Sunday, January 22, 2012

Dewan Peduli Apa? (Pantat)


Di sebuah harian ibu kota beberapa hari lalu, ada sebuah gambar yang menarik perhatian saya. Lokasinya di desa Sanghiang Tanjung, Lebak, Banten. Masih dipulau Jawa, relatif dekat dengan pusat pemerintahan.
Gambar itu menunjukkan anak anak berseragam sekolah menyebrangi jembatan gantung yg rusak parah. Mereka terpaksa bergelantungan menjalani titian berupa tali pengikat jembatan. Dibawah mereka tampak sungai yang besar dan dalam. Sekali terpeleset, kemungkinan mereka akan meninggal.

Membaca caption dibawahnya, ternyata mereka melakukan hal itu setiap hari, untuk berangkat dan pulang sekolah. Jembatan itu jalan tercepat dan termurah sampai di sekolah mereka yang diseberang sungai. Luar biasa perjuangan mereka.
Lantas saya mereka reka berapa kira kira biaya memperbaiki jembatan seperti itu. Menurut saya sekitar 150 juta rupiah. Mahal memang, tapi cukup murah dibanding nyawa anak anak itu.

Di Sukabumi lain lagi yang saya lihat. Anak anak sekolah terpaksa berdesakan di ruang kelas yang tak memadai. Dua ruang kelas untuk 6 kelas. Saat hujan, sebagian terpaksa mengenakan jas hujan agar tak basah. Sisanya terpaksa berteduh berhimpitan di pojokan kelas yang masih dinaungi atap.

Butuh lima ruang kelas baru dan sejumlah biaya renovasi untuk membuat sekolah itu terlihat sedikit normal. Sederhana saja, sekedar tak basah saat hujan dan tak terik saat panas. Dana yang dibutuhkan cukup besar, mungkin sampai 800an juta menurut pemborong setempat, tapi menurut saya sepadan untuk membayar semangat puluhan anak yang tetap belajar walau tubuhnya basah oleh air hujan.

Kelihatannya memang butuh uang besar menjaga semangat dan keteguhan anak anak itu belajar. Ratusan juta. Tapi anak anak itu memang masa depan kita, dimana bangsa dan negara akan menggantungkan harapannya nanti.

Saya jadi teringat berita lain tentang anggota dewan terhormat, yang untuk kursi saja butuh tempat duduk spesial seharga sampai 24 juta sebuah. Ah betapa mereka menghargai pantat mereka.
Pesanan kursi itu bukan hanya mewah, pesannya pun harus lewat supplier tertentu agar memastikan kursi itu diimpor langsung dari italia. Padahal saya yakin tempat duduk lokal bisa lebih nyaman, elegan dan yang pasti lebih nyaman didengar harganya.
Bukan cuma itu, saya dengar mereka juga berniat memperbaiki 210 WC di gedung DPR dengan biaya 2 miliar rupiah. Kalau di rata-rata berarti perbaikan setiap WC dibiayai 9,5 juta rupiah lebih. Mewah? mungkin buat rakyat memang mahal, tapi kalau sudah urusan pantat kelihatannya dana di Dewan terhormat kita itu sangat mudah cair.

Bayangan bahwa biaya menyediakan enam atau tujuh kursi anggota dewan bisa membangun jembatan dan menghindarkan puluhan anak dari bahaya, benar benar membuat saya marah. Para anggota dewan yang sangat menghargai pantat itu, sibuk tuding menuding kesalahan, tapi tak satupun berusaha menolak menggunakannya. Mereka seperti sengaja menghina kebodohan para pemilihnya dulu.
Add Image
Sekolah buat ratusan harapan bangsa dimasa depan yang hanya 800 juta tak juga terbangun, sementara WC tempat anggota dewan dan pembantunya meletakkan pantat untuk buang hajat -yang cuma dipakai sekali kali- segera dibangun dengan dana 2 milyar.
Cuma dua penjelasan yang ada di kepala saya; para dewan yang mengaku wakil rakyat ini memang sengaja hendak menghina rakyatnya atau mereka memang sangat menghargai segala sesuatu yang berhubungan dengan pantat mereka.
Dan kalau benar begitu, sangat menyedihkan. Mungkin pada pemilu berikut para pemilih harus memastikan bahwa pilihan mereka bukan sekedar pemimpin berjiwa pelayan yang hanya peduli pada hal-hal yang menempel pada pantat mereka...

Tuesday, January 17, 2012

Dongeng Tanpa Konsonan

Setiap mau tidur, anakku yang kecil selalu minta di dongengi, terkadang sampai 2 dongeng sekaligus. Alhasil terkadang ingatan saya akan dongeng dongeng masa kecil sering tidak lagi mencukupi, akibatnya semakin sering saya membuat dongeng sebisa bisanya. Dongeng yang terkadang melantur juga karena sang pencerita terlalu mengantuk.

Kemarin malam, setelah menyetir seharian bolak balik Bogor – jakarta mendadak anak saya menodong lagi untuk bercerita. Karuan saja saya terpaksa mereka reka sebuah dongeng. Begini dongeng yang saya buat mendadak dan diceritakan buat mereka:

Alkisah, disebuah hutan tropis yang lebat dan belum disentuh tangan manusia sehingga tumbuhannya belum digunduli dan diganti kelapa sawit, hiduplah berbagai macam binatang. Di hutan itu tinggal berbagai macam burung. Ada burung merak yang indah, burung perkutut bersuara merdu, murai dengan bulu indah, burung pipit mungil dan gagak nan hitam legam.

Awalnya semua burung itu berteman akrab, tidak membeda-bedakan bulu atau jengger, tapi akhir akhir ini si Gagak merasa burung burung lain menjauhinya. Pernah suatu ketika, ia sedang terbang sendiri dan melihat teman-temannya berkumpul dan sedang bercengkrama (sampai disini cerita saya harus berhenti sebentar untuk menjelaskan apa arti bercengkrama. Bercengkrama itu ngerumpi, begitu jelas saya.). Ada merpati, merak, pipit, perkutut dan murai. Langsung saja Gagak menukik turun sambil berteriak gembira.. GAAAKK GAAKK GAAAKKK ..begitu suaranya. Kira kira artinya; wahh pada ngobrol apa? Aku ikutan dooongg..
Burung burung yang sedang bercengkrama kaget, dan pada saat Gagak sampai dibawah, mereka malah pergi. Kata mereka:
“Hai, Gagak.. Maaf ya aku harus pergi”
“Iya nih..aku juga”
“Aku juga baru ingat harus menjaga telur.”
Dan sebentar saja mereka bubar. Gagak ditinggal sendiri tanpa teman.
Beberapa kali kejadian serupa dirasakan Gagak sehingga dia merasa teman teman menjauhinya. Gagak merasa sedih, jadi dia ingin tahu kenapa ia dijauhi.

Suatu hari Gagak menyempatkan diri mengintip teman temannya yang sedang bercengkrama dari jauh. Diam diam dia bertengger di dahan tertinggi sementara teman temannya berkumpul di dahan yang rendah. Diperhatikannya teman temannya, dalam pikirannya bertanya, apa kira kira yang membuat mereka menjauhinya.

Diperhatikannya teman temannya dari atas. Merpati tampak cantik dengan bulu bulu putihnya, murai dengan ekor panjangnya sangat indah, perkutut dengan tubuh abu abu bertotol dan merak yang berwarna warni. Gagak tiba tiba merasa tahu kenapa teman temannya menjauhinya. ‘Pasti karena bulu ku yang hanya hitam jelek tak menarik’ pikirnya. Gagak pun makin gundah, ia terbang menjauh dari teman temannya.

Selama beberapa lama Gagak tak pernah muncul diantara teman temannya. Ia mencoba berbagai cara mengubah warna bulu bulunya. Gagak pernah seminggu penuh hanya makan jagung dengan harapan bulunya berubah jadi kuning, tapi bulunya tetap hitam. Gagak juga berkali kali mandi di laut, berharap warnanya luntur, tapi bulunya tetap hitam. Gagak bahkan mencoba berjemur matahari di pucuk pucuk dahan tinggi, berharap hitamnya sedikit pudar, tapi bulunya tetap hitam pekat.

Sementara itu, teman teman Gagak mulai kehilangan dia. Beberapa ekor merasa sedikit bersalah.
“Harusnya kita tidak kasar pada dia,” kata merpati. “Dia kan tidak bersalah.”
“Tapi aku tak tahan dg suaranya.. Gaak gaaak begitu… Keras sekali..” Kata merak sambil menggeleng gelengkan kepala.
“Iya,” tambah perkutut “mana dia suka bikin kaget. Mendadak muncul sambil teriak teriak.. Kan pusing jadinya..”
“Tapi Gagak kan memang begitu..”
“Iya juga ya.. Mungkin asal dia tidak bikin kaget dan nggak teriak teriak saat datang, aku bisa memaklumi..”
“Besok-besok kalau gagak datang kita beritahu ya.”
“..Tapi pernah mikir nggak sih? Buat apa ada burung diciptakan dg suara sekeras itu..? Hihihi jangan jangan dulu dia diciptakan sebagai kesalahan,”cetus si burung pipit.
“Hushh.. mana mungkin sang pencipta berbuat salah..”
Rupanya itu masalahnya. Kebiasaan Gagak datang sambil berteriak lah yang menjadi masalah bagi teman temannya. Kelihatannya Gagak salah duga.

Karena putus asa, Gagak pun memutuskan meminta nasehat pada Sang Rajawali yang perkasa. Ia pun terbang setinggi tingginya diantara perbukitan. Angin keras menerpa bulu bulunya membawa butiran air yang membeku saking dinginnya. Saat kelelahan Gagak bersembunyi di celah celah karang sambil menanti bayangan sang rajawali.
Dan, beberapa waktu kemudian tampak bayangan besar menutupi cahaya sang mentari. Sang Rajawali terlihat membumbung tinggi mendekati awan. Sendiri seperti biasa.

Sekuat tenaga Gagak terbang mendekati sang Rajawali, tapi angin terlalu kencang. Beberapa kali Gagak terhempas kebawah nyaris jatuh. Sayapnya kelelahan. Dia memandang iri pada sang Rajawali yang melayang santai bahkan tanpa perlu mengepakkan sayapnya. Gagak pun berteriak sekuatnya.. GAAKKK GAAAKK GAAAKKK.
Tampaknya sang Rajawali mendengarnya. Sambil menukik tajam ia menghardik Gagak.
“Pergi.. Pergi! Kau tidak seharusnya disini..” Paruhnya yang tajam diluncurkan ketubuh Gagak. Cakarnya nyaris mengenai sayap Gagak. Dengan panik Gagak menghindar dan meluncur turun. Ia bersembunyi di celah sempit dibalik karang.

Sambil mengatur nafasnya yang terengah engah, mendadak Gagak sadar, sang Rajawali tak akan pernah memberinya nasehat.
Rajawali bicara dalam bahasa yang berbeda dengannya. Karena terbiasa terbang terlalu tinggi, Rajawali terbiasa sendirian. Kesepian buatnya bukan kutukan, tapi konsekuensi kekuatan dan kekuasaan yang ia miliki. Kesepian jadi suatu keniscayaan buatnya. Bagaimana mungkin orang seperti itu bisa memberinya nasehat tentang persahabatan? Gagak menertawakan dirinya sendiri yang keliru, menganggap semua yang lebih kuasa berarti juga lebih mengerti segala persoalan. Kebijaksanaan tidak selalu sejalan dengan kekuasaan..
Sampai disini anak saya bertanya; bagaimana dengan burung burung yang lain, papa? Dan saya terpaksa berhenti melantur.

Alkisah, suatu pagi yang lembab karena hujan turun semalaman, burung burung berkumpul karena undangan seekor pelatuk. Betinanya baru saja bertelur 6 butir. Telur telur itu diletakkan di sebuah lubang dipohon angsana tua. Dahan-dahan angsana yang besar dan rimbun dipenuhi burung burung yang menengok dan memberi selamat pada Pelatuk. Gagak termasuk yang memberi selamat.

Karena merasa malu, bulunya masih hitam, gagak datang dengan diam diam. Ia juga hanya memberi selamat dengan suara pelan sebelum bertengger di dahan yang agak tinggi. Gagak agak terhibur karena teman temannya banyak yang tersenyum padanya, walaupun karena semua sibuk memberi selamat, belum ada yang menegurnya.

Merpati menyenggol Pipit dan perkutut yang datang bersamanya. Ia menunjuk ke Gagak yang menyendiri.
“Hei, itu Gagak.. Kasian dia masih menyendiri..”
“Iya, tenang aja.. Nanti setelah melihat telur telur itu kita minta maaf ke dia,” kata perkutut.
“Asal kita nggak disambut suaranya yang aneh dan keras aja,” Pipit sibuk berlompatan sambil nyeletuk “hihihi, suara anehnya untung nggak keluar hari ini… Hei perkutut, ayo balapan sampai di lubang si pelatuk!”
Merpati hanya menggeleng melihat kelakuan temannya. Ia pun lalu menyusul menuju ke pohon angsana tua itu.

Suasana pohon angsana riuh rendah. Semua burung sibuk bicara, saling ngobrol atau sekedar memberi selamat pada pelatuk. Memang banyak sekali yang diundang pelatuk, maklum dia sangat disukai burung burung lain karena sering membuatkan lubang sarang untuk sesamanya. Sayang, yang datang bukan hanya sahabat yang diundang, tapi juga musuh berbahaya.

Seekor ular besar pelan pelan merayap menuju pohon angsana tua. Suara tubuhnya yang bergeser pelan tak terdengar di ramai kicau gerombolan burung itu. Ia merayap sepelan mungkin di balik dedaunan. Pikirnya; kalau aku tak terlihat, pasti bisa memangsa tiga atau empat ekor burung. Pesta besar ini!!

Ular itu melihat berkeliling memastikan tak ada burung yang melihatnya.. Hanya saja ia tak melihat Gagak yang menyepi di dahan tinggi. Bukunya yang hitam membuatnya terlindung dibalik bayangan dedaunan. Justru Gagak yang melihat ular itu semakin mendekati gerombolan burung. Dengan panik Gagak berteriak sekuat tenaga.. GAAAKK GAAAKKK GAAKKK!!! Terjemahannya kira kira: AWAASSS ADA PEMANGSAAAA!!!!

Karena suara Gagak yang sangat keras dan parau, seketika semua burung berhenti bicara. Serentak kemudian mereka berhamburan karena panik.. Sebagian yang bisa terbang langsung terbang, sementara yang tak bisa terbang langsung lari mencari perlindungan. Burung pelatuk langsung mendorong telur telurnya masuk kembali kebagian dalam sarang yang aman. Melihat burung burung itu bubar, sang ular pun menggerutu dan menggeleser pergi. Setelah semua tenang, Perkutut, merpati, merak dan pipit ikut bertengger di dahan sebelah Gagak. Mereka sibuk berterima kasih padanya..

“Wah, Gagak, untunglah ada kamu yang bisa berteriak keras..”
“Iya ya.. Kalau tidak pasti ada beberapa burung yang mati..”
“Beruntung kan, Gagak punya suara yang sangat keras?” Merpati mendorong badan Pipit. “Kata siapa suara seperti itu tak ada gunanya?”
” Ampun.. Iya deh aku salah” Pipit mencolek Gagak “maafkan aku ya, kalau sudah sering menghina suaramu.. Itu kan cuma bercanda ..”
” Kami juga minta maaf sempat menjauhimu, Gak..” Sambung perkutut. “Habis kadang kadang kamu sering teriak-teriak nggak karuan. Suaramu kan keras sekali..”
Gagak hanya tersenyum. Dia senang teman temannya kembali mau ngobrol dengan dia, tapi Gagak juga bingung apa yang sedang di omongkan oleh temannya.

“Kalian ini ngomong apa sih?” Tanya Gagak.
“Kami mau minta maaf, Gak.”
“Ohh.. Tak apa kok. Jadi kalian tetap mau bermain denganku walaupun aku hitam?”
Kali ini giliran teman teman Gagak yang kebingungan. Mereka saling pandang sebelum Merak berkata;
“Memangnya kamu mengira kami menjauhimu karena warna bulumu?”
“Bukankah begitu?” Tanya Gagak.
“Tidak, Gak.”
“Tidak..tidak..”
“Bukan, kami tak pernah mempermasalahkan warna bulumu. Semua burung sama saja.. Yang kami masalahkan adalah perilakumu yang suka teriak teriak. Bikin pusiiinng.. Makanya kami menjauh darimu.”

Mendengar itu Gagak tersenyum. Ia lega bahwa teman temannya tidak memusuhinya karena warna bulu. Ia juga berjanji mengubah perilakunya yang selalu berteriak teriak. Sayang butuh waktu terlalu lama bagi si Gagak menyadari itu. Padahal kalau saja ia mau bertanya-kalau saja teman temannya mengajak bicara dan bukan menjauhinya- pasti masalah itu sudah lama terselesaikan..

Sampai disini saya lihat anak-anak saya sudah tertidur. Mereka memeluk erat gulingnya sambil sedikit tersenyum -entah benar atau tidak, tapi sudut bibirnya tertarik keatas- saya ingin menganggapnya sebagai senyum. Walau dongeng saya tak cukup bagus dan tak cukup sederhana, saya ingin anak anak terhibur karenanya. Dongeng saya memang kurang sederhana untuk anak-anak. Terlalu banyak kata kata susah, terlalu banyak istilah rumit. Terlalu banyak suku kata dan intonasi yang harus dimaknai.. Terlalu banyak konsonan dan vokal tak perlu untuk dipikirkan. Membuat cerita anak anak yang baik ternyata lebih sulit dari membuat novel. Ah, memang harus banyak belajar lagi membuat dongeng anak anak.

Giliran saya untuk tidur. Kelelahan memang bisa jadi pengantar tidur paling baik, tapi alangkah senangnya kalau ada juga yang bisa menceritakan sebuah dongeng sebagai pengantar tidur saya. Kalau bisa sebuah dongeng tanpa vokal atau konsonan agar tak perlu pemaknaan dan pemikiran untuk mengerti. Agar otak saya yang lelah ini bisa terhibur tanpa harus berpikir terlalu keras.

Ah.. Selamat malam semua..


end...

Teman-teman semua, saya berencana memindahkan semua isi blog saya ini ke situs baru di: wiserwriter.com

saat ini seluruh isi blog telah dipindahkan ke situs tersebut, jika berminat terus membaca tulisan saya, silahkan mengunjungi situs:

wiserwriter.com

terima kasih atas kesediaannya membaca dan memberi masukkan terhadap tulisan tulisan saya..


Monday, January 02, 2012

Macet Itu Anugerah

Nak, kemacetan memang menyebalkan ya…

Pagi ini kita bersama-sama menuju puncak, nak. Olahraga sambil liburan, begitu rencana papa dan mamamu yang bosan menghabiskan hari libur di pelataran mall. Kali ini kita tak membawa sepeda, hanya sepatu kets dan ransel. Hiking, nak… Jalan kaki mendaki kebun teh sampai kelelahan, itu rencana papa dan mamamu. Tentunya diselingi piknik ditengah tengah lapangan luas berhawa sejuk di PTP Gunung Mas, Puncak, Bogor.

Singkat cerita, dalam 1 jam kurang, kebun Teh itu sudah terlihat. Jalur puncak pagi itu cukup bersahabat. Kabut tebal dan sedikit gerimis tak mengurangi keinginan menyandang ransel naik turun berkeliling. Menyenangkan melihat kalian bersemangat berlari lari berdua di perkebunan itu. Udara yang dingin dan kelelahan membuat bekal mie dan nasi goreng pun hanya tersisa sedikit. Rasanya liburan kali ini sukses.

Sayangnya pulang dari perkebunan itu lain lagi ceritanya. Sesudah mampir ke mesjid At Taawun yang airnya luar biasa dingin menyegarkan, kita terpaksa mengarungi kemacetan panjang dari masjid itu sampai daerah Ciawi. Kemacetan yang menyebalkan..

Bukan macet atau menunggunya yang membuat papa sebal, nak. Mobil mobil -mewah maupun tidak-menyerobot jalan seenaknya. Mereka mengambil jalur lawan kosong, lalu ngebut melewati beberapa kendaraan yang antre sebelum menyerobot masuk keantrian saat muncul mobil dari arah berlawanan. Para pengendara mobil itu seolah tidak peduli pada mobil lain yang antre, seolah-olah hanya mereka sendiri yang diburu waktu dan ingin cepat sampai. Mereka yang membuat macet ini menyebalkan..

Nak, mungkin kamu kecewa dengan cara papamu membawa mobil. Papa memang tak menyetir dengan menyelusup kesana kesini, menyalip dari kiri atau menggunakan jalur lawan yang kosong untuk mempercepat perjalanan kita. Papamu hanya menempel mobil didepannya sambil berusaha mempertahankan mobil selalu dijalur yang benar. Lambat memang .. maafkan papa kalian ya.

Bukannya papa tak bisa, nak, mengemudikan mobil lewat celah-celah sempit, jalan menuju rumah kita lebih sempit dari separuh jalan raya itu. Bukan juga papamu takut menyelipkan moncong mobil didepan mobil lain untuk meyelip antrian, kamu juga tahu bagaimana papamu sehari hari harus mengemudi melawan angkot-angkot di Bogor. Bukan nak, papamu bukannya tak bisa menirukan gaya mereka mengemudi. Ada beberapa alasan yang membuat papa menganggap tidak sepantasnya papa meniru mereka..

Pertama, Papa takut menjadi zalim pada pengguna jalan yang lain.

Nak, kalian pasti tahu istilah Zalim. Dalam pelajaran agama sejak SD, kita sudah diperkenalkan dengan istilah itu. Kata zalim berasal dari bahasa Arab, dengan huruf “dho la ma” (ظ ل م ) yang bermaksud gelap, tapi secara sederhana zalim bisa diartikan sebagai melanggar haq orang lain. Itu versi Wikipedia, nak. Versi agamanya papa belum cukup paham untuk menjelaskan.

Papa berusaha tidak melanggar hak orang lain, walau sekedar merebut jalur mereka, nak. Takut papa menzalimi orang lain. Walaupun kadang secara tak sadar papa bertindak zalim, tapi kalau sadar akan papa hindari sebisa mungkin. Papa takut disumpahi mereka yang terzalimi, kalian tahu, doa mereka mudah sekali terkabul.

Kedua, Papa bersama-sama dengan kalian.

Bukan saja papa takut kalian celaka, tapi papa juga takut malah mengajari kalian perbuatan yang tidak benar. Papa takut kalian belajar untuk potong kompas dan berbuat curang demi mewujudkan keinginan pribadi, Papa takut kalian belajar untuk tak peduli pada orang lain. Papa takut mengajari kalian untuk betoleransi melakukan ketidakadilan dan kezaliman.

Maaf kalau kita jadi terlambat pulang karena cara papa mengemudi. Jarak yang kita tempuh kurang satu jam saat berangkat, mulur jadi lebih dari 3 jam saat turun. Papa benar-benar nggak suka dengan perilaku para penyerobot itu. jangan jadi seperti mereka ya, nak? Jangan pernah mengorbankan hak orang lain demi sekedar kenyamanan pribadi.

Biar saja kalau kita berkali-kali dilewati orang. Tak apa-apa kok, papa tak keberatan berada lebih lama di mobil jika ditemani kalian dan mama. Mudah-mudahan tidak membuat kita jadi orang yang terzalimi ya, nak. …

Tapi kalau memang kita ternyata termasuk orang terzalimi, nak, jangan kalian sumpahi orang-orang yang menzalimi kita itu ya… itu tidak menguntungkan dan membuang-buang nafas saja. Berdoa sajalah untuk kebahagiaan kalian dan ampunan bagi kami, kedua orang tuamu. Mumpung doa kalian sedang mudah terkabul. Jangan lupa doakan ampunan juga buat mereka y ang menzalimimu, karena merekalah yang membuat doamu lebih mudah dikabulkan Allah SWT.

Nak, kemacetan memang menyebalkan ya…

Tapi kalau kemacetan berarti menambah waktu kebersamaan buat kita, rasanya itu malah suatu anugerah, ya. Mudah-mudahan liburan-liburan berikutnya kita bisa mendapat anugerah lebih banyak lagi, ya nak… dan mudah-mudahan tidak lagi berbentuk kemacetan semacam itu..

Bogor, 2 Januari 2012

Thursday, September 01, 2011

Resensi: Tendangan Dari Langit


Saat pertama kali saya masuk ke bioskop dan membeli tiket, ekspektasi saya sebetulnya tidak terlalu tinggi. Saya pikir Tendangan Dari Langit (TDL) hanya akan menjadi film anak-anak tentang olahraga, seperti King atau Garuda di Dadaku, yang menyenangkan ditonton –tapi tak lebh dari itu. Film mengenai olahraga, apalagi sepakbola yang merupakan olahraga berkelompok, benar-benar tidak mudah. Film olahraga biasanya hanya sampai taraf menghibur, dan tidak menyisakan perenungan setelah selesai menonton.

Tapi saya setengah keliru.

Walau film ini menyenangkan untuk ditonton, ternyata TDL juga menarik untuk dicermati. Kritik-kritik social yang disampaikan secara manis, melalui celetukan-celetukan natural para tokohnya, dan alur cerita yang mengalir sangat cepat, membuat saya terpaksa serius menonton. Fenomena kegilaan sepakbola di Indonesia juga dimunculkan dengan manis dalam beberapa adegan. Misalnya dialog saat wahyu ingin menumpang mobil barang ke stadion Gajayana, Malang.

“kamu Fans Persema?” tanya orang yang ingin ditumpangi Wahyu.

“iya, mas… “ Wahyu tersenyum lebar. Ditangannya selembar poster Irfan Bachdim tergulung. Sampai di titik itu saya masih menyangka bahwa orang yang ditumpangi akan memberikan tempat bagi Wahyu karena ia juga sesame fans Persema. Ternyata ia malah berkata:

“ kalau saya fans AREMA. Musuh kita…”

Dialog itu berhasil memancing senyum saya. Percakapan maupun monolog sejenis banyak beredar di dalam film TDL, dan menambah kekuatan film ini – selain tentunya berbagai makian akrab khas Jawa Timuran yang kalau diterjemahkan ke bahasa Asing bisa membuat film ini diberi rating R alias dewasa.

Tentunya ada kekurangan dalam film ini. Adegan sepakbola dalam film ini cukup baik,realstis dan editing sekuennya rapi, tapi kurang menunjukkan bahwa Wahyu memang berbakat Istimewa. Fokus film pada Wahyu sang pemeran utama membuat seolah-olah pemeran lan tak terlupakan. Bahkan saat bermain sepakbola. Akibatnya sepakbola dalam TDL terlihat seperti permainan individu yang tergantung pada orang-orang tertentu. Padahal tak terlihat skill istimewa Wahyu, yang membuatnya jauh berbeda dari para pemain lain.

Bagi penonton film yang tergerak untuk menyaksikan Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan beraksi, mungkin akan kecewa. Mereka tak lebih dari pemanis marketing film ini. Beruntung masih banyak pemeran lain yang kekuatan aktingnya menutupi para selebritas tersebut.

Beberapa kekurangan tak membuat TDL menjadi film kacangan. Gambar-gambar indah pegunungan Bromo benar-benar memanjakan mata. Berbagai adegan mengalir begitu saja, ada sedih, gembira, lucu dan bahkan satir. Belum lagi Plot yang mengalir cepat dan dialog-dialog cerdas dalam film ini membuat saya terpaksa duduk sampai credit title film, untuk tahu siapa gerangan sang penulis skenarionya.

Kali ini saya harus memberi pujian pada Fajar Nugros dan Hanung Bramantyo. Skenario yang apik.

Paling tidak ada dua adegan yang membuat saya menahan air mata. Saat wahyu mempersembahkan kuda yang diperolehnya dari hasil mengadu bola tarkam kepada sang ayah dan saat Wahyu yang kecewa mengurung diri di kamarnya. Kesedihan yang tidak muncul tiba-tiba tapi disusun perlahan sampai memuncak di kedua adegan tersebut.

Selamat juga buat Zaskia Adya Mecha, Pemilihan aktor dan aktris teater senior yang menemani para selebrts non aktor (seperti Bachdim, Kim Kurniawan dan pemeran utamanya sendiri) terasa menyenangkan menurut saya. Memberi keseimbangan, sehingga film TDL ini tak berubah menjadi sekedar film dengan parade selebritis.

Sujiwo Tedjo dan Agus Kuncoro bermain dengan dahsyat.

Yosie Kristanto juga cukup baik. Sebagai Wahyu pemeran utama, cukup bagus walau ekspresinya seringkali terlalu datar. Untungnya karakter muka Wahyu yang melankolis sangat menolong saat berakting dalam adegan-adegan sedih. Maudy Ayunda yang cantik juga berperan secara menyenangkan, berperan sebagai Indah kekasih Wahyu.

Tapi terus terang, para pemeran yang memberikan geliat sesungguhnya malah para figuran, Jordi Onsu
Joshua Suherman. Berkali-kali peran tambahan mereka memancing senyum saya, dan menghindarkan saya dari kebosanan. Peran dan scenario yang menarik sekali…

Secara Garis besar, film ini menyenangkan dan mampu membuat saya terhibur sekaligus berpikir saat meninggalkan bioskop. Berpikir tentang kondisi sepakbola di Indonesia, berpikir tentang kesempatan berkembang bagi anak-anak yang punya kemampuan lebih di bidang olahraga, sekaligus berpikir; sudah saatnya mengeluarkan sepatu bola saya dan kembali bermain di lapangan hijau.

Selamat buat crew Tendangan dari Langit. Ini film bagus!

Wednesday, August 31, 2011

Bicara ngopi

Buat saya, rasanya paling asyik kalau ngobrol ngalor ngidul dengan teman-teman sambil ditemani segelas kopi atau capucino es. Tak peduli minumnya di café-café atau cukup di warung pinggir jalan, kopi dan ngobrol seru malam hari, rasanya tak terpisahkan.

Karena itu, kali ini saya ingin bicara tentang kopi.

Sejarah Kopi.

Minuman gelap yang satu ini sekarang sudah sangat populer di dunia. Bahkan, salah satu alasan bangsa Eropa melakukan kolonialisme keliling dunia, adalah untuk memperoleh rahasia rempah-rempah dan biji kopi yang sebelumnya hanya dikuasai bangsa Arab. Bersamaan dengan kolonialisme itu, bangsa Eropa juga menyebarkan selera dan tatacara mereka menikmati minuman kehitaman tersebut. Penyebaran itu masih berlangsung hingga saat ini.

Sebenarnya bangsa Eropa bukan penikmat pertama minuman dari biji kopi. Pemanfaatan biji-bijian ini menjadi minuman diawali jauh di dataran Afrika.

Era penemuan biji kopi dimulai sekitar tahun 800 SM. Pada saat itu, banyak orang di Benua Afrika, terutama bangsa Etiopia, yang mengonsumsi biji kopi yang dicampurkan dengan lemak hewan dan anggur untuk memenuhi kebutuhan protein dan energi tubuh. Para penggembala ternak Ethiopia, memperhatikan saat ternak mereka mengkonsumsi tanaman sejenis bery liar, ternak itu menjadi lebih energik dan tidak tidur sampai malam. Saat mereka mencoba mengkonsumsinya, energi mereka bertambah dan kuat bertahan tak tidur sampai beberapa malam.

Pada tahun 1000 orang-orang Arab yang lebih maju tehnologi nya, yang pertama menikmati minuman dari hasil ekstraksi bjih tersebut dan membudidayakannya secara serius. Kepopuleran kopi pun turut meningkat seiring dengan penyebaran agama Islam pada saat itu hingga mencapai daerah Afrika Utara, Mediterania, dan India. Tahun 1453 kekaisaran Ottoman Turki, dalam ekspansinya, memperkenalkan minuman dari biji tersebut ke konstantinopel. Tahun 1475, di dirikan kedai kopi yang tercatat sebagai yang pertama di dunia disana. Kedai itu bernama Kiva Han.

Nama kopi sendiri berasal dari bahasa Arab; qahwah yang berarti kekuatan, karena pada awalnya kopi digunakan sebagai makanan dan minuman penambah energi. Kata qahwah kembali mengalami perubahan menjadi kahveh yang berasal dari bahasa Turki (kekaisaran ottoman) yang kemudian diubah dalam dialek Eropa menjadi Coffee( Inggris ) atau koffie ( Belanda ).

Biji kopi dibawa masuk pertama kali ke Eropa secara resmi pada tahun 1615 oleh seorang saudagar Venesia, yang mendapatkan pasokan biji kopi dari orang Turki. Maka sejak awal abad 17 pun Eropa mulai tergila-gila pada minuman kehitaman ini. Kopi dianggap sebagai minuman perangsang dan pembangkit energy yang mumpuni. Harganya pun melejit tinggi, apalagi saat itu biji kopi harus diimpor dari luar benua Eropa. Kedai khusus kopi pertama di Eropa adalah sebuah kedai kopi di Italia yang baru dibuka nyaris dua abad kemudian, tahun 1645. Tak heran Italia seolah olah menjadi kiblat bagi para peminum kopi di Eropa.

Kopi juga merambah ke wilayah yang disebut benua baru, Amerika Serikat dan Australia. Tahun 1668 kopi bahkan sudah menjadi minuman favorit di wilayah New York, Amerika Serikat, mengalahkan bir.

Di Indonesia, kopi jenis Robusta juga tumbuh. Pada tahun 1714, sampel kopi dari Jawa dibawa ke Prancis untuk dipersembahkan pada Raja Louis XIV dan kemudian ditanam di Jardin des Plantes, Paris. Karena tertarik pada mutu kopi yang tumbuh di Indonesia, pada tahun 1800an, Belanda membawa varian kopi Arabica yang terkenal untuk ditanam di perkebunan Indonesia. Dengan perbedaan elevasi yang ada di bumi Indonesia dan kesuburan tanahnya, kopi itu dapat tumbuh dengan baik. Sekitar tahun 1830 penguasa tertinggi Belanda di Hindia Belanda; Gubernur Jenderal Johannes Van Den osch, menerapkan Tanam Paksa (cultuurstelsel) yang mewajibkan masyarakat menanam tanaman bernilai ekspor, diantaranya kopi. Daerah Jawa Barat yang tanahnya subur dan punya daerah pegunungan dijadikan pusat budidaya kopi Arabica yang sangat mahal.

Sistem tanam paksa berakhir tahun 1870an, tapi karena kopi menjadi tanaman komoditas yang hasilnya menggiurkan, penanamannya pun dilanjutkan. Sistem perkebunan yang lebih liberal pun ditetapkan pemerintah Belanda di Hindia Belanda.

Tahun 1878, seorang pebisnis China bernama Tek Siong membangun kedai kopi pertama di Batavia (Jakarta). Kedai itu diberi nama toko kopi Tek Sun Ho. Saat itu minum kopi adalah tren paling mutakhir bagi para petinggi dan orang kaya di Batavia.

Jenis Jenis Kopi

Sebenarnya ada lebih dari 70 jenis tanaman kopi di seluruh dunia. Mulai dari yang berbentuk perdu setinggi 60 sentimeter, sampai berbentuk tegakkan pohon setinggi belasan meter. Meskipun demikian, sampai saat ini hanya dua jenis kopi yang dianggap punya nilai ekonomis cukup tinggi untuk dikembangbiakkan.

1. Kopi arabika (nama latin: Coffea Arabica)

Kopi yang asalnya dari Brasil dan Etiopia ini menguasai nyaris 70 persen pasar kopi dunia. Kopi arabika memiliki banyak varietas, rasanya tergantung negara, iklim, dan tanah tempat kopi ditanam. Tak heran kopi arabika biasanya lebih populer dinamai dengan daerah tempat kopi tersebut tumbuh, misalnya: Kopi Jawa, kopi toraja, mandailing, kolumbia, brasilia, Jamaican blue mountain, Ethiopian Yirgacheffe dan lain sebagainya. Antara kopi arabika yang satu dan yang lain punya perbedaan rasa.

Secara garis besar, kopi Arabica punya rasa lebih pahit dan tekstur hasil gilingan yang lebih halus daripada kopi Robusta. Yang khas adalah rasa harumnya yang seperti bunga, dengan sedikit rasa asam yang menyenangkan. Harga kopi Arabica nyaris dua kali lipat dari kopi robusta, sayangnya tanaman kopi Arabica lebih pemilih. Biasanya hanya dapat tumbuh di wilayah dataran tinggi lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut. Tanaman itu juga membutuhkan iklim sedang dengan sedikit angin.

Biji kopi arabika lebih besar dan wangi darpada kopi robusta, tapi produksinya relative lebih sedikit. Harga dipasaran internasional bulan Agustus 2011 adalah sekitar 34.000 rupiah per kilogram.

2. Kopi robusta (nama latin: Coffea Canephora / Robusta)

Sebenarnya nama Robusta adalah nama perdagangan dari kopi jenis Canephora ini. Jenis ini Menguasai hampir 30 persen pasar dunia. Kopi ini tersebar di luar Kolumbia, seperti di Indonesia dan Filipina. Sama seperti arabika, kondisi tanah, iklim, dan proses pengemasan kopi ini akan berbeda untuk setiap negara dan menghasilkan rasa yang sedikit banyak juga berbeda.

Robusta memiliki rasa sedikit lebih mirip dengan coklat. Baunya cenderung manis dan lebih kasar teksturnya daripada arabika. Kopi Robusta lebih mudah tumbuh. Tanaman kopi ini bisa subur di ketinggian 300 – 2000 meter dari permukaan laut.Lebih tahan terhadap penyakit dan hawa dingin.

Kopi Robusta memiliki kandungan kafein lebih tinggi 25% daripada kopi Arabica sehingga lebih sering digunakan sebagai bahan kopi instan. Harganyapun terpaut jauh dari kopi Arabica sehingga lebih ekonomis untuk industri. Harga dipasaran internasional bulan Agustus 2011 adalah sekitar 18.000 rupiah per kilogram.

3. Kopi ekselsa, racemosa, dan liberica (african coffee)

merupakan jenis kopi yang mulai dibudidayakan, tapi tersebut saat ini masih dalam tahap pengembangan.

Kopi Luwak

Saat ini kopi paling mahal adalah kopi Luwak. Bayangkan kalau kopi Arabica berharga sekitar 34.000 rupiah per kilogram, secara indternasional kopi luwak bisa mencapai 350.000 rupiah sampai 1,5 juta per kilogram. Kopi luwak bukanlah salah satu jenis tanaman, tapi lebih merupakan kopi yang diolah secara unik. Kopi ini adalah kopi yang khas Indonesia.

Kopi Luwak merupakan kopi yang berasal dari biji kopi, baik jenis arabika atau robusta, yang sudah dimakan oleh hewan luwak (hewan sejenis musang dengan nama latin Paradoxurus hermaphrodites ). Luwak akan menelan buah kopi tapi tak mampu mencerna bijihnya. Biji kopi itu akan tercampur dengan enzim yang ada di perutnya lalu terbuang bersama kotorannya.

‘Biji yang ada di dalam kotoran luwak itu adalah inilah yang dinamakan kopi luwak. Para ahli perasa kopi menganggap kopi luwak adalah crème de la crème kopi paling dahsyat yang ada.

Wajar kalau kopi luwak menjadi sangat istimewa karena luwak akan mencari buah kopi yang 90 persen matang. Ia tidak melihat warna, tetapi menggunakan daya penciuman yang tajam dan selalu mencari kopi pada malam hari. Dalam satu pohon kopi, biasanya hanya 1-2 butir buah kopi terbaik yang dimakan. Dengan begitu, kopi yang diambil oleh luwak adalah kopi dengan nilai kematangan tertinggi, yang setelah terproses dengan enzim luwak akan menjadi kopi yang istimewa..

Tentunya tidak mudah mencari kotoran luwak di perkebunan kopi yang luasnya bisa beberapa hektar. Karena itu kopi luwak sulit didapat.

Yang perlu diwaspadai kalau anda membeli kopi luwak adalah kenyataan bahwa rasa kopi luwak tergantung jenis kopi dan kematangan yang dimakan luwak. Kopi Arabica yang dimakan luwak, hasilnya akan berbeda dengan kopi robusta yang juga dimakan. Kopi dataran tinggi juga menghasilkan rasa berbeda dengan kopi yang tumbuh di dataran rendah.

Belum lagi, kesulitan mencari tempat luwak membuang kotoran menyebabkan para petani kopi yang ingin memperoleh kopi luwak pun mengambil jalan pintas. Bukannya berusaha mencari tempat luwak buang kotoran untuk dicari kopinya, para petani mengurung luwak dan memberinya makan kopi. Dengan begitu kotorannya akan mudah dikumpulkan.

Sayangnyakarena luwak itu dikurung dan diberi makan, ia hanya bisa memilih kopi dari antara buah buah kopi yang disodorkan sang petani. Jadi walaupun belum matang penuh, tetap terpaksa dimakan. Akibatnya kopi luwak yang dhasilkan pun (walau tetap enak) tidak mencapai kualitas istimewa seperti dihasilkan luwak liar yang bisa memilih biji kopi langsung dari perkebunan.

Cara Penyajian Kopi

Berikut adalah cara penyajian kopi yang umum dipasaran. Hati-hati memesan kopi agar tidak mendapatkan kopi aneh yang malah tak bisa anda nikmati karena tak sesuai selera.

Espresso dibuat dengan mesin brewing khusus. Biji kopi dimasak dalam mesin dengan air bertekanan sangat tinggi. Akibatnya ekstrak kopi turut keluar bersama air. dari lubang kecil pada bagian bawah mesin tersebut. Seluruh bijih kopi yang tersisa di dalam mesin harus dibuang dan diganti dengan yang baru untuk kopi yang berikutnya. mesin pembuat espresso ditemukan oleh Luigi Bezzera dari Italia pada tahun 1901. Di Italia, espresso diminum dalam takaran kecil setelah makan siang atau malam.

Variasi lain dari Esspreso adalah Lettecino, dimana susunya dua kali lebih banyak dari esspreso biasa dan ditambah dengan susu berbusa, Ristretto atau esspreso kental yang jumlah konsentrat kopi didalamnya jauh lebih tinggi dari esspreso biasa. Pembuatannya biasa dilakukan dengan mencampurkan 1 ons kopi dengan ekstrak air kopi tersebut dalam satu cangkir berukuran kecil. Esspreso yang disajikan regular tapi ditambah lemon disebut Café Romano, sementara jika ditambahi es saja maka Esspreso biasanya disebut Fredo.

Macchiato sebenarnya adalah varian dari espresso yang ditambahi sedikit susu. Susu itu tidak diaduk didalam minuman namun terkesan seperti ‘diendapkan’ di bagian atas espresso agar melapisinya (karena jumlahnya yang sedikit). Berbeda dengan cappuccino yang memang merupakan campuran espresso dan susu, pada macchiato susu berfungsi untuk melapisi espresso dari udara terbuka dengan takaran tipis. selain sejumlah kecil steamed milk, kadang digunakan milk foam. Hal ini untuk menandai bahwa kopi tersebut mengandung susu. Macchiato ini punya nama lengkap espresso macchiato.

Long Black populer di Australia. Kopi ini adalah ‘espresso encer’, yang dibuat dengan cara menuangkan espresso di atas air panas. Air panasnya dulu, baru espresso. Urutan tersebut dimaksudkan supaya tidak merusak crema atau rasa dan aroma yang terdapat pada espresso. Hidangan kopi model ini banyak menggunakan bahan bijih kopi yang berasal dari Ethiopia (Arabica) dan Sumatera.

jika anda menaruh espresso dulu baru air panasnya, maka disebut cafe americano. Yang membedakan antara Long Black dan Americano adalah urutan penyajiannya.

Correto, adalah jenis Esspresso yang diberi campuran Brandy atau Cognac atau minuman keras lain.

Cappuccino merupakan resep yang sangat populer. Kopi ini punya tiga komposisi utama : espresso, susu (steamed milk), dan foam. Cappuccino mempunyai ciri khas adanya foam pada bagian permukaan. kopi ini adalah jenis yang paling sulit dihidangkan dengan benar. orang Italia hanya minum cappuccino pada pagi hari, sebelum jam sebelas.

Caffè Latte ditemukan bukan di Italia, adalah resep kopi yang populer di Amerika. Latte berasal dari bahasa Italia yang artinya susu. Jadi andai anda memesan latte di kafe-kafe Italia, anda akan mendapatkan segelas susu. Caffè latte (untuk membedakan dengan susu murni), terdiri atas sepertiga espresso dan dua per tiga susu, ditambah sedikit foam setebal 5-10 mm di atasnya. minuman ini mungkin cukup disebut ‘kopi susu’ di Indonesia. Di Prancis, namanya café au lait, di Spanyol, namanya café con leche, dan di Portugal, namanya café com leite

Caffe Breve mirip seperti Caffe Late, tapi lebih terasa susunya karena dalam jenis ini, porsi kopi dan susu jumlahnya sama.

Café Mocca adalah kopi yang dberi campuran sirup coklat dan susu. Biasanya dalam penyajian ditambahi dengan whipcream yang di bagian atasnya diberi taburan coklat bubuk. Terkadang di resto kopi kelas bawah, café mocca diterjemahkan terbalik dengan minuman coklat yang diberi kopi.

Frappuccino diciptakan oleh Coffee Connection di Boston, hak cipta frappuccino ini kemudian dibeli oleh Starbucks. Istilah frappuccino berasal dari kombinasi frappe dan cappuccino. Frappe merupakan istilah untuk milk shake yang kental. Campuran milkshake dengan kopi itu ada dalam berbagai rasa, mulai coklat sampai raspberry.

Kopi Oleng, kopi khas Thailand yang dimasak dengan jagung, kacang kedelai, dan wijen.

Kopi Tubruk, khas dari Indonesia, eksrak kopi tanpa campuran apapun. dibuat dengan memasak biji kopi bersama dengan gula.

Melya, sejenis kopi dengan penambahan bubuk cokelat dan madu

Berbagai cara penyajian di atas tidak menentukan kenikmatan secangkir kopi. Pada akhirnya yang paling menentukan adalah selera sang peminum kopi. Dan seperti saya katakana sebelumnya, buat saya minum kopi paling nikmat adalah sambil ngobrol bersama teman-teman di malam hari.

Bagaimana dengan cara anda minum kopi?


tulisan ini juga saya publish di kompasiana saya.....


Daftar bacaan:

Artikel: “Mengenal Jenis Kopi Kelas Dunia” dalam situs Female. Kompas.com

Artikel: “Coffee History” Bean Scoop. 2006.

Artikel: “Kopi dari masa ke masa” Bakoelkoffie.com

Artikel: “kopi” Wikipedia.org

Artikel: “jenis kopi yang bisa membingungkan” rubric dapur, Koran Tempo. 200..

Buku : “Jakarta,Sejarah 400 tahun” Susan Blackburn. Masup Jakarta, 2011

Thursday, June 16, 2011

Meals On Wheels, program perhatian untuk Lansia

22 Desember 2005

“just called me Pete,”

itu katanya saat aku bertanya, bagaimana cara saya memanggilnya. Awalnya agak sungkan juga memanggilnya Pete. Bagaimana tidak, usianya hampir 3 kali lipat usia saya. Pete berumur 71 tahun, tapi masih tampak segar dan sangat energik. Tubuhnya cukup tinggi, lebih tinggi beberapa centi dari saya yang 173 centimeter, dan cenderung kurus. Rambutnya yang menipis dan sebagian besar sudah berwarna putih tersembunyi dibalik sebuah topi baseball warna merah tua.

Saya bertemu Pete di daerah pedesaan di Montana, Amerika Serikat. Saat itu saya sedang mendapat kesempatan melawat ke negara adidaya itu, untuk menyelesaikan sebuah tugas sebagai seorang jurnalis. Di Amerika itu saya mencoba menjawab pertanyaan ini; di Negara individualis seperti Amerika, bagaimanakah kepedulian masyarakatnya terhadap minoritas, orang dengan keterbatasan ataupun orang tua.

Pertanyaan itu yang akhirnya membawa saya bertemu dengan Pete.

Seorang teman memperkenalkan sebuah program yang disebut Meals on Wheels atau MOW. Program ini bertujuan memberikan bantuan makanan pada orang-orang yang terpaksa tinggal terikat di rumahnya, dan kesulitan mendapatkan makanan. Karena syaratnya adalah terikat pada rumah, kebanyakan yang menjadi pelanggan dalam program ini adalah orang cacat atau berusia lanjut yang tinggal sendirian. Saat di Montana, saya sempatkan datang ke markas MOW di Negara bagian itu.

Ide awal dari Meals On Wheels datang dari kegiatan The Women's Volunteer Service for Civil Defence, atau WVS di Hertfordshire, inggris tahun 1947. Kelompok ini adalah tenaga relawan yang membantu menyediakan hantaran makanan ke rumah-rumah pasca perang dunia II. Saat itu banyak keluarga mengalami kesulitan karena banyaknya laki-laki yang menjadi korban perang. Di Amerika Serikat sendiri, program ini diawali Januari 1954, saat

Margareth Toy, seorang relawan dari Philadelphia's Lighthouse Community Center memulai sebuah program hantaran makanan atas permintaan lembaga kesehatan dan kesejahteraan Philadelphia.

Sejak itu kegiatan sejenis dilakukan di banyak Negara bagian, dan dilembagakan sebagai sebuah kegiatan sosial, antara lain oleh The Meals on Wheels Association of America (MOWAA).

Saya bertemu dengan JR. Styles, direktur program Meals on Wheels di kota kecil Mankato, negara bagian Montana. Styles adalah pria tinggi besar dengan logat selatan yang kental. Ia menyediakan makanan dibantu 7 relawan dalam satu shift. Seluruh pekerja MOW, kecuali Styles adalah relawan yang bekerja tanpa dibayar, kebanyakan juga sudah berusia lanjut, tapi masih bersemangat menjalani hari-harinya.

Walaupun nyaris seluruh pekerja nya adalah relawan, MOW dijalankan dengan professional. Pendanaan MOW sebagian besar adalah sumbangan dari warga masyarakat ditambah sedikit bantuan dari pemerintah daerah. Dana itu di distrbuskan langsung kepada pelanggan yang kekurangan. MOW juga memiliki divisi khusus penarian dana, yang berusaha meminta donasi pada perusahaan besar atau mengadakan penggalangan dana dengan berbagai cara.

Selain pendanaan yang independen, administrasinya juga sangat rapi. Petugas administrasi sebagian besar adalah relawan dari kelompok professional. Relaan itu ada yang pekerjaan aslinya adalah pengacara, ahli pajak, pegawai bank, dokter dan bahkan buruh kasar. Masing-masing membantu dengan kemampuannya sendiri, bahkan ada yang hanya membantu dengan tenaga. Biasanya mereka menyediakan satu hari dalam seminggu untuk kegiatan MOW ini, semuanya dibawah penjadwalan dan komando dari direktur wilayah tersebut tentunya.

Di setiap wilayah ada petugas yang bertanggungjawab mengatur jumlah relawan yang bertugas setiap hari dan jadwal mereka. Para petugas itu juga memastikan jumlah makanan yang dibutuhkan dan melakukan pendataan rutin dari pelanggannya. Semua pelanggan MOW ini memang harus mendaftar dulu. Direktur seperti Styles juga bertugas memastikan, apakah pelanggan itu masuk criteria yang layak dibantu atau tidak.

Dengan pendaftaran itu MOW dapat mendata pelayanan seperti apa yang terbaik untuk Pelanggannya. Bahan makanan bergizi dimasak dengan memperhatikan pantangan khusus yang dimiliki pelanggannya. Untuk memastikan makanan itu sesuai dengan kebutuhan para lansia itu mereka dibantu seorang ahli gizi, yang tentunya juga relawan. Pengawasan ini dianggap penting karena pelanggan mereka yang umumnya sudah tua, biasanya memiliki sejarah penyakit yang berbeda-beda.

Para relawan MOW akan mengantarkan makanan satu sampai dua kali sehari, tergantung kebutuhan pelanggannya. Semua makanan akan dimasak secara bersama-sama oleh para relawan di dapur umum.

Didapur umum ini mereka juga menerima pelanggan yang ingin makan bersama ditempat ini, tentunya mereka juga harus mendaftar sebelumnya supaya tidak terjadi kekurangan pasokan makanan.

Setelah makanan selesai dimasak dan siap dikirim, giliran para supir relawan yang akan bekerja mengantar makanan itu. Salah satunya adalah Pete. Pria berusia 70 tahun ini sudah beberapa tahun menjadi relawan MOW. Setiap hari ia mengantarkan makanan kepada para lansia yang kesulitan memperoleh makanan atau hidup sendiri. Hari itu saya memutuskan ikut di mobil van nya.

“just called me Pete,” katanya saat saya tanyakan nama lengkapnya. Beberapa kali saya tanyakan, tapi jawabannya sama saja.

Sampai selesai mengikutinya saya tidak berhasil menanyakan nama belakangnya. Bukan karena Pete tertutup atau pendiam, bahkan sepanjang 2 jam perjalanan, Pete terus bercerita. Tapi sepertinya ia memang lebih senang dikenal sebagai Pete saja..

Cerita tentang dirinya sederhana. Pete sekarang tinggal sendirian dirumahnya. Anak-anaknya sudah beranjak dewasa dan pergi mencari kehidupan sendiri. mereka sempat memintanya menghuni sebuah panti relaksasi untuk lansia, tapi Pete merasa masih cukup sehat untuk berkarya, maka Ia memutuskan tinggal sendirian dirumahnya.

Kisah seperti itu memang sering terdengar di Amerika. Banyak kaum lansia di Negara ini yang memilih tinggal sendiri setelah anak-anaknya dewasa.

Saat mendengar cerita tentang MOW, Pete memutuskan mengunakan sisa hidupnya untuk membantu para lansia yang tidak seberuntung dirinya.Ia pun mendaftar sebagai relawan.

Kami berkeliling ke beberapa tempat. Adakalanya Pete hanya menyerahkannya didepan pintu, tapi dibeberapa tempat Pete juga masuk ke dalam rumah pelanggannya. Terkadang ia hanya menyerahkan makanan, tetapi di beberapa tempat ia berhenti untuk mengobrol.

Disalah satu rumah, saya memutuskan ikut masuk bersama Pete. Rumah itu cukup besar dan tampaknya berkecukupan. Pemilik rumah itu bernama Jacqueline, ia tinggal sendirian saja, padahal ia di kursi roda.

Pete duduk sebentar menemani Jaqueline mengobrol. Selain itu Pete juga membawakan beberapa obat yang dibutuhkan wanita itu. Jaqueline seumur dengan Pete, tapi ia terikat pada kursi roda. Osteoporosis kelihatan menggerogoti kesehatannya. Saya sempat berbincang sebentar dengan Jaqueline tentang MOW.

“ apakah program ini berguna untuk anda?”

“ sangat… tentunya sangat berguna. Anak muda seperti anda tentu tak bisa membayangkan hidup orang-orang tua seperti saya. “

“ Apakah sangat susah? “

“ kesepian tepatnya.. kedatangan Pete selalu dinantikan..” Jaqueline tertawa kecil.

“ Do you like Pete? “

“ yes, he is funny… “ Jaqueline tertawa lebih keras “ Pete teman bicara yang menyenangkan…”

Pete berkata bahwa Jaqueline memberikan sumbangan untuk MOW. Dia bukan salah satu pelanggan gratisan, tapi perlakuan padanya sama saja dengan kepada pelanggan lainnya. Saat kami berpamitan untuk melanjutkan tugas, saya sempatkan bertanya pada Jaqueline; apakah dia tahu nama lengkap Pete.

Jaqueline tersenyum dan menjawab:

“ dia Pete… buat saya, dia cukup sebagai Pete saja… saat ini untuk saya, susah mengingat nama belakang seseorang “

Saya memikirkan jawaban itu sepanjang perjalanan kembali ke dapur umum MOW.

Dinegara dimana lebih dari 25% penduduknya adalah kelompok usia lanjut dan lebih dari sepertiganya tinggal sendiri, program ini menjadi penting. Apalagi individualitas yang tinggi kerap membuat orang tak lagi tahu keadaan tetangganya. Berita tentang seorang lansia yang meninggal dirumahnya dan baru diketahui beberapa hari kemudian sangat sering terjadi di Negara ini, padahal tinggal sendrian di masa tua semakin jadi pilihan bagi para lansia disana. Dengan adanya MOW, para lansia yang hidup sendiri –terutama yang tak bisa bergerak bebas – dan juga keluarga yang meninggalkannya sendiri, bisa lebih tenang. Para lansia itu bisa mendapat sedikit perhatian dan pengawasan dari orang lain. Tugas seorang supir relawan memang bukan hanya mengantar makanan. Relawan juga mengawasi kondisi lansia yang tinggal sendirian, apakah butuh bantuan kesehatan, atau mungkin sekedar ingin ditemani. Kalau Lansia itu butuh perawatan tambahan atau pertolongan, relawan MOW segera akan menyampaikannya pada dinas pemerintahan terkait.

Uniknya kebanyakan dari relawan Meals on Wheels ternyata juga berusia lanjut. Relawan tertua bahkan berusia 80 tahun. Bagi orang-orang tua itu meals on wheels bukan sekedar program makanan gratis, tapi lebih merupakan perhatian pada kelompok lanjut usia.

Terpikir kondisi d Negara saya tercinta. Fenomena lansia tinggal sendirian juga semakin marak. Di kota-kota besar, budaya bertetangga yang dulu erat –saling berkunjung, saling bersapa- juga sudah mulai pudar. Jangan-jangan sebentar lagi program serupa MOW juga dibutuhkan di Indonesia. Atau jangan-jangan memang sudah dibutukan…

Mengantarkan makanan bersama Pete rasanya lebh mrip bertamu ke rumah teman-teman lama. Walau waktu kunjungan ke setiap rumah paling lama adalah 15 menit, tapi keakraban yang terpancar sangat menyentuh. Rasanya ingin menambah beberapa lama lagi menjadi relawan wheelson meals ini, tapi apa daya waktu saya sangat singkat. Saya harus segera melanjutkan perjalanan ke tujuan berikut.

Pulang menuju dapur umum, saya masih mendengar celoteh Pete tentang bagaimana MOW mengangkat semangat temannya sesama lansia. Temannya itu, yang dulu sulit untuk bangkit dan sudah pasrah dengan keadaannya, menjadi bersemangat sejak rajin didatangi dan diajak mengobrol seorang anggota MOW. Ia jadi rajin mengikuti terapi dan penobatannya, dan kini temannya itu bahkan sudah menjadi relawan juga.

Ketika saya tanya nama kawannya itu, Pete berkata sambil tertawa:

“ Her name is Jenny… Just call her Jenny.”