril menutupi mukanya dengan tangan. ia teringat teriakan anaknya saat mengigau.
"hentikan mereka, ayah.. hentikan mereka... sakit ayah sakit... mereka jahat... aku takut ayah..."
mengingatnya saja membuat ulu hatinya seperti dipilin.

Sakitnya mendengar anaknya ketakutan terasa lebih menusuk daripada tatapan orang disekitarnya. mereka mungkin kasihan atau bersimpati, tapi buat Azril tatapan mereka seperti menyalahkannya. Ia pun merasa bersalah, sangat bersalah. sebagai Ayah ia malah mengirim anaknya ketempat yang kejam dan menyakitkan buatnya.

Perlahan Azril berdiri dan melangkah keluar pintu sekolah anaknya itu. Taman kanak kanak yang mewah -sangat mewah- saat ia memasukkan anaknya ke sekolah ini, ia berharap memberikan pendidikan terbaik dan penuh cinta pada anaknya, tapi ternyata malah menyengsarakan anaknya. 

mencintai anak, Azril merasa sakit mengingat kata itu. dalam bahasa latin mencintai anak bisa diterjemahkan dengan Paedophilia.. dan sungguh ironis istilah itu juga digunakan untuk kelainan yang menyengsarakan anak anak.

Ia menegakkan kepala. penyesalan menyelip di hatinya, tapi tangis anaknya yang pilu membuatnya mengeraskan hati dan terus melangkah. Seorang ayah memang harus melindungi anaknya. apapun resikonya.

Malam sudah nyaris berakhir saat Azril keluar dari gedung sekolah itu. ditangannya sebuah pisau berlumuran darah.

#fiksikota #microstory

suara gemeretak keras mengejutkan seluruh penumpang kapal. dalam hitungan menit dek kapal mulai miring, semua barang yang tak terikat merosot dan tercebur kearah laut.

Arif berlari kearah buritan yang mendadak jadi tempat tertinggi di kapal itu. serabutan doa doa berhamburan dari mulutnya. air mata mengalir deras dipipinya. ia tak mau mati, anak dan istrinya menunggu nafkah darinya dirumah.

Indria meringkuk bertumpu pada sebuah pilar yang miring. wajahnya tenang, tapi gerakannya tergesa. ia mengeluarkan telepon selulernya dan mulai mengetik pesan: - say, kalau kita tak sempat bertemu lagi, aku hanya mau bilang bahwa aku selalu cinta padamu. have a great happy life, okay? i’ll wait for you on the other side.. - helaan nafas terdengar seiring ia menekan icon kirim.

diburitan sang kapten baru melepas sekoci terakhir. paling tidak 20 orang lagi bisa lepas dari kapal yang dipimpinnya. sang kapten tahu, ia akan menemani kapalnya itu beristirahat dipalung terdalam. tak apa, laut adalah hidupnya, dan laut juga matinya.

belasan orang tewas, ratusan lainnya hilang. seperti semua tragedi, setiap korban punya cerita, mimpi, keluarga, harapan dan beberapa orang yang mengharapkan mereka selamat. seperti semua tragedi, kepergian mereka ditangisi.

sementara itu, dikota yang semakin miskin empati, seorang keparat membuat karya photoshop hoax, tentang penemuan pesawat jatuh di lokasi yang berbeda dengan dugaan para pencari. ratusan orang Bodoh pun menyebarkannya dengan sukarela hanya supaya terlihat lebih pintar.

disudut sudut lain kota, keluarga dan kekasih korban menangis. 

#fiksikota #microstory


18 March 2014

Tentang Nama

saya menduga, dulu, bapak dan ibu kami sangat peduli pada abjad dan berniat memberi nama anak anaknya berdasarkan urutan abjad.  yah, walaupun inginnya begitu, tetap saja (seperti jargon) manusia berusaha tapi tetap Tuhan yang menentukan.

Kakak tertua saya diberi nama dengan awalan abjad paling pertama, A untuk Agung. Kalau mas Agung masih hidup dan bersekolah, sepertinya nomer absennya pasti dibawah 10. Sayangnya mas Agung meninggal saat masih bayi.
Anak kedua, menurut saya, pastinya direncanakan bernama Budi Wahono. B untuk Budi. Mungkin kemudian ditambahi kata Pandu, dengan harapan bisa menjadi awal atau penunjuk arah bagi adik adiknya yang lahir kemudian. Maklum mas Pandu ini terpaksa jadi anak pertama. alhasil nama anak kedua ini pun menjadi Pandu Budi, gagal memakai abjad nomer dua sebagai awalan namanya.

Anak ketigapun -saya kira- awalnya disiapkan dengan abjad ketiga; C untuk Chris. hehehe mirip orang barat ya? kalau yang ini saya duga masalah budaya yang campur tangan. Chrisnadi (mungkin artinya chris anaknya pak saptadi) terbilang tidak akrab dengan lidah Indonesia ditempat kakak saya ini lahir, Bali.
Saya duga Nama Dewa dewa ala agama Hindu mempengaruhi sang tukang ketik akte, maka saat dikatakan chrisnadi, yang ditangkapnya adalah Krisnadi (yang artinya kira kira berhati kresna). Budaya hindu dan budaya birokrasi salah ketik mungkin bertanggungjawab mengubah nama kakak saya yang satu ini. 
Karena nama adalah doa, maka akibatnya kakak saya yang satu ini juga mewarisi beberapa sifat kresna seperti tenang, bijaksana, cenderung bersifat brahmin dan punya ketertarikan pada konflik kenegaraan. hehehe selain warna kulit yang juga agak gelap.

kakak saya yang berikut beruntung. Sebagai anak keempat, mbak yuni berhasil dengan sukses memakai huruf keempat dalam abjad sebagai nama depannya.D untuk Diana. Nama yang kuat, indah dan ada di nyaris semua kebudayaan besar di dunia.

Dugaan saya, nama saya sendiri juga dipengaruhi kesalahan ketik. Eddi dengan dobel "d" artinya jauh berbeda dengan edi dalam bahasa sanskrit ataupun jawa kuno. Edi berarti jaya atau berhasil, sedang eddi... artinya: not found on dictionary (menurut mbah gugel).

Nama pemberian orang tua buat  saya ini adalah Eddi Kurnianto Saptawan. betul E untuk Edi...

Sebagai anak kelima, huruf abjad e memang pas jadi awalan nama saya. lucunya dulu, di raport SD , nama saya selalu terbalik. Saptawan Edi Kurnianto. bahkan saya dipanggil saptawan atau wawan disekolah. entah kenapa.
Waktu SD hal itu tidak terlalu saya pedulikan. seperti om Shakespeare bilang; "what is in a name" alias apalah arti sebuah nama. buat anak kecil seperti saya waktu itu,  yang penting saya menengok kalau di panggil. Bahkan di tanda tangan ijasah SD -yang masih saya pakai sampai sekarang- huruf awal paraf itu menggunakan huruf "S" bukannya "E". Nama keren saya saat itu: Saptawan.

Baru saat SMP pembalikan nama itu jadi masalah. Seperti umumnya anak SMP dirumah saya waktu itu, ada trend menambahi nama kita dengan nama orang tua. Maklum, umumnya nama anak anak di Ciledug hanya satu kata, seperti Marsin, Senan, Tripawoko. Supaya administrasinya gampang, maka di absen sekolah ditambahkanlah nama orang tua, dan itu dipakai dalam pergaulan sehari hari.
Sebenarnya dengan nama saya yang tiga kata -disiapkan untuk mengisi passport, kalau versi saya- tidak ada kesulitan, tapi toh demi azas keadilan tetap saja ada nama bapak Saptadi menempel di nama belakang saya.

Satu lagi tren saat itu adalah panggilan dengan menggunakan inisial nama. Marsanto bin Juhari dipanggil eM Je,  Jahroni bin Mardani dipanggil Ji Em. nah.. saat itulah nama saya jadi bermasalah. Singkatan dari: Saptawan Edi Kurnianto bin Saptadi selalu jadi bahan tertawaan. ya..ya..itu dia.. jangan diulangi keras keras sambil tertawa begitu ah...

Di saat saya gundah karena nama, tiba-tiba ada titik terang. ternyata menurut akte, nama saya adalah Eddi Kurnianto Saptawan. singkatannya menurut saya.lebih keren, dan bahkan bisa disingkat menjadi satu huruf "X".
Jadi tau dong bagaimana teman teman  memanggil saya? benar sekali..
mereka memanggil saya Didit. Itu nama panggilan ngetop yang digunakan oleh semua orang rumah dan tetangga, termasuk anak anak balita yang setiap pagi muncul di depan rumah dan memanggil: didit, didit, didit..
ya benar, didit saja... tidak pakai mas, om, kak atau pak.

begitulah cerita tentang nama kakak kakak saya dan saya - Tentunya menurut dugaan dan persepsi saya saja karena pada saat mereka diberi nama, saya bahkan belum direncanakan.
Masih kurang yakin? cek nama adik adik saya : F untuk Fuad dan G untuk Galih pamungkas, ahaha... terlihat kan polanya? jadi kalau Shakespeare bilang, - apa arti sebuah nama - buat saya sebuah nama adalah pembawa doa dan kreatifitas. 
ide nama dari bapak dan ibu pasti unik sekali saat itu, terutama ditempat kami dilahirkan, dan itu membuktikan kreatifitas orang tua saya.  Saya selalu bersyukur dengan nama ini,  bersyukur saat itu mereka tidak memutuskan memakai urutan angka jawa untuk penamaan anaknya. Kalau iya, bisa bisa nama saya sekarang jadi  Limo Kurnianto. 

ditulis di kereta menuju jakarta, akhir februari 2014.